13- Melodi Pagi

3 0 0
                                        

"INI minumnya." Mei terkesiap saat mendengar perintah yang terdengar sangat lembut itu, sangat lembut untuk seorang Revan. Mei dengan segera meneguk air itu, Revan dengan teletan membantunya minum.

Keduanya kembali hening. Tadi saat Revan melangkahkan kakinya dengan berat meninggalkan pintu ruangan itu, ujung matanya yang sempat melihat pergerakan Mei membuat ia kembali memutar langkahnya dan berlari secepat yang ia bisa memasuki ruangan bercat putih itu tanpa ragu.

Hampir saja. Hampir saja gelas kaca itu terjatuh jika Revan tidak segera meraihnya. Semua terjadi dengan sendirinya. Kaki Revan bergerak dengam sendirinya ketika melihat mata gadis itu terpejam menahan sakit namun tetap memaksakan tubuhnya bergerak untuk mengambil minum di atas nakas.

Mei kaget sekaligus tidak percaya melihat sosok itu berdiri di sampingnya bahkan membantunya untuk minum beberapa saat lalu.

"Kenapa dia ninggalin lo sendiri?" Hening sesaat, Mei masih berusaha untuk mencerna apa yang saat ini sedang terjadi.

"Eh, hem bang Langit ada kelas sore."

Keduanya kembali terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Mei malu Revan datang ke sini untuk menjenguknya. Menjenguknya? Bahkan Mei ragu dengan kata itu. Mei malu hanya bisa terbaring lemah di hadapan Revan. Ia tak ingin dikasihani. Berbeda dengan Mei, Saat ini Revan justru sedang menahan gejolak di hatinya. Ia bingung sekaligus salah tingkah, bahkan mati gaya. Ia merindukan gadis manis ini.

"Mei membasahi bibrinya sebelum angkat bicara. "Jadi, yang dari tadi di depan pintu itu kak Epan?" Revan terkesiap, ternyata Mei melihatnya.

"Kenapa tadi nggak masuk?" Tanya Mei lagi.

Revan menggeleng. Tidak apa-apa.

"Kak Epan ke sini jenguk Me—eh kakak lagi jenguk teman yang sakit di sini juga, ya? Atau saudara? Eh bukan kak Epan yang lagi sakit, kan?" Mei terdengar khawatir di akhir kalimatnya.

"Gue jenguk lo." kalimat singkat itu mampu menimbulkan binar di mata Mei.

"Gue takut lo gila karena dipermalukan kemaren." Baru saja Mei rasa di terbangkan ke langit kini ia kembali terhempas ke bumi. Memang harapan yang membuat kecewa itu semakin dalam.

"Gue minta maaf," Revan menjeda kalimatnya. "Lo nggak perlu sakit-sakitan begini buat caper." Revan mengepalkan tangannya kesal, ia tidak ingin mengatakan itu.

Mei tersenyum tipis, ia menganggukkan kepalanya pelan. Entah apa arti anggukan itu. "Terima kasih udah sempatin jenguk, kak."

Skip

Revan mengacak-acak isi lacinya hingga membuat beberapa surat dan coklat berjatuhan dari lacinya. Revan tidak mencari semua itu, ia sedang mencari kotak persegi panjang. Terhitung sudah lima hari sejak gadis itu dikabarkan sakit, tidak ada lagi nasi goreng itu.

Semenjak Revan menjenguk Mei dan menyampaikan maafnya. Revan tak pernah lagi mendengar kabar tentang gadis itu.

Apa jangan-jangan dede Memes uda nggak cinta lagi sama kak Epan, ya.

Revan kembali teringat dengan ucapan Reza beberapa hari lalu. Apa gadis itu benar-benar sudah melupakannya? Kenapa rasanya Revan tidak siap kehilangannya?

"Lo kenapa?" Regan kesal dengan tingkah Revan yang menyebalkan beberapa hari belakangan. Ia tidak bisa fokus membaca bukunya.

"Resah hati ini tanpanya...memikirkan dia..."

Nyanyian sekaligus sindiran itu berasal dari kursi belakang, siapa lagi kalau bukan Reza.

"Selalu tentang dia yang memberikan indahnya cinta untukku miliki...meng—"

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang