17- Melodi Pagi

2 0 0
                                        

SEKOLAH sudah sepi. Siswa-siswi yang menunggu jemputan pun berangsur pulang. Kini hanya ada Mei dengan wajahnya yang memucat. Langit baru saja menelpon bahwa ia ada kelas tambahan. Langit pun memesankan taksi online untuk menjemput Mei. Sembari menunggu kedatangan taksi, Mei duduk di halte bus. Tubuhnya lemas.

"Sa-kit..." Lirih Mei sembari menekan dadanya kuat. Berharap itu bisa menyamarkan rasa sakitnya. Napasnya tak beraturan. Pandangan Mei mengabur. Ia bisa melihat sesuatu baru saja berhenti di hadapannya.

"Mei, kenapa?"

"Ka-kak, Mei boleh minta minum?" Tanpa butuh ditanya dua kali Reza segera berlari mencari siapapun yang jual air mineral di dekat mereka.

Reza kembali melihat obat-obatan itu. Reza kembali melihat bagaimana Mei menahan nyeri di dadanya.

Setelah ia rasa Mei mulai tenang. Reza kembali membuka suaranya.

"Mei, sebenarnya Mei kenapa?" Reza mengusap peluh yang mengucur di dahi Mei.

"Em Mei, Mei cuma nggak enak badan aja, kok. Tadi siang Mei lupa minum obat terus waktu mau minum obat ternyata air minum Mei habis. Tapi sekarang Mei udah nggak papa, kok."

"Jujur sama kak Reza, Mei kenapa? Kenapa Mei selalu megang dadanya kalau lagi sakit?" Reza tak lagi menggunakan embel-embel Aa' seperti biasanya. Ia benar-benar khawatir saat ini.

"Mei beneran nggak apa-apa." Cicit Mei menundukkan pandanganya dengan tangan bertaut di pangkuannya.

"Mei? Kak Reza khawatir. Nggak cuma sekali kakak lihat Mei sesak dan harus minum obat saat itu juga, nggak sekali juga kakak lihat banyaknya macam obat yang selalu Mei minum, di rawat berhari-hari di rumah sakit, kak Reza nggak bisa tutup mata lagi."

Reza menghela napas. "Baik, kalau Mei nggak mau kak Reza tahu—"

"Jangan kasih tahu siapapun." Mei berkata dengan cepat, masih dengan kepala tertunduk.

"Kak Reza harus janji. Kak Reza nggak boleh kasih tahu kak Epan, Saskia, Putri, atau siapapun. Mei nggak mau mereka khawatir, Mei...Mei nggak mau dikasihani."

"Tapi Mei—"

"Kak Reza harus janji. Kak Reza juga harus bersikap biasa aja sama Mei setelah ini."

Skip

Setelah mengantarkan Mei pulang, Reza langsung memutar arah untuk kembali ke rumahnya berganti baju sebelum ia menyusul teman-temannya yang sedang berkumpul di rumah Riko. Namun, sesampainya di rumah, suara teriakan dan pecahan beling yang menyambutnya.

"AKU UDAH MUAK SAMA KAMU! BERAPA KALI AKU BILANG, KAMU BEBAS SELINGKUH TAPI JANGAN DI RUMAHKU!"

"PERSETAN DENGAN RUMAHMU! SEBENTAR LAGI KITA JUGA AKAN BERCERAI. JANGAN MENGATUR HIDUPKU!"

Reza mendengar percekcokan dari dalam kamar orang tuanya. Orang tua? Bahkan rasanya kata itu tak lagi pantas untuk keduanya. Keduanya bertengkar. Lagi.

Reza memejamkan matanya ketika mendengar pintu yang dibanting keras. Beberapa saat kemudian ia bisa melihat mamanya yang menyeret koper ke luar.

"Ma..." Gumam Reza bergetar.

Tak mengacuhkan Reza, mamanya melewatinya begitu saja.

Tubuh Reza merosot. Kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia lelah, lelah akan nasibnya yang begitu malang. Tangannya menggapai serpihan beling yang berada di lantai. Menggenggamnya erat berharap itu bisa menyalurkan rasa sakit batinnya selama ini.

Darah segar mengalir dari sela-sela jarinya. Reza tak lagi merasakan sakit, tubuhnya seakan mati rasa.

Ia mendongak ketika menyadari kedatangan papanya. "Kami sudah menandatangani surat perceraian, putuskan kamu akan tinggal bersama siapa."

"Obati lukamu, papa harus ke kantor."

"AARGH!" Reza menyugar rambutnya kasar. Ia melangkahkan kaki menuju kamarnya, membuka laci paling bawah yang terletak di samping tempat tidurnya. Ia butuh minum sekarang.

Reza sudah menandaskan tiga botol, tubuhnya tergeletak di samping kasur. Ia kembali meraih botol ke empatnya, baru saja ia hendak meneguknya, suara dering gawai mengintrupsinya.

"Ck!" Ia berdecak kesal, merasa ketenangannya terganggu.

"Whats up, bro! Nggak ke sini, lo?" Suara Riko menyapa di seberang sana.

"..."

"Woi, Za. Diem bae—"

"Berisik!"

"Za, lo mabok?"

"Lo kenapa?"

"Za, jawab!"

Reza terkekeh. "Mereka cerai. Dua orang bodoh itu akhirnya cerai."

Skip

"Za, udah! Lambung lo bisa meledak kalau gini caranya." Riko khawatir. Temannya itu sudah seperti mayat hidup saja.

Revan yang geram pun langsung merebut botol itu dari tangan Reza. "Lo udah habisin lima botol sendiri."

"Bha-likin." Reza berusaha meraih botol yang di pegang Revan, namun tubuhnya terlalu lemas untuk beranjak. Melihat itu, Riko, Revan, dan Regan baru menyadari tangan Reza yang ternyata di penuhi darah segar.

"Lo gila! Ko, telpon dokter."

Skip

Babye, World!

1. Mencari tahu tentang fakta di balik musibah yang menimpa kak Tasya.

2. Memperaiki hubungan persahabatan kak Epan dan kak Bela (biar kak Epan nggak anggap cewek egois lagi).

3. Minta adek sama daddy dan mommy.

4.

Mei berhenti menulis sejenak. Ia mengetuk dagunya dengan ujung pena yang ia gunakan. Menyeruput kopi yang tadi dibuatkan bi Ira yang diam-diam Mei selalu menambahkan gula, Mei suka kopi, tapi tidak kopi pahit. Ada satu hal yang sangat ingin Mei rasakan sebelum pergi.

Jadian sama kak Epan.

Mei selesai. Ia tak ingin menulis lebih banyak lagi, takut nantinya ia tak memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Namun, ia tak kunjung menutup bukunya. Ia ragu dengan keinginannya yang terakhir, meski ia sangat ingin hal itu terjadi. Jika nantinya ia menjadi pacar Revan, lalu saat ia pergi, bukankah Revan akan sedih? Lebih baik jika Revan tak pernah mencintainya. Ya, itu lebih baik.

Mei mencoret tulisannya sebelumnya menggantinya dengan yang baru.

Jalan seharian bareng kak Epan.

Selesai. Mei mengangkat kertas origami berwarna merah pink itu dengan bangga.

"Mei, bang Langit udah di depan." Panggilan dari mommynya membuat Mei segera menyeruput kopinya hingga tandas, melipat kertas origami itu, lalu memasukkannya ke dalam saku seragamnya.

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang