23- Melodi Pagi

1 0 0
                                        

"IKUT gue."

"Hah?"

"Masuk!"

Mei bergeming, ia masih belum sepenuhnya sadar.

"Kak Revan ngajak Mei pulang bareng?" Tanya Mei dengan tatapan polosnya.

"Hm, muter-muter bentar."

"Kak Revan mau ngajak Mei jalan-jalan?" Tanya Mei antusias.

"Gue bilang muter-muter bukan jalan-jalan." Setelahnya Revan segera memasuki mobilnya.

Mei mencebik kesal. Bodoamat. Mei anggap ini date kedua mereka. Ia segera menyusul Revan untuk memasuki mobilnya.

"Kalau muter-muter nanti pusing, dong." Sahut Mei setelah duduk nyaman di mobil Revan.

Revan tersenyum geli. "Ke taman hiburan mau?" Tanya Revan yang diangguki Mei dengan semangat.

"Mau! Mau!"

Revan mengangguk, segera melajukan mobilnya.

"Jangan kepedean. Gue lakuin ini sebagai ucapan terima kasih aja, karena lo udah bikin kesalahpahaman antara gue dan Bella terungkap."

Mei tersenyum kecut. Seharusnya memang ia tidak boleh menaruh harap. Tapi tidak apa-apa, Mei tetap akan menikmati waktunya bersama Revan.

Sejak memasuki taman hiburan, senyum Mei tak luntur barang sedetik pun. Ia mengajak Revan menaiki semua wahana. Mulai dari yang mengguncang jiwa sampai mabuk kebayang hingga memancing ikan mainan pun tak terlewati. Revan pun hanya menuruti tanpa protes.

"Kak Revan, yang itu tuh yang lucu kak ih gemes banget. Pokoknya harus dapat!" Mei tak sabaran menggoyang-goyangkan tangan Revan. Hal itu justru membuat ujung magnet yang hampir saja bertemu dengan magnet mulut ikan itu tidak jadi saling tarik.

Revan menggeram kesal. Sudah hampir setengah jam keranjang mereka baru berisi dua ekor ikan, satu yang di dapat Revan dengan jerih payah dan satunya lagi hasil kecurangan Mei yang mengambil langsung ikan tersebut dengan tangannya.

Byur! Byur!

Mei mengobok-obok air kolam itu agar ikannya mendekat. Bukannya semakin dekat, ikan incaran Mei malah berenang semakin jauh.

"Dek, jangan diobok-obok nanti airnya jadi keruh." Tegur abang si pemilik stan.

Mei mencebik kesal. "Tangan Mei bersih tahu." Ucapnya pelan sedangkan abang itu hanya bisa geleng-geleng melihat dua sejoli yang memakai seragam putih abu itu. Udah pakai seragam SMA kok main pancing ikan mainan, tapi nggak apa-apa deh yang penting duit masuk.

Revan salah fokus dengan tingkah Mei. Mengapa setiap ekspresi gadis itu menggemaskan?

Tap! Mata Mei membelalak tak terima saat anak laki-laki yang berada di seberang kolam seluas satu meter itu mendapatkan ikan incarannya.

"Wlek!"

Napas Mei naik turun. Telinganya bahkan sudah mengeluarkan asap. Anak kecil itu menjulurkan lidahnya mengejek. Tak ingin kalah Mei memamerkan dua ikan lucu hasil tangkapannya dengan Revan sambil balas menjulurkan lidah. "Wlekkk!"

Anak kecil itu tersenyum miring yang seketika membuat Mei was-was sendiri. Anak itu meletakkan pancingannya terlebih dahulu, lalu mengangkat keranjang yang terisi penuh dengan ikan tangkapannya. Ia itu bahkan mengacungkan jembol terbalik kepada Mei. Cemen!

Mata Mei memanas. Ia dikalahkan oleh bocah ingusan! Melihat itu Revan terkekeh geli.

"Kak Revan..." Panggil Mei pelan dengan suara seraknya. Ia menarik ujung seragam Revan.

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang