BAGAI luka yang ditetesi jeruk nipis. Perih sekali rasanya. Mei sudah sangat berusaha melupakan rasa sakit itu. Mei berdiri bersandar di balik pohon beringin yang berada di belakang sekolahnya, ia membekap mulutnya agar isakan itu tidak keluar. Tubuh Mei yang sudah lemas merosot hingga terduduk dengan lutut dilipat, ia memeluk tubuhnya, membenamkan kepalanya, menangis tanpa suara.
Mei tumbuh dengan keluarga yang penuh dengan kasih sayang, tak sekali pun Mei pernah di bentak apalagi dipermalukan seperti tadi. Mendapat cacian dari orang yang sangat ia cintai, dianggap rendah bahkan tak punya harga diri, dipermalukan di khalayak ramai. Mei memutuskan untuk tidak masuk kelas. Menangis tersedu bersama hembusan angin yang menerbangkan helaian rambutnya. Merasa lelah setelah berjam-jam menangis, Mei mengangkat kepalanya, membuka matanya yang terasa berat karena bengkak. Mei mengusap air mata dan ingusnya menggunakan ujung seragamnya. Mei menoleh ketika menyadari bahwa ia tak sendiri.
Mei menahan napas, sejak kapan ada orang di sini? Kenapa Mei tidak menyadarinya? Jangan sampai orang itu mengetahui bahwa Mei sedang menangis.
"Udah nangisnya?" Tanyanya yang Mei jawab dengan anggukan. "Dasar cengeng!"
"Ngumpetnya pinter banget sih, punya badan mungil, nangis di balik pohon beringin, kirain hantu, eh ternyata adik kecil abang yang nggak gede-gede ini." Ucap Langit sembari melayangkan cubitan gemas di hidung adiknya yang memerah.
Langit sebenarnya sudah datang sedari tadi saat teman adiknya itu mengabari bahwa Mei tidak ditemukan di kelas. Ia sengaja tidak menegur Mei, membiarkan adik kecilnya untuk menangis sepuasnya.
Di dalam mobil, tidak ada yang membuka suara, Langit melirik Mei yang duduk di kursi penumpang. Setelah ia rasa Mei sudah cukup tenang, Langit membuka suara.
"Dia ngapain lagi?" Tanya Langit sarkasme.
"Nggak ngapa-ngapan, kok." Jawab Mei tidak ingin menjelaskan.
"Mei."
Mei hanya menggeleng dan membuang pandangannya ke luar jendela.
Langit menghela napas, "Abang harus ngasih tahu ke mommy dan daddy alasan kenapa Mei telat pulang. Kalau Mei nggak ngomong apa yang sebenarnya terjadi, abang bakal minta daddy untuk pindahin Mei ke luar negeri sekaligus menjalani pengobatan seperti sebagaimana yang seharusnya terjadi."
Pertama kali mengetahui penyakit yang menggerogoti tubuh Mei, Bryan berniat ingin memebawa Mei ke luar negeri untuk menjalani pengobatan. Namun, rencana itu tentu saja ditolak Mei dengan tegas.
"Abang...Mei nggak mau ke luar negeri." Rengek Mei.
"Jadi?"
Mei menunduk. "Mei hanya ditolak, lagi." Mei tidak ingin menjelaskan lebih lanjut.
Langit menghela napas lelah. "Kenapa harus dia, Mei?"
"Lupain dia."
Terang berganti senja, 40 detik yang menenangkan, malam kian naik, namun luka itu tak beranjak, duka itu masih menjejak. Sesampainya di rumah, Mei masih saja memikirkan perkataan Langit yang membuat kepalanya kian berdenyut pusing. Kakinya tak lagi mampu menopang badan, pandangannya mengabur, cahaya berganti gelap, ia terjatuh di samping tempat tidurnya.
Skip
Di rumah Riko seperti biasanya, Revan dan teman-temannya berkumpul. Rumah Riko memang menjadi tempat yang nyaman. Bunda Lia juga selalu memberikan mereka perhatian tanpa pilih kasih. Selain karena itu, alasan mereka berkumpul di rumah Riko juga karena lebih tenang. Mari sekilas mengenal keluarga Revan dan teman-temannya.
Rumah Reza berisik. Pertikaian yang terjadi setiap harinya membuat Reza tak lagi nyaman jika berada di rumahnya. Entah siapa yang salah, bahkan kedua orang tuanya hendak bercerai dalam waktu dekat. Lalu si dingin Regan, kedua orang tuanya utuh dan akur, hanya saja Regan selalu dituntut untuk belajar dan belajar. Tentu saja rumah Regan bukan pilihan yang tepat untuk mereka berkumpul bermain. Meski kedua orang tuanya masih utuh, Regan jarang mendapat perhatian. Orang tua Regan termasuk tipe orang tua yang workaholic. Selanjutnya Rion, mereka pernah beberapa kali berkumpul di rumah Rion, itupun dikarenakan mereka sedang membesuk ibu Rion yang tengah sakit. Hal itu jugalah yang menyebabkan Rion jarang nimbrung jika mereka sedang berkumpul. Dan terakhir, rumah Revan. Bukan karena berisik pun bukan karena orang tua yang posesif, melainkan rumah Revan terlampau sepi untuk mereka yang butuh perhatian.
Revan mengetukkan jarinya di atas paha, menghela napas berkali-kali, hatinya gusar. "Ck! Sialan!" Umpatan Revan mengagetkan Riko yang sedang minum hingga tersedak. Reza menatapnya bingung.
"Lo salah." Seolah sudah mengetahui penyebab tingkah aneh Revan. Pasang mata yang semula tertuju pada Revan, kini beralih pada Regan yang tampak sedang...membaca. Ck! Di mana-mana ia selalu memegang buku.
"Nggak seharusnya lo ngomong sampah kayak tadi." Lanjut Regan tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca. Ucapan Regan membuat Reza dan Riko paham penyebab kegusaran Revan.
"Hak lo untuk marah tapi nggak gitu caranya.
"Gue nggak mau dia berharap lebih kalau gue terus diam dan baikin dia."
"Gue setuju sama Regan." Reza angkat bicara. "Kalau lo mau tegasin biar Mei berhenti itu boleh aja, tapi bukan berarti dengan mempermalukan dia di depan umum kayak tadi."
"Betul. Dia itu cewek, nggak bisa nanggapin dia cuma dengan logika lo aja." Sahut Riko.
Revan menggeleng tegas, tatapannya menajam. "Egois! Perempuan cuma makhluk egois yang lemah!"
Semua terdiam. Seolah mengerti ke mana arah pembicaraan berbelok saat ini.
"Bella nggak salah." Regan berdiri dari duduknya dengan baku tangan yang terkepal erat. Masalah ini, hanya Regan yang berani membahasnya. "Berapa kali gue harus bilang, Bella juga nggak bisa ngelakuin apa-apa saat itu." Baik Revan maupun Regan memang sensitif dengan pembahasan itu. Regan yang tak ingin sampai lepas kendali, ia langsung mengambil kunci mobilnya di atas meja.
"Gue cabut."
Bella merupakan salah satu siswi Giorgino. Semuanya berubah sejak lima bulan lalu, tepatnya saat mereka masih duduk di kelas XI.
Skip
Gelap berganti terang. Matahari terbit membentuk garis cakrawala membuat warna jingga memancar indah, menerobos sela-sela dedauan, menyusup pentilasi jendela. Gadis itu masih di sana, gadis itu masih terbaring tak bergerak di lantai yang dingin. Tak ada yang mengetahui kondisi Mei, sampai saat pagi tiba, Bi Ira yang berniat membangunkan Mei terkejut mendapati Mei yang tergeletak tak berdaya.
"Tuan! Nyonya!" Teriakan itu menggema di rumah megah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Novela JuvenilSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
