"AYO masuk." Ajak Wanita dengan jas dokter itu. Wajahnya mirip sekali dengan Mei. Ia mengikuti langkah Wanita itu ke dalam ruangan.
"Dad, boleh ya? Cuma di taman rumah sakit aja, kok. Mei mau lihat bintang."
"Mei, ini sudah malam. Besok pagi aja, ya."
"Ihh daddy gimana, sih. Pagi-pagi mana ada bintang." Mei memberengut kesal.
"Yaudah kalau mau ke luar. Mei pasti bosan, biar ditemani Revan, Revan ke sini tiap hari tapi nggak pernah masuk." Ucap Nica dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya, tipikal Mei sekali.
Revan tertegun, jadi...Wanita berjas dokter ini mama Nica? Dan...ia mengenal Revan? Bahkan mengetahui bahwa Revan ke sini setiap hari?
Atensi Mei yang semula pada daddynya kini beralih pada sang mommy dan sosok jangkung di sebelahnya. Penampilannya...sedikit kacau. Tapi itu tidak memudarkan ketampanannya. Dan...apa kata mommynya tadi? Revan ke sini? setiap hari?
"Kak Epan ke sini lagi?" Tanya Mei yang seketika berbinar.
"Katanya mau lihat bintang, ayo daddy temani." Bryan yang menyadari sosok yang telah menyakiti anaknya itu ada di ruangan itu, ia mencoba kembali mengambil atensi Mei.
"Kamu baru pulang kerja, sayang. Biar Mei ditemani Revan, nggak apa-apa kan Revan?" Revan yang ditanya seperti itu hanya mengangguk pelan, masih mencoba memahami situasi saat ini.
Revan yang berniat membantu Nica untuk memindahkan Mei ke kursi roda terintrupsi ketika tubuhnya di geser oleh sosok laki-laki yang ia ketahui adalah ayahnya Mei.
"Kalau Putri kami kenapa-napa, nyawa kamu yang akan menjadi jaminannya." Revan sedikit merasa bahwa ayah Mei kurang suka dengan kehadirannya. Tapi, Revan maklum, mungkin ia khawatir akan putrinya.
"Saya akan jaga Mei dengan baik, om."
"Mei harus udah di kamar sebelum jam Sembilan." Ucapan itu diangguki oleh Revan kemudian mulai mendorong kursi roda Mei.
Mei dan Revan duduk bersebelahan di bangku taman rumah sakit.
"Kak Epan udan makan?" Revan tidak langsung menjawab pertanyaan itu, ia memandang setip inci dari wajah Mei, meski sedikit pusat, wajah itu tetap terlihat manis. Revan mengangguk.
"Kak Epan udah minum?" Lagi-lagi Mei bertanya. Kali ini Revan jawab dengan gelengan.
"Loh kenapa? Mei belikan minum dulu, ya." Baru saja Mei ingin berdiri tapi segera Revan cegah. Tubuh Mei masih sangat lemah.
"Gue nggak haus."
"Eum." Mei bergumam pelan, bingung harus menanyakan apa lagi.
"Kak Epan udah mandi?" Revan mengangguk.
"Udah gosok gigi?" Revan mengangguk.
"Udah sholat?" Revan mengangguk.
"Udah belajar?" Revan mengangguk.
"Kak Epan udah em udah..." Kali ini Mei sedikit ragu untuk melontarkan pertanyaannya. Padahal pertanyaan yang satu ini sudah tak terhitung ia ulang setiap harinya pada Revan. Satu minggu di rumah sakit ternyata mengembalikan urat malu Mei.
"KakEpanudahcintaMei?" Mei menyelesaikan pertanyaan itu dengan cepat. Sakin cepatnya butuh waktu bagi Revan untuk mencernanya. Mei memalingkan wajahnya, menatap apapun asal tidak wajah tampan Revan.
"Belum."
Satu kata itu sontak membuat Mei memutar lehernya 180 derajat ke arah Revan. Belum itu artinya ada kemungkinan untuk menjadi cintakan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Teen FictionSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
