SUARA tangis terdengar menggema di sepanjang koridor rumah sakit itu. Bryan memeluk istrinya berusah menenangkan. Saskia dan Putri yang baru mengetahui tentang Mei yang di rawat di rumah sakit pun juga berada di sana bersama Reza. Mereka kira Mei hanya tipes seperti sebelum-sebelumnya, tapi keadaan Mei yang tiba-tiba drop dan harus dipindahkan ke ruangan ICU menyadarkan mereka bahwa selama ini penyakit Mei tidak pernah sesederhana itu. Reza tidak tahu bagaimana cara menenangkan Putri dan Saskia, ia sama khawatirnya.
Mereka bertiga memang datang bersama setelah pulang sekolah. Reza awalnya mengira Putri dan Saskia sudah mengetahui tentang peyakit Mei. Tapi melihat keterkejutan mereka saat Mei drop tadi, pasti sulit bagi mereka untuk percaya. Sebelumnya Mei megobrol seperti biasanya, bahkan senyum manis itu masih setia terukir di wajahnya, namun tiba-tiba Mei kembali merasakan nyeri di dadanya, meremas kepalanya, kemudian terbatuk yang mengeluarkan cairan merah itu.
Reza memejamkan matanya dengan tubuh yang bersandar ke dinding. Ia menggenggam kertas origami berwarna pink itu di tangannya, ya dia selalu membawa kertas itu ke mana pun dia pergi. Ada dua keinginan lagi, dua keinginan Mei yang belum terwujud. Reza sudah menganggap Mei seperti adiknya sendiri, ia sungguh-sungguh ingin Mei untuk hidup lebih lama.
"Mei, kakak mohon bertahan."
Skip
Setelah mengantarkan Tasya, Revan melajukan mobilnya menuju basecamp lima R, rumah Riko. Ia mengernyit heran saat hanya mendapati mobil Regan yang terparkir di sana.
"Kok sepi banget?" Ia bertanya begitu memasuki kamar Riko.
"Tuh." Riko menunjuk Regan yang sedang berpacaran dengan buku tebalnya.
"Yang lain mana?"
"Rion lagi jaga Ibu di rumah sakit."
"Reza?"
Riko mengangkat bahunya tak acuh. "Dia nggak ada kabar, belakangan di ajak ngumpul juga selalu bilang malas. Lo ada masalah sama Reza?"
"Gue?" Revan bertanya bingung. Kemudian ia menggeleng.
Riko menghela napas. "Apa Reza beneran suka sama dede Memes, ya? Tapi, bukannya dia demennya Putri? Ah bingung gue." Gumamnya pelan.
"Kalian jangan berantem cuma gara-gara cewek."
Revan berdecak. "Nggak ada yang berantem." Benarkan? Revan merasa tidak memiliki masalah apapun dengan Reza, ia juga tidak mengerti kenapa Reza selalu bersikap sinis kepadanya.
Revan berbaring di karpet bulu di sebelah Riko yang sedang bermain PS.
"Lo beneran nggak punya rasa apa-apa sama dede Memes?"
Revan yang baru saja hendak memejamkan matanya kembali membuka matanya mendengar pertanyaan yang dilontarkan Riko.
"Nggak tahu."
"Gimana sih, lo? Masa perasaan sendiri nggak tahu."
Revan hanya diam.
"Lo merasa deg-degan kayak lo nembak Tasya dulu nggak saat di dekat Mei?"
"Iya." Jawaban singkat Revan sontak membuat Riko tidak lagi fokus dengan permainannya.
"Berarti lo suka dong, sama dede Memes!" Sahutnya yang kini telah merubah arah duduknya memandang Revan di sebelahnya.
"Nggak tahu."
"Ck! Lo itu suka, Van. Cuma denial aja!"
"Mungkin."
"Terus sekarang lo mau apa?"
Bukannya menjawab, Revan malah balik bertanya. "Apa?"
Riko mengacak rambutnya frustasi. Ini temannya yang jatuh cinta kok dia yang dibuat pusing, ya.
"Lo suka sama dede Memes, nah orang suka itu harus apa?" Riko berusaha sabar menghadapi Revan.
"Gue nggak bilang gue suka."
"LO TADI BILANG MUNGKIN VAN MUNGKIN! ITU ARTINYA LO ADA RASA, KALAU ADA RASA ARTINYA LO SUKA!" Riko mengarang frustasi.
"Berisik!"
Riko seketika membekap mulutnya, ia lupa ada Regan si kutu buku di sana.
"Orang kalau suka itu ya ditembak, masa mau nunggu dede Memes lagi yang nembak? Malu, dong!" Riko kali ini berucap dengan berbisik. Ia tidak ingin dimakan macam hidup-hidup.
"Nanti."
"Nanti kapan lagi Revano Argantara." Riko gemas sendiri dengan sikap Revan.
"Kalau semisal Reza nembak Mei duluan gimana? Yakin lo nggak bakal nyesal?"
Perkataan Riko kali ini sukses membuat Revan terduduk. Ia menatap tajam Riko yang sedang tersenyum menyebalkan.
"Mei nggak suka sama Reza."
"Kenapa nggak suka?" Riko kembali bertanya dengan senyum yang semakin menjengkelkan di mata Revan.
"Karena...karena—"
"Karena dede Memes suka sama lo?"
Revan menoleh.
"Lo yakin Mei masih suka sama lo sedangkan lo sendiri selalu nolak Mei dan bahkan nggak peduliin dia. Di saat seperti itu justru Reza yang selalu ada buat Mei. Hati manusia bisa berubah kapan aja." Riko tersenyum puas, ia berhasil membuat wajah Revan pias. Ia tidak tahu apakah Reza benar menyukai Mei atau tidak, tapi ia yakin kalau selama ini Reza memperlakukan Mei itu sama dengan dia yang menyayangi Mei sebagai seorang adik. Ia sengaja memanasi Revan agar laki-laki itu sadar akan perasaannya. Ia geram sendiri melihat Revan yang diam saja tanpa pergerakan sedikit pun.
Sedangkan, Revan kini sedang termenung. Mencerna baik-baik perkataan Riko. Apa dia tidak masalah jika nanti Reza, sahabatnya memacari Mei? Apa dia benar-benar tidak menyukai Mei? Bagaimana jika nantinya Mei menyukai orang lain? Apa Mei benar-benar akan berpaling darinya dan lebih memilih Reza? Membayangkan itu rasanya kepala Revan ingin pecah, ia teringat dengan pesan yang sebelumnya ia kirimkan pada gadis itu. Ia meraih gawainya yang berada di saku celananya, membuka nomor yang ia sematkan itu. Tidak ada balasan, jangankan balasan, bahkan pesan yang ia kirimkan masih centang satu.
Tanpa memerdulikan Riko lagi, Revan segera beranjak dari duduknya, mengambil kunci mobil yang sebelumnya ia lemparkan di atas meja di dekat sofa kemudian berlalu dari sana. Tujuannya satu, rumah Mei.
Revan memandang rumah megah itu, tidak seperti biasanya, rumah ini tampak sepi, bahkan di malam hari seperti ini hanya beberapa ruangan saja yang lampunya dinyalakan. Tak lama kemudian ia mendapati seseorang wanita paruh baya yang ia ketahui adalah pembantu di rumah besar ini. Ia keluar dengan membawa tas besar yang sepertinya berisi pakaian.
"Eh temannya Mei yang waktu itu pernah makan malam di sini, kan?" wanita paruh baya itu membuka suara.
Revan mengangguk cepat. "Saya Revan. Mei nya ada, bi?"
Wanita paruh baya itu tampak kikuk. "Nggak ada orang di rumah, nak Revan pulang saja sudah malam, saya permisi." Ia berucap dengan tergesa dan segera memasuki mobil yang sedari tadi terparkir di depan rumah itu.
Revan menghela napas, ia tidak bisa menemui Mei malam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Teen FictionSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
