MEI benar-benar kembali sekolah hari ini. Ia di antar oleh Langit seperti biasanya. Karena Revan masih harus mengejar restu Bryan untuk melakukan itu. Semua aktivitas Mei kembali seperti sedia kala. Rutinitasnya yang membuatkan nasi goreng untuk Revan pun tak terlupakan. Mei berjalan riang di koridor menuju kelas Revan, tak lupa senyum manis yang ia tampilkan setiap berpapasan dengan siswa lainnya.
Tok! Tok! Tok!
Mei mengetuk pintu kelas. Seisi kelas kaget karena Mei yang kembali tiba-tiba mengantar nasi goreng setelah kejadian di kantin beberapa waktu lalu. Lebih kaget lagi ketika melihat Revan yang tiba-tiba berdiri dengan mengembangkan senyum. Mei berjalan mendekati Revan, ia menyodorkan kotak bekal itu yang diterima oleh Revan dengan senang hati. Ia merindukan kotak ini.
"Makasih." Ucapnya sembari menepuk pelan kepala Mei. Siswa kelas XII MIPA 4 semakin tercengang dibuatnya.
Ketika jam istirahat, tak hanya teman kelas Revan yang kaget. Seantero Giorgino digemparkan oleh dua insan yang dulunya bak air dan minyak kini makan berdua di kantin. Sekali lagi, MAKAN BERDUA!
"Mei pakai pelet apa sih, kok bisa tiba-tiba Revan mau ditempelin dia."
"Dijampi-jampi kali."
"Tau tuh, nggak mungkin setelah kejadian waktu itu Revan bisa langsung berubah gitu aja."
Revan mendengar jelas segala nyinyiran yang ditujukan pada Mei itu. Ia melirik Mei yang sedang duduk anteng di sebelahnya, tampak tak terganggu sama sekali.
"Kenapa kita makan di warung mbak Ayu, sih?" Mei kesal. Ia sibuk menyumpahi Riko yang membuat mereka berakhir di sana.
"Makanan di sini terenak se-Asia dede Memes." Sahut Reza membuat Mei mendengus.
"Kak Reza dan kak Riko mata keranjang!" Cerca Mei membuat keduanya terkekeh. Memang tidak perlu diragukan lagi pesona sosok yang dipanggil mbak Ayu. Tapi Reza tidak berbohong, nasi goreng mbak Ayu memang terkenal dengan rasanya yang luar biasa enak. Bahkan konon katanya orang tua mbak Ayu yang dulu pertama kali jualan di Giorgino sejak zaman orang tua Mei masih sekolah di sini.
"Cowok zaman sekarang memang pada hidung belang, Mei." Putri yang memang ikut duduk di sana pun membuka suara.
Reza spontan berdiri tegak. Sebagai pemuda pembentuk generasi masa depan yang makmur tentu saja ia tidak terima. "Dek Putri kalimatnya harus dilengkapi 'semua cowok selain Aa' Reza' begitu."
"Enak aja!" Sahut Riko tak terima. "Yang bener itu, semua cowok yang diketuai oleh Reza Pradipta. Ya nggak mbak Ayu?" Riko meminta persetujuan mbak Ayu yang baru saja mengantarkan pesanan mereka, tak lupa kedipan menggoda yang ia tujukan pada mbak Ayu.
Perempuan yang lebih tua tiga tahun di atas mereka itu mendengus kasar. "Semua cowok sama aja." Ucapnya lalu melenggokkan pantatnya kanan kiri sembari berlalu dari sana.
"Ternyata enakan nasi goreng, Mei." Ucap Revan setelah memasukkan satu suap nasi goreng mbak Ayu yang viral itu ke mulutnya.
Mei yang awalnya masih mengomel tak jelas mendadak terdiam seribu bahasa. Pipinya memanas, ia tersipu menundukkan kepalanya sedangkan yang lainnya heboh menggoda Mei.
Skip
Mei tersenyum senang sambil duduk di kursi koridor sambil mengayun-ayunkan kakinya. Langit ada kelas sore, itu artinya Langit tak bisa menjemputnya. Dengan segala rayuan mautnya, ia berhasil membujuk Bryan agar ia bisa pulang dengan Revan. Namun, bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 20 menit lalu, Revan tak kunjung menghampirinya. Masih dengan senyum andalannya, Mei dengan setia menunggu Revan. Ia membuka ponselnya berharap ada pesan dari Revan. Namun hasilnya sama saja seperti yang Mei temukan beberapa menit lalu. Tidak ada pesan apapun dari Revan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Pagi
Roman pour AdolescentsSeorang gadis periang yang selalu memberikan senyum termanisnya saat bertegur sapa dengan lesung di pipi kanannya. Memiliki sikap yang manja namun pantang menyerah. Sikapnya yang ramah dan ceria membuat orang-orang tersenyum saat di dekatnya, dan be...
