12- Melodi Pagi

3 0 0
                                        

KELAS XII MIPA 4 pagi ini sangat senyap. Bukan, bukan karena kelas kosong atau tak berpenghuni. Semuanya diam, hanya suara spidol yang beradu dengan papan tulis sesekali terdengar. Pagi ini adalah mata pelajaran Fisika, karena Bu Winda berhalangan hadir, maka jadilah Pak Syamsul selaku guru Kesiswaan yang kebetulan sedang piket menggantikan Bu Winda.

Siswa kelas XII MIPA 4 mematung menatap lurus ke papan tulis. Di depan sana terdapat Regan yang sedang mengerjakan beberapa soal yang membuat kepala mereka pusing hanya dengan melihatnya. Reza mengangkat pantatnya pelan berusaha untuk tidak bersuara. Namun, ternyata mata elang milik Pak Syamsul tidak dapat dibohongi barang sedetik.

"Kamu ngapain, Reza?" Pak Syamsul menodong Reza menggunakan pacarnya...ekhem maksudnya rotan sepanjang satu meter yang membuat badan Reza mematung.

"Keram, Pak." Jawab Reza sambil menahan napas.

"Iya nih, Pak. Jangan tegang-tegang amatlah." Sahut Riko yang entah mendapat keberanian dari mana.

Pak Syamsul melotot. "Ups Pak becanda." Riko membentuk tanda peace kemudian kembali menegakkan badannya.

"Kalau kalian tidak suka berada di kelas ini, silahkan keluar! Tapi ingat, absen berada di tangan saya." Ucap Pak Syamsul sambil memukulkan rotannya di atas meja Reza dan Rio yang menimbulkan suara bising.

Meskipun Reza dan Riko bukanlah murid teladan, mereka juga tidak berani membantah guru apalagi ini adalah Pak Syamsul.

Pelajaran kembali berlangsung, lima menit kemudian Regan menyelesaikan soal-soal mematikan itu. Kini terdengar suara Regan yang menjelaskan soal yang telah ia kerjakan satu-persatu. Entah hanya perasaan Riko, tapi ia merasa lebih mudah paham saat dijelaskan oleh Regan dibandikan Bu Winda yang sudah menyandang gelar megister itu. Sedangkan Reza yang berada di sampingnya, kini malah sibuk menendang kursi Revan yang berada di depannya. Memanfaatkan kelengahan Pak Syamsul yang sedang terpukau dengan kepintaran Regan.

"Psssst." Mendengar itu, Revan memundurkan kursinya tanpa menoleh untuk mendengar apa yang ingin dikatakan oleh Reza.

"Nasi goreng dede Memes mana?"

Revan mendengus kesal. Hanya demi menanyakan hal tidak penting Reza sampai nekat menantang maut seperti ini.

"Nggak ada."

Reza mendesah kecewa, biasanya ia dan Riko tidak perlu repot beli sarapan karena ada nasi goreng Mei yang super-duper lezat itu.

"Apa jangan-jangan dede Memes uda nggak cinta lagi sama kak Epan, ya." Gumam Reza menirukan panggilan Mei untuk Revan.

"Reza kenapa kamu tidak bisa diam? Pantat kamu bisulan?!"

Revan tak memperdulikan omelan Pak Syamsul terhadap Reza. Pikirannya berkelana jauh. Apa benar yang Reza katakan? Apa tidak akan ada nasi goreng pengganggu mulai hari? Apa ia kehilangan gadis manis itu? Ekhem...maksudnya argh! Kenapa ia mendadak gusar seperti ini?

Bukannya ini yang lo inginkan Revan?

Pikiran itu kembali menyadarkan Revan

Jangan membohongi perasaan lo sendiri. Apa lo merasa kehilangan sekarang?

Ya, hampa. Tanpa sadar hati kecil Revan mengiyakan bisikan itu.

"Keluar kamu sekarang!" Suara menggelegar Pak Syamsul kembali menyadarkan Revan. Reza berdiri dari duduknya, melewati meja Revan untuk menuju pintu kelas.

"Saya juga main-main, Pak. Jadi saya juga harus keluar." Revan bangkit dari duduknya.

"Kalian saya buat alpa!" Ucap Pak Syamsul. Revan hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu keluar kelas.

Melodi PagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang