POV PENGARANG
Monica hanya bisa pasrah saat Leon mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya dan menggendongnya masuk ke kamarnya.
"Aku mencintaimu, Monica! Teramat sangat." Ucapan yang keluar dari bibir Leon, bagai sebuah mantra sihir buat Monic.
Monic bagai kehilangan kesadaran. Dia hanya bisa menatap ke dalam manik mata Leon yang saat ini juga tengah intens menatapnya.
Namun didalam mata hitam kelam itu, Secara perlahan dan makin lama semakin cepat, Monica bisa melihat potongan-potongan ingatan yang random yang berkelebat didalam kepalanya. Ingatan dua orang yang berbeda dan tidak saling berhubungan.
Monica didera sakit kepala yang luar biasa. Dia merasa seluruh tubuhnya memanas lalu mengejang, dan secara tiba-tiba dia kehilangan semua tenaganya. Monica masih bisa mendengar teriakan Leon yang terus memanggil namanya namun dia tak punya kekuatan sedikitpun untuk mengeluarkan suara. Hingga suara Leon makin lama terdengar semakin menjauh. Dan kemudian menghilang, bersamaan dengan hilangnya kesadarannya.
********
Monica jatuh dalam kesunyian panjang yang tak berujung. Hanya ada kegelapan disekitarnya. Tak ada bedanya antara dia membuka mata ataupun memejamkan mata. Semuanya tampak sama. Gelap pekat, tanpa ada setitik cahaya sedikitpun.
Monica hanya bisa pasrah akan apa yang bakal menimpanya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk memilih memejamkan mata dan mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat berat dan penat. Dia merasa sangat lelah. Hingga diapun jatuh tertidur.
Tanpa Monic sadari, Dirinya telah terseret begitu jauh menjelajah ruang antar dimensi.
Detik demi detik berlalu, Monica akhirnya membuka mata kembali. Kali ini dia tidak dihadapkan pada kegelapan seperti tadi. Namun dia kini sudah berada disuatu tempat yang asing. Di satu titik yang dikelilingi oleh banyak pintu. Diapun langsung bangkit dan memandang semua pintu itu dengan wajah bingung.
Dia yakin, kalau salah satu pintu itu bakalan membawanya pulang. Dan pintu yang lainnya, akan membuatnya semakin tersesat jauh.
Monica tidak tahu diantara semua pintu itu, pintu manakah yang harus ia pilih.
Saat Monica berada dalam suatu kebimbangan untuk memilih, salah satu pintu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Dengan ragu dia memasuki pintu yang terbuka. Begitu pintu terlewati, Monica tiba di sebuah ruangan yang terasa sangat tak asing baginya.
Sebuah ruangan dengan dinding berwarna hijau muda, yang warnanyapun terlihat mulai memudar. Di dinding ruangan itu terpajang beberapa foto lawas yang anehnya sangat familiar buat Monica.
Ada sebuah ranjang kecil, dan sebuah lemari kayu berukir yang terlihat sudah kuno disisi yang berseberangan dengan jendela. Disalah satu sudut ruangan terdapat meja yang mungkin dimaksudkan sebagai meja makan melihat ada tudung saji dan teko air disana. Ada dua buah jendela kayu dengan cat warna putih, yang kayunyapun terlihat sudah lapuk dimakan usia.
Di dalam ruangan itu, Monica bisa melihat, ada orang lain selain dirinya.
Sosok yang duduk dekat jendela menghadap dua buah meja kayu dengan tatanan kertas yang berserakan disampingnya.
Sosok itu adalah seorang wanita muda dengan wajah yang samar. Wanita itu tengah bekerja dengan serius didepan sebuah laptop disalah satu meja dekat jendela. Wanita itu nampak kesusahan. Terkadang dia nampak mengetik sesuatu. Namun sejurus kemudian dia tampak terlihat frustasi dan mengacak rambutnya dengan kesal.
Sang wanita yang tak menyadari kehadiran Monica itu, berjalan mondar mandir dengan gelisah. Sambil mulutnya menggumamkan sesuatu yang tak jelas.
Monica merasa penasaran, sebenarnya apa yang diketikkan wanita itu, hingga wanita asing itu terlihat sangat gelisah. Dengan perlahan dia mulai mendekat untuk melihat layar laptop sang wanita.
Hanya ada dua kata dalam layar itu, PART 38. Dan selebihnya kosong. Padahal si wanita itu sejak tadi terlihat mengetikkan sesuatu yang panjang seperti sedang menulis cerita. Namun anehnya hanya kata itu yang ada dilayar.
Mungkinkah wanita itu adalah seorang penulis novel yang sedang kehabisan ide cerita, hingga dia terlihat sangat frustasi.
Angin berhembus dari luar jendela menerbangkan beberapa lembar kertas dari meja sang wanita. Kertas-kertas itu berhamburan dan jatuh di lantai.
Sebuah keinginan yang kuat mendorong Monica untuk melihat isi dalam kertas itu. Dengan perlahan Monica mendekati salah satu kertas yang jatuh dilantai. Kertas dengan tulisan tangan yang asal. Tangan Monica berusaha memungut kertas itu, namun kertas itu tertembus begitu saja oleh tangannya. Monica sangat terkejut.
'Apakah aku sekarang sudah mati? Apakah sekarang aku sudah menjadi hantu penasaran?' , itulah yang saat ini ada didalam pikiran Monica.
Monica merasa semakin pusing. Semakin dia berpikir semakin dia tak menemukan titik terang. Semuanya sangatlah aneh untuknya.
Akhirnya Monica memutuskan duduk bersimpuh dan mulai membaca kertas yang terjatuh dihadapannya. Mata Monica membelalak lebar, saking kagetnya dia.
"Tak mungkin!!" Ucapnya tak percaya.
Setelah selesai membaca satu kertas, dia beralih ke kertas lainnya. Wajahnya terlihat semakin shock.
Kepingan-kepingan ingatan, satu demi satu masuk ke pikiran Monica, setelah kata demi kata didalam kertas itu dibacanya. Wajah Monica terlihat shock berat. Kulitnya memucat, kedua tangannya yang gemetaran hebat saling ditautkan. Bibirnya bergetar.
Hanya dua kata yang keluar dari bibirnya berulang-ulang.
"Ini... Mustahil!! Ini Mustahil...!"
Ditatapnya dengan nanar sang wanita yang kini kembali berada didepan laptopnya. Wajah sang wanita makin lama, semakin terlihat sangat jelas dimatanya. Seorang gadis cantik berkacamata dengan rambut sebahu. Dia memiliki kulit yang putih pucat serta tahi lalat di pipi. Penampilannya sedikit berantakan.
Monica hampir saja berteriak keras, jika dia tak segera menutup mulutnya. Satu hal yang dia ingat saat ini adalah, jika Sang wanita asing itu ternyata adalah dirinya sendiri, Kayana Jovinson.
Dan pada akhirnya Monica menyadari satu kebenaran, yang membuat dunianya berputar-putar. Yaitu, fakta bahwa Monica yang menjadi identitas aslinya saat ini, hanyalah seorang tokoh antagonis di dalam novel.
Sang antagonis yang mempunyai akhir hidup yang tragis. Yaitu mati di tangan Leon Axella, sang tokoh utama pria dalam novel buatannya sendiri.
*********
Jangan lupa klik bintangnya yaa
🤗🤗🤗🤗🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Goodbye, Leon!!
FantasyAku??? Entahlah siapa aku? Dan darimana asalku? Aku tak punya sedikitpun ingatan tentang itu. Saat aku terbangun dari tidurku, semua memanggilku dengan nama Monica. Apakah itu memang identitasku sebenarnya? Aku sendiri merasa tak yakin akan hal itu...
