Radit mengantarnya sampai depan rumah, namun pria itu masih tak mau mampir. Padahal ia sangat ingin mengenalkan Radit pada keluarganya.
Jenn akui ia masih mencintai pria itu. Seperti kata Windy, ia tak akan melepaskan pria itu kali ini. Ia harus memperjuangkannya.
Mungkin benar apa kata Luthfi. Inilah takdirnya. Sejauh apapun kita berada, kita akan selalu di pertemukan dengan takdir kita. Ia akan serahkan semuanya pada Sang Kuasa.
***
Setelah Jenn memberitahu kematian Ikhsan pada Radit. Perlahan kedekatan mereka kembali terjalin. Kabar itu sampai di telinga Luthfi dan yang lain. Mereka turut bahagia.
Selama sebulan ini mereka sering bertemu di resto keluarga Jenn. Mereka menghabiskan waktu yang hilang selama dua tahun belakang. Namun, belum ada ungkapan yang terlontar antara keduanya. Mereka hanya menjalaninya sesuai alur.
" Jenn, gue seneng bisa Deket lagi sama Lo. Lo udah berubah sekarang. Lo udah dewasa dan tambah cantik.", Jenn tersipu.
Radit masih tetap Radit yang usil, jahil, dan tukang gombal. Tak berubah sejak dulu. Namun, akan berubah dingin saat bersama orang lain.
" Masih aja Lo. Gimana proyek baru Lo yang di Bandung?", Tanyanya.
" Lancar. Besok gue bakal ke Bandung buat taken kontrak. Seminggu mungkin.", Ucap Radit.
" Oh. Selamat.", Jawab Jenn singkat. Radit tersenyum sambil menyesap kopinya.
" Cuma seminggu, Jenn. Jangan sedih gitu dong. ", Godanya membuat Jenn mendelik.
" Siapa juga yang sedih. Pergi, pergi aja lagi. ", Ucap Jenn sewot.
" Yakin? Lo nggak bakal kangen sama gue?", Jenn menepis tangannya yang hampir mengelus rambutnya.
Jenn tak menjawab. Ia sibuk dengan ponselnya bertukar pesan dengan sang sahabat yang ada di Bandung sana. Pria itu tak mengerti dirinya sama sekali.
Ya. Jenn memang sedih harus berada jauh dengannya selama seminggu. Tapi, ia tak mau mengakuinya. Mana mungkin! Ia gengsi dong. Tapi, seminggu tak ada artinya baginya. Bahkan ia mampu menahan semuanya selama dua tahun.
" Yakin, Dit. Lo kok rese banget sih. Gue cuma pesen kalo udah sampe sana salam buat Nay. Oleh-oleh jangan lupa.", Ucapnya.
" Sebenarnya gue mau ngomong sesuatu sekarang, tapi, ntar aja deh kalo gue udah balik dari Bandung.", Jelas Radit membuat Jenn mengerutkan keningnya.
" Pulang, udah sore. ", Radit berdiri lebih dulu. Sungguh menyebalkan, pikirnya.
' kenapa dia jadi nyebelin gini sih. Awas aja Lo balik dari Bandung. Ga bakal gue nemuin lo.'
Jenn tak tau Radit sengaja mendiaminya. Dalam perjalanan pulang pun tak ada percakapan sedikitpun. Mereka sampai.
Saat Jenn akan turun, Radit menahan tangannya.
" Besok gue pergi pagi-pagi banget, jadi gue ga bisa nemuin Lo dulu. Jaga diri Lo selama gue ga ada. Belajar yang bener. Gue bakal sibuk disana jadi gue bakal jarang hubungin Lo."
Jenn mengerjapkan matanya berkali-kali. " Tunggu gue seminggu lagi. Kita ketemu di tempat biasa. Gue pergi."
Setelahnya, mobil hitam SUV itu meninggalkan rumahnya. Jenn seakan terhipnotis oleh tatapan dan suara Radit. Sampai ia tak menyadari suara klakson berbunyi dari lima menit yang lalu. Itu mobil papanya yang pulang dari kantor.
" Kamu kenapa sayang? Kok diem aja disini nggak masuk?", Tanya sang papa.
" Gapapa, pa. Jenn cuma kecapekan aja. Tumben baru nyampe?", Balasnya berbohong.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Power of Destiny 2
Teen FictionMeninggalkan kisah dua tahun lalu, yang mereka lalui dengan kebersamaan dan saling berbagi suka maupun duka. Kini mereka hidup terpisah dengan kesibukan masing-masing. Memulai hidup baru dengan meninggalkan kenangan lama. Kehilangan dan kesedihan t...