🎶Can you see my heart - Heize
.
.
🪐
Pembicaraan antara Jiera dan Jimin tidak berhenti begitu saja karena hujan tampak semakin deras. Mereka sama-sama tidak bisa dan tidak ingin pulang, justru membeli beberapa cup mie instan untuk di nikmati bersama.
Mereka kembali mengobrol, banyak sekali yang mereka bicarakan karena sudah lama juga tidak berbincang bersama.
"Ya, yang seperti kau tahu Ji, aku tidak bisa hidup tanpa musik." Jimin tampak menghela napas, namun ia kembali tersenyum saat melihat guratan kesedihan di wajah Jiera. "Tapi percuma, aku sudah mengakhiri kontrakku dengan agensi. Penggemarku juga sudah kecewa akan keputusanku yang tiba-tiba."
"Memulai dari awal lagi memangnya tidak bisa? Aku yakin banyak agensi yang mau menerimamu."
Jimin terkekeh. "Terlalu sulit, apalagi jika tidak ada kau di sisiku. Dulu saja jika tidak dengan dukunganmu aku sudah akan menyerah."
"Jimin, jangan mulai ..." Peringat Jiera agaknya tidak senang jika Jimin kembali membahas masa lalu seperti tadi.
"Iya, maaf." Jimin memalingkan wajahnya, memperhatikan jalanan malam dari dalam minimarket. Walaupun matanya sipit, Jimin tidak mungkin salah lihat sekarang ini. "Ji, bukannya itu Jungkook ya?"
Jiera mengikuti arah pandangan Jimin, melihat Jungkook yang ada di kedai soju tepat di depan minimarket tersebut. Pria yang duduk sendirian itu tampak meracau tidak jelas, membuat Jiera menghela napas.
Perangai Jungkook yang suka minum alkohol tidak jauh beda dengan Jimin, hanya saja kadar toleransi alkohol Jungkook itu lebih rendah dari Jimin. Lihatlah bagaimana pria itu seperti akan pingsan dengan sebotol alkohol di atas mejanya.
Jiera jadi bingung, haruskah ia menghampiri Jungkook dan membantunya? Jujur saja Jiera masih sakit hati atas perkataan Jungkook siang tadi.
"Jangan ragu, temu dia" Jimin menepuk bahu Jiera yang masih setia memandang Jungkook. "Kata orang, orang mabuk itu akan lebih mudah berbicara jujur. Bisa sajakan kalian berbaikan setelah ini?"
"Tidak yakin Jim, tadi saat tidak mabuk saja dia kasar sekali. Apalagi sekarang?"
"Mau aku temani?" Tawaran Jimin langsung di balas gelengan oleh Jiera. Jika Jungkook melihat Jimin bersama Jiera, bisa semakin runyam masalahnya. "Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu."
Setelah Jimin pergi, Jiera juga ikut bangkit berdiri. Membeli payung yang untungnya tersedia di mini market itu. Menyebrang jalan dan berdiri di depan Jungkook yang sudah mendongakkan kepalanya.
Tatapan tajam langsung pria itu berikan pada Jiera, tampak tidak senang dengan kehadiran wania itu. "Apa yang kau lakukan disini?! Tidak bisakah kau pergi saja? Kau sangat mengganggu asal kau tahu!"
"Kau mabuk Koo, ayo aku antar pulang."
"Aku bukan anak kecil yang harus kau hantar ke sana kemari! Pergilah Goo Jiera! Aku tidak suka melihatmu di hadapanku! Kau membuatku muak!!" Jungkook kembali menuangkan minuman beralkohol itu ke dalam gelas, meneguknya seolah itu adalah air mineral biasa.
"Kalau kau muak melihat wajahku kenapa kau ada di sini? Apartemen dan kantormu jauh dari sini." Jiera menahan lengan Jungkook yang hendak berdiri. "Kau mau pulang? Biar aku antarkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Light By You [End]
Fanfiction[Be wise : mature content] Dipertemukan saat keduanya dalam keadaan 'tidak baik-baik saja'. Dan disatukan menjadi pasangan yang lebih dari kata baik. Jiera dan Jungkook yang saling melengkapi dikehidupan mereka yang mulai tertata kembali. Jungkook...
![Light By You [End]](https://img.wattpad.com/cover/226891717-64-k294134.jpg)