[11] iFFy: Tentang Dia

103 14 22
                                        

Pria itu membawakan beberapa bungkus ramyun instan yang ia beli acak di mini market terdekat. Ia tak paham merk-merknya. Lucunya, ia membeli kemasan yang menampilkan gambar yang menurutnya enak. Ia tak memasaknya sendiri, karena pernah kala itu ia mencoba melakukannya sendiri tapi rasanya tidak seenak jika dimasakkan.

Atau, ia hanya ber-alibi agar bisa menemui gadis yang mengingatkannya pada cinta pertamanya semasa di Amerika dulu.

Sekarang pukul 12 malam. Harusnya ia tak makan karena tubuhnya gampang melebar jika makan di jam-jam segini. Tapi, masa bodoh. Ia bisa melakukan work out lebih rajin untuk mempertahankan berat badannya yang sekarang.

"Apa kau tidak punya pembantu di rumah? Mengapa harus aku yang memasakkanmu?" sungut Dara yang telah didera oleh rasa kantuk.

Gadis itu memang sudah tidur, tapi kantuknya masih belum hilang.

"Lebih enak makan sambil memandang wajahmu," balas pria di depannya yang masih sibuk menyantap ramyun.

Wajah Dara memerah, berbeda dengan pemandangan siang tadi yang membuatnya hampir gila karena overthinking. Sikap Jay jika hanya berdua dengannya pun juga bisa membuatnya gila karena merasa menjadi orang yang paling dicintai di muka bumi.

"Kau berkata seolah-olah aku adalah satu-satunya wanita di dunia."

"Tepatnya kau adalah satu-satunya wanita yang ada di depanku saat ini."

Dara meremas ujung kaosnya, ia hanya dapat menunduk. Jay mengatakannya begitu mudah seolah ia telah sering menghadapi situasi semacam ini. Pria itu juga tak minta maaf seperti sebelumnya ketika ia terlihat akrab dengan Lee Hi dan mengabaikan Dara. Mungkin derajat Suzy melebihi gadis itu.

Untuk apa geram? Dara bahkan tak tahu bagaimana kejelasan hubungan mereka. Atau, haruskah ia bertanya detik ini juga?

"Terus terang aku merasa cemburu," lenguh Dara.

Seketika Jay menghentikan aktifitas makannya. "Cemburu?" Ia bertanya.

"Entah aku pantas cemburu atau tidak. Kau terlihat sangat dekat dengan Suzy, bahkan para staff kantor mulai bergosip dan menceritakan kedekatanmu dengannya."

"Oh, itu. Ya... Kami dekat."

Jawaban itu seolah mencubit hati Dara. Lagipula apa haknya sekarang? Jay mungkin memiliki beberapa wanita yang ia perlakukan seperti Dara. Mana mungkin seorang CEO bisa mencintai karyawan biasa sepertinya?

"Kami pernah menjadi trainee di perusahaan yang sama," lanjut Jay.

Gadis itu terkejut ketika baru mengetahui fakta ini.

"Trainee?"

Jay mengangguk, "Aku bahkan hampir debut sebagai aktor di bawah naungan JYP."

"Benarkah?"

"Ya. Tapi aku keluar di saat-saat terakhir karena merasa dirugikan dengan sistem yang dianut perusahaan."

"Sayang sekali, padahal mungkin saja kau bisa sukses jika menjadi aktor."

"Cukup sulit untuk seorang foreign seperti aku."

"Foreign?" Dara kembali terkejut akan fakta itu.

"Ya. Meskipun kedua orang tuaku berdarah Korea asli, kami sekeluarga hidup di Amerika. Aku juga lahir di sana, itulah mengapa aku mengalami banyak kesulitan ketika datang ke Korea lima belas tahun yang lalu. Aku mengalami culture shock, dan harus mempelajari bahasa Korea dalam waktu yang singkat. Tak ada yang membantuku, bahkan trainee lain mulai mengejekku yang tak bisa berbicara bahasa Korea." Jay bernostalgia sembari melahap ramyun yang hanya tinggal setengah.

IFFY [M]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang