[19] iFFy: Jealous

70 11 18
                                        

"Ayah tidak benar-benar lembut padaku. Karena setelah memeluk dan memberikanku restu, dia justru membuat mukaku semakin babak belur seperti ini," gerutu Jonathan ketika Jay tengah sibuk merawat lebamnya dengan kompres air hangat.

Pria itu terkikik. Wajah Jonathan memang terlihat semakin lucu ketika mengomel.

Rasakan itu! Ucapnya berserapah di dalam hati.

Memang ayah mana pun pasti akan menghajar putranya sendiri yang telah menghancurkan masa depan seorang gadis. Tapi di samping itu semua, sang ayah pasti punya alasan lain mengapa ia berani menghukum putranya.

"Kau punya waktu sampai besok lusa untuk pemulihan. Maaf, sepertinya aku tak bisa menghadiri pernikahanmu di Amerika," ujar Jay.

Jonathan melirik sinis. "Kakak macam apa kau ini," sungutnya.

"Ada banyak pekerjaan yang tak bisa ditunda. Pembukaan Restaurant, meeting untuk pabrik soju dan urusan sewa gedung untuk membuat perusahaan cabang. Kau pasti tahu kalau aku sangat sibuk dan tak suka menunda-nunda pekerjaanku," balas Jay.

"Tapi aneh karena kau selalu menunda pernikahan."

Jay membeku mendengar ucapan Jonathan. Untuk sesaat ia teringat pada Charli, gadis yang akan dinikahinya dulu.

"Keadaanku saat ini sangat tidak memungkinkan untuk menikah."

"Aku harap hyung segera mendapatkan penggantinya."

Jay tersenyum tipis. "Terima kasih, ya." ucapnya.

Ia berniat keluar dari ruangan itu, namun sedetik kemudian berbalik.

"Sepertinya aku masih bisa menunda pekerjaanku," ucap Jay.

Jonathan terdiam, ia tak bisa menebak apa yang mungkin  akan dikatakan oleh Jay.

"Aku akan hadir di pernikahanmu," lanjut Jay.

Senyum mengembang di wajah Jonathan. Pemuda itu melangkah meraih tubuh sang kakak dan memeluknya.

"Terima kasih, hyung!"

***

Sejak hari ketika Jay mengunjungi Dara, pria itu tak terlihat di kantor selama kurang lebih satu minggu. Bahkan ia sama sekali tak menghubungi Dara.

Gadis itu masih ingat ketika Jay berkata bahwa ia harus bersabar untuk menunggu. Semua itu dipintanya tanpa memberikan kejelasan yang sesungguhnya.

Dia tahu aku wanita bodoh. Oleh sebab itu, dia selalu berbuat seenaknya. Batin Dara.

Jemarinya menekan tombol lift untuk pergi ke lantai 4. Hoody memerintahnya untuk memberikan berkas tentang kinerja bagian marketing pada wakil CEO.

Ketika pintu lift terbuka, Dara mematung menatap sosok yang ada di dalam sana.

Sepasang mata mereka saling bertemu, menimbulkan atmosfer yang entah tak bisa dijelaskan.

Rasanya marah, sedih, rindu bercampur jadi satu.

Wajah yang setiap malam disumpahi oleh Dara itu, kini tak lagi terlihat menyebalkan.

"Dara."

Jay bergeser ke pinggir memberikan ruang pada Dara. Gadis itu masuk tanpa mengucap sepatah kata.

Beberapa kertas dokumen yang diletakkan di dalam map, ia peluk seolah mencegah Jay mengetahui apa isinya.

Apa Dara bahkan lupa bahwa pria yang berada di sampingnya ini adalah pemilik perusahaan? Bahkan Jay lebih berhak mengetahui isi dokumen itu dibandingkan dengan wakil CEO.

IFFY [M]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang