Jay terdiam ketika detik berikutnya bibir tipis yang semula menempel pada benda serupa miliknya terlepas. Ia menatap gadis di depannya yang kini wajahnya berubah pucat pasi. Hampir saja tumbang, kaki gadis itu seolah tak kuat menopang tubuhnya. Untung saja ada dinding yang membantu menahan berat tubuh yang seakan memaksa ia untuk ambruk di depan prianya.
"Dara!" seru Jay sambil merangkul pundak Dara. Keringat dingin mengucur di tubuh gadis itu, bahkan Jay bisa merasakannya. Pria itu dengan sigap mengangkat tubuh kurus Dara dan membawanya masuk ke apartment.
Sesampainya di dalam, Jay segera membaringkan tubuh Dara di ranjang. Ia memeriksa suhu tubuh gadis itu melalui dahi. Seluruh badannya dingin dan gemetar.
"Aku akan telepon dokter." Jay merogoh ponsel di saku celananya dan segera menghubungi dokter.
Tak membutuhkan waktu lama, dokter pun tiba dan memeriksa kondisi Dara. Lelaki separuh baya itu memberikan sebuah resep di mana Jay harus menebusnya di apotek. Dara mungkin mengalami stres berat hingga membuat kesehatannya menurun drastis. Saat itu, mungkin Jay sadar bahwa penyebab itu adalah dirinya.
Setelah dokter pergi, Jay pun berniat langsung ke apotek untuk menebus resep obat. Tapi Dara menahannya. Ia menahan tangan Jay sambil berbaring lemas di ranjang.
"Besok saja," lenguhnya seolah bicara saja ia tak kuat.
"Kau sangat sakit, aku harus segera menebus obatmu."
"Ini sudah malam."
"Apotek ini buka 24 jam. Tenang saja." Jay beranjak, namun Dara kembali menahan pria itu dengan tenaga yang tak seberapa.
"Aku ingin kau tetap di sini." Suara gadis itu semakin melemas.
"Aku hanya pergi sebentar," balas Jay. Sejujurnya ia tak sanggup menatap wajah pucat Dara. Kekhawatirannya naik ke level yang lain, ia takut jika terjadi apa-apa pada Dara.
"Jangan pergi...kumohon," pinta Dara.
Jay pun mengurungkan niatnya. Pria itu duduk di ujung ranjang. Tangannya tak terlepas dari genggaman Dara yang lambat laun mulai memejamkan mata.
Jam weker berdering ketika pagi datang. Dara terperanjat dari ranjangnya mendapati tak ada seorang pun di sana. Apakah ia bodoh atau gila? Ia tak melihat keberadaan Jay pagi ini di kamarnya. Apakah ia berhalusinasi karena terlalu merindukan pria itu.
Pandangannya mengedar menangkap sebuah bungkusan obat di atas nakas beserta segelas penuh air putih yang tersiap di sana. Tangannya meraih obat itu dan teringat bahwa semalam ada dokter yang datang karena Jay menelponnya.
Matahari belum banyak menampakkan sinarnya. Masih terlalu pagi untuk mendapatkan stok obat. Atau mungkin Jay pergi meninggalkannya tadi malam.
"Kau sudah bangun?"
Suara parau seorang pria yang muncul dari balik pintu mengagetkan Dara. Ya. Dia Jay. Apa yang terjadi tadi malam rupanya bukan mimpi atau halusinasi Dara. Ia sempat tak percaya dan merasa malu karena bertingkah kekanakan tadi malam.
"Kapan kau menebus obatnya?" tanya Dara dengan volume pelan.
"Sesaat setelah kau benar-benar tidur. Jadi, aku bisa pergi setelah melepaskan genggaman tanganmu," balas Jay.
Seketika wajah Dara memerah. Dia benar-benar melakukannya, bertingkah kekanakan karena tak mau ditinggal tadi malam.
"I-itu..." Ia berpikir bagaimana cara menjelaskannya. Tapi beberapa detik kemudian ia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kau menebus obat tengah malam?"
"Aku khawatir kalau terjadi apa-apa padamu. Jadi selagi kau tidur aku memutuskan untuk menebus obat. Kalau-kalau kau terbangun dan merasa sakit, maka aku bisa memberikanmu obat."
KAMU SEDANG MEMBACA
IFFY [M]
عاطفية🔞⛔ Sandara Park - Jay Park Pekerjaan Sandara Park hanyalah mempercayai, meski keraguan seolah menghantam kepalanya bertubi-tubi. rugseyo ©2021
![IFFY [M]](https://img.wattpad.com/cover/285338292-64-k110936.jpg)