udah ada yg inget blm sama muka tampak depan ini?
kayanya ga inget ya? baiklah nanti tante unjukin putu dia yg pernah tante posted (wkt dulu emang dia madep belakang tapi noleh ke kamera gitu) 🤭 nasibnya cameo pasti ga di inget, sabar ya bang, cuman tante doang yg inget kekecean abang 😘
btw, sebenernya tante suka ilpil klo liat cowo pake kalung emas ngono, tapi buat bang dhani gpp lah, pengecualian 😍😆
Dhani POV
Aku mengamati sebuah rumah berlantai dua yang mana sepuluh tahun lalu aku tinggalkan.
Rumahnya tidak terlalu banyak perubahan, hanya ada penggantian kanopi yang menutupi carport dan cat pagar yang berubah warna menjadi abu-abu.
Tanganku membuka pagar besi dengan menarik nafas panjang, rasanya seperti membuka kembali kenangan ketika aku dulu tinggal di rumah ini selama sepuluh tahun.
Kehangatannya masih bisa aku rasakan sampai sekarang. Penghuni yang memberikan kasih sayang tidak membedakan anak kandung maupun anak dari saudara jauh mereka.
Umurku kala itu lima belas tahun ketika kehilangan kedua orang tuaku secara bersamaan dalam kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi.
Ayahku dan ayah Emma hanyalah saudara sepupu, tetapi mereka rela menampung anak yatim piatu yang masih membutuhkan figur seorang ayah.
"Nyari siapa ya?"
Terdengar suara di belakangku ketika aku baru selesai merapatkan kembali pintu pagar.
"Dhani?"
Aku melihat sosok seorang wanita paruh baya ketika memutar tubuh secara perlahan, wanita itu masih tampak terlihat cantik dan segar.
Matanya melebar kaget tidak percaya melihatku yang masih berdiri mematung dengan senyuman yang kian melebar.
"Iya bund, ini Dhani" Jawabku lalu melangkah dengan kedua tangan merentang.
Bunda, wanita paruh baya yang aku sebut itu melangkah dengan cepat dan langsung masuk ke dalam pelukanku.
"Kamu kok gak ngabarin dulu mau ke sini? Ya ampunnn... kamu kok jadi kurus begini? Jadi cakepan sih, cuma kok kurus banget, kasian, mungkin karena udah gak ada yang ngurusin ya"
"Kurus bukan karena gak ada yang ngurusin bund, tapi Dhani sekarang sering olahraga" Aku terkekeh mendengar perkataannya.
Tangannya yang tadi memelukku erat sekarang menepuk-nepuk punggungku.
"Iya sih, badan kamu rasanya sekarang keras gak gombyor lagi"
Bunda mengurai pelukan kami, mendongak tinggi dan menatapku lembut.
"Maafin Dhani ya bund baru datang lagi ke sini setelah sepuluh tahun ninggalin rumah ini" Ucapku pelan.
"Gak apa-apa, bunda ngerti keputusan kamu ninggalin rumah ini, yang lalu biarlah berlalu, jangan di ingat-ingat, eh masuk-masuk dulu Dhan" Bunda mengamit lenganku lalu menggiringku masuk ke dalam rumah.
Aku meringis mendengar perkataannya, 'yang lalu biarlah berlalu, jangan di ingat-ingat'.
Iya, aku memang sudah melupakan apa yang menyebabkan aku meninggalkan rumah ini, tetapi ketika bunda mengatakan hal tersebut aku jadi teringat kembali.
"Kamu gak bawa apa-apa? Gak nginap?" Tanyanya membuyarkan lamunanku dengan mata melihatku dari atas sampai bawah dan melongok ke belakang.
"Dhani ke sini cuma mampir sebentar gak nginap, kapan-kapan ya bund" Jawabku sambil tersenyum.
Mataku mengedar ketika memasuki ruang tamu yang terasa dingin karena AC yang menyala, perabotannya banyak berubah. Sofa ruang tamu pun sudah berganti.
KAMU SEDANG MEMBACA
abangku
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 7/11/21 - 19/2/22
