mikirin apa sih bang sampe senyum2 di kulum gitu? gak ngelonjor kan? 🙈😆
Emma POV
"Lah gila! Ngapain elu bilang ke bang Dhani kita pacaran???"
Entah sudah berapa puluh kali Anwar mengataiku gila dalam waktu belum ada semenit karena aku tidak menghitungnya.
"Gila lu!" Umpatnya lagi, sepertinya Anwar tidak akan puas hanya mengataiku lebih dari sejuta kali dalam semalaman ini.
Kami masih berada di kafe setelah bang Dhani pergi begitu saja tiga puluh menit yang lalu. Dan dalam jangka waktu itu, Anwar mengumpatiku terus-terusan dengan memakai kosa kata lain.
"Ndri, yang bayar gantiin gelasnya dia ya, bukan gue, jangan lu aduin ke bang Beno kalau tadi gue bikin keributan di sini" Anwar menyebutkan nama pemilik kafe kopi ini sambil menunjuk-nunjuk wajahku begitu Andri melewati meja kami.
"Iyeee... gue yang bayar, musti berapa kali sih elu ingetin Andri?" Tanyaku dengan nada sewot sambil menepis tangan Anwar.
"Selow bang, gelas pecah satu biji mah biasa" Andri tersenyum pengertian sambil mengelap meja yang sudah di tinggalkan oleh pengunjung kafe.
"Baru pecah satu kan Ndri? Boleh pecahin satu lagi gak buat gue lempar ke muka dia?" Tanganku meraih gelas kopi yang ada di atas meja.
"Kalau dua musti ganti kak, saya gak mau kena di potong gaji pak Beno hehehe..." Andri terkekeh lalu beranjak kembali ke tempatnya.
"Coba jelasin apa maksud elu bilang kita pacaran ke bang Dhani?" Anwar merengut kesal setelah dirinya terdiam lama.
"Gue grogi, udah ngomong panjang lebar tapi bang Dhaninya diem aja, ya gue bingung nyari bahan omongan apaan lagi" Jawabku cepat.
"Kalau gak ada bahan omongan lain elu kan bisa pulang" Ucapnya dengan wajah masih terlihat kesal.
"Ngapain pake boong bilang kita pacaran? Apa yang nanti di pikirin bang Dhani?"
"Udah gila lu ya?!" Lanjut Anwar lagi-lagi mengataiku, sepertinya dia akan sangat puas kalau aku sampai beneran gila akibat sumpah serapahnya.
"Ya elu juga yang salah kelamaan balik cuma mesan kopi doang, emang elu mesan kopinya di kafe sebelah?" Tanyaku tak kalah kesal.
"Kenapa jadi nyalahin gue? Gue kan ngasih waktu buat elu ngomong sama bang Dhani" Jawab Anwar cepat kalau di lihat dari raut wajahnya, dia tidak mau di salahkan.
Ya memang bukan salahnya Anwar, aku yang grogi, karena paling gak bisa menghadapi orang yang tidak merespon dengan komentar panjang mengenai apa yang kita katakan.
"Gue bingung sama elu Em, lagian ngapain sih ngajakin ketemuan bang Dhani pake alasan gue yang ngajakin dia ngopi?" Tanya Anwar.
"Ya abisnya bang Dhani gak mau ketemu padahal gue kan mau minta maaf secara langsung"
"Dia bilang permintaan maafnya cukup lewat wa aja gak usah ketemuan, nyebelin banget" Lanjutku sambil bersedekap dengan mulut mencibir maju.
"Fix, kegatelan banget lu jadi perempuan, kalau suka bang Dhani, jangan di perlihatkan terang-terangan" Kata Anwar.
"Ha? Siapa yang suka bang Dhani sih?" Tanyaku dengan mata mendelik ke arahnya.
"Ya elu lah, siapa lagi? Masa gue? Yang kegatelan pengen ketemu sama dia alih-alih bilang gue yang ngajakin ngopi, kan elu"
"Keliatan banget bikin alasannya, suka ngaku aja Em, gak usah pake alasan mau minta maaf segala" Lanjut Anwar tanpa jeda, tidak memberikan aku waktu untuk membalas perkataannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
abangku
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 7/11/21 - 19/2/22
