bang, manis bgt sih pake kacamata, coba tulung di buka aja kacamatanya, biar manisnya kebuang 😆😂
Emma POV
"Tumben buru-buru banget mau pulang" Anwar mengomentari pamitanku padanya.
"Gue ada perlu" Jawabku cepat.
Aku harus cepat-cepat pulang untuk mempersiapkan diri bertemu dengan bang Dhani esok hari, kondisi badan harus prima dan segar, sehingga enak di pandang mata bang Dhani.
Aku tertunduk dan tersipu sendiri.
"Besok kan Sabtu Em, biasanya juga Jum'at malam Sabtu elu pulangnya malam, TGIF mannn, TGIFFFF..." Lanjut Anwar sambil mengangkat gelas kopinya ke udara.
"Mending elu pulang deh, udah mabok kopi kayanya tuh" Kataku dengan di iringi kekehan melihat gayanya yang seperti berada di club malam.
"Gak asik lu Em, pas giliran gue butuh teman ngopi elu malah pulang cepat, kita baru setengah jam di sini kali, biasanya juga sampe di usir sama Andri" Anwar kembali meletakkan gelas kopinya ke atas meja dengan wajah merengut, tangannya lalu memeluk tas ranselnya, mukanya berangsur sedih.
"Kenapa sih lu? Lebay bener jadi orang? Gak biasanya" Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal beberapa menit lagi.
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Anwar.
Menjadi sahabatnya tidak boleh egois, Anwar selalu ada ketika aku membutuhkannya. Kapan saja aku memintanya datang ke kafe ini tidak mengenal waktu, Anwar pasti langsung datang walaupun sebelumnya dia mengomel terlebih dahulu.
"Gue di tolak" Anwar berkata tanpa basa-basi, wajahnya semakin terlihat sedih.
"Ha? Di tolak? Sama siapa? Bilang ke gue, biar gue samperin tuh cewek berani-beraninya nolak sahabat gue" Aku menyingsingkan kedua lengan kemejaku.
Anwar menatapku sedih.
"Di tolak sama atasan gue" Katanya kemudian.
"Ha?" Aku menatapnya bingung lalu menggaruk kepala.
"Bukannya atasan elu itu bapak-bapak, Nwar? Ah gila elu maho? Ya ampun pantesan elu gak nafsu liat gue walopun kutangan doang" Aku terkesiap dengan menutup mulutku memakai kedua telapak tangan.
"Sarap lu, ini atasan gue yang baru, ibu-ibu, yang bapak-bapak di pindahin ke kantor cabang" Anwar berkata dengan suara lemah.
"Bentar, gue gak salah dengar, kan? Ibu-ibu? Dia udah punya suami?"
"Ah muka gila lu Nwar, sekarang ini emang zamannya pelakor ngehits lagi gara-gara drama layangan singit, tapi masa seorang Anwar ikutan trend begitu sih?" Lanjutku tidak percaya.
Punggung Anwar menegak walaupun wajahnya masih terlihat sedih.
"Dia janda, punya anak satu, suaminya udah lama meninggal, kayanya udah lima tahunan gitu" Sahutnya lemah.
Aku terdiam mendengar perkataan Anwar, kok rasa-rasanya sama seperti kisah aku ya?
Diriku yang kini menyukai duda dan sekarang Anwar yang menyukai janda.
"Gue suka sama sosoknya yang berwibawa, ya namanya juga atasan, cuma orangnya tegas banget, itu yang gue suka"
"Kita sering meeting bareng, dan tiap kelar meeting pembawaannya memang orangnya seperti itu, tegas gak bertele-tele"
"Sampe nolak gue pun gak bertele-tele" Lanjut Anwar sedih.
"Nwar, elu suka sama janda bukan karena ikutan gue yang jadi suka duda, kan?" Tanyaku hati-hati.
Anwar menatapku dengan mata sayu.
"Elu pikir perasaan itu bisa di mainin, gue suka sama dia murni, bukan karena dia janda, gue gak peduli status dia yang sekarang single parent" Kata Anwar tegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
abangku
HumorWarning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 7/11/21 - 19/2/22
