Ingat ya, berkaca dulu sebelum berkata. Siapa tau org lain terluka karna sebuah kata.🌻❤️
~Aisyah Humaira Az-Zahra.
Kini setelah melaksanakan sholat subuh, Zaky kembali pada kasurnya. Maklum saja pertama kali berada di pondok, belum terbiasa.
Bayangkan saja mulai jam dua pagi ia sudah dibangunkan. Mandi. Setelah itu menuju masjid untuk melaksanakan sholat tahajjud. Setelah tahajjud melakukan kegiatan menggaji, setelah itu sholat subuh dan langsung pergi ke sekolah.
Zaky yang biasanya bangun jam tujuh pagi sekarang dipaksa bangun jam dua pagi buta? Tentu saja sangatlah susah.
"Zak, ayo ke sekolah. Gak usah molor aja lo," ujar Azka pada Zaky.
Tentang masker Zaky? Ia belum juga melepasnya. Bahkan jika tidur ia tetap memakainya, entah. Bahkan teman sekamarnya pun belum pernah melihat wajah Zaky. Di saat ia wudhu pasti ambil bagian paling akhir dan paling pojok agar tidak dapat dilihat siapapun. Itupun maskernya hanya dilepas satu sisi.
"Bacot! Ngantuk gue." Jawab Zaky dengan mata terpejam.
"Astagfirullah Zaky, gak boleh ngumpat gitu," ujar Bilal.
"Aarrhgg! Berisik banget sih kalian! Urus aja diri lo sendiri, gausah sok ngurus diri gue!"
"Astagfirullah, ingat Zak ... kalimat yang paling Allah benci, ketika seseorang menasehati temannya, 'Bertaqwalah kepada Allah', namun dia menjawab: 'Urus saja dirimu sendiri." Jelas Bilal seraya mengandeng tangan Azka dan beranjak pergi dari sana.
"Dasar fanatik!"
🦋🦋🦋🦋
Kini jam pertama pembelajaran telah selesai. Semua siswa-siswi telah keluar dari kelasnya masing-masing. Kecuali Zaky, anak itu hanya memandang buku di depannya. Sungguh, ia tak mengerti buku apa saja yang berada didepannya kali ini.
"Kamu murid baru itu ya? Kenapa pakai masker?" tanya salah satu siswi yang bangkunya berada tepat disamping Zaky.
Ya, sekolah mereka memanglah ada yang di dalam pondok dan ada yang di luar pondok (Sekolah Negri). Tetapi meskipun sekolahnya Negri, tetap mengutamakan keagamaan. Bagaimana tidak? Sekolah itupun juga milik Kiai Yusuf. Tetapi bukan hanya santri/wati saja yang bisa bersekolah di sana, semuanya diperbolehkan untuk bersekolah di sana.
Zaky lebih memilih sekolah di luar pondok, setidaknya ia tidak terlalu sumpek karena berada di dalam pondok terus menerus.
"Hm ...."
"Aaa ... cool banget! Tipe gue banget ini mah!" teriak heboh siswi itu.
"Boleh buka maskernya gak? Pengen liat mukanya dikiiittt ... aja pliisss ...." Mohon siswi itu dengan penuh harap.
"Gak." Jawab Zaky yang sudah mulai kesal. Ia pun beranjak dari duduknya, menabrak gadis yang kini tenggah berada di sampingnya hingga terjatuh. Ia mulai berjalan keluar kelas menuju belakang sekolah.
"Ck! Untung cakep." Gerutu gadis itu kesal sambil berusaha berdiri dari jatuhnya.
🦋🦋🦋🦋
Kini Zaky hanya membawa satu buku entah apa Zaky hanya asal membawanya. Ia mendudukan pantatnya pada bangku yang berada di belakang sekolah. Menarik nafas dalam dalam sambil memejamkan matanya. Lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Salat Tarawih [END]
Teen FictionDefinisi salat tarawih, bukan siapa yang datang lebih awal, tetapi siapa yang mampu bertahan hingga akhir. Pertama masuk, sudah disuguhi pemandangan yang menjengkelkan. Melihat anak Pak Kiai yang memakai cadar, ia sangat tidak suka. Pendapat Zaky, o...
![Salat Tarawih [END]](https://img.wattpad.com/cover/291118079-64-k719662.jpg)