Sekali lagi dalam dua belas tahun terakhir, Ishana Anantari dipatahkan hatinya dengan tidak terhormat! Lebih tidak etisnya lagi, si bajingan itu meminta Shana untuk mengembalikan uang yang digunakannya untuk membeli kado sebulan yang lalu. Apa-apaan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langkah Shana di lahan parkir Hotel Indonesia Kempinski harus terhenti beberapa meter di depan mobilnya. Ia seharusnya sudah bisa membuka pintu mobil dan segera pulang, seandainya tidak ada seorang laki-laki berbalut kemeja peach dan celana bahan hitam menduduki kap mobilnya. Wajah Shana yang sudah penuh letih, kini semakin lesu melihat sosok yang tidak diundang ini.
"Dapet izin dari mana lo duduk di kap mobil gue?" tanya Shana sambil mendorong laki-laki itu pergi. "Mobil gue emang nggak semahal BMW lo, ya, Kaisar. Tapi bukan berarti halal untuk lo tindas. Ini baru keluar dari bengkel, dan baru gue cuci, tau, nggak?"
Laki-laki yang sejak tadi menduduki Toyota Camry hitam itu kini menyeringai. Sementara Shana abai. Perempuan itu lantas membuka pintu mobilnya dan masuk. Melihat Kaisar tetap tidak bergerak, Shana memutuskan untuk mengklakson sampai laki-laki itu terperanjat. Meski sayangnya, dalam dua menit, laki-laki yang sama tetap berdiri di depan mobilnya, mengadang jalan Shana keluar dari lahan parkir.
Perempuan yang masih lengkap mengenakan seragam resepsionis itu berdesah. Cengkeramannya pada setir kembali melemah. Diraihnya shoulder bag yang sudah diletakkannya di kursi penumpang. Segera, Shana mengeluarkan seluruh isi tasnya hingga kosong. Ia keluar lagi dari mobil, lalu melempar tas berusia dua bulan itu kepada laki-laki yang mengadang jalannya.
"Nggak pernah kan lo, diajarin untuk jadi orang yang ikhlas?" ejek Shana. "Nih, tasnya gue kembaliin. Gue juga bisa beli sendiri kalau cuma tas kayak gini. Di rumah gue banyak!"
Tak bisa dimungkiri, Kaisar terkejut kala menyambut tas yang Shana lemparkan, mendarat tepat di wajahnya, bahkan menghantam hidungnya yang mancung. Laki-laki itu berniat untuk marah kepada Shana, namun ketika langkahnya sudah tiba tepat di depan pintu kemudi, Shana gegas menancap gas, meninggalkan Kaisar dengan tas di tangannya.
Mobil yang Shana kendarai melesat cepat meninggalkan Jalan M.H. Thamrin. Di tengah sibuknya ia menancap gas dalam kecepatan di atas rata-rata, tangan kirinya meraih ponsel di kursi sebelah kiri. Nama El langsung jadi tujuannya. Shana meneleponnya.
Pada lima detik pertama, tidak ada yang menyapa. Shana hanya bisa mendengar suara benturan antara batu es dan gelas kaca, sementara El, mungkin hanya bisa mendengar deru mesin mobil Shana.
"Jadi gini lo kalau sif malem? Pulangnya kebut-kebutan," ujar El, setelah tidak terdengar lagi benturan antara batu es dan gelas kaca. "Kenapa, Shan?"
Suara El memenuhi seisi ruangan sebab ponsel Shana sudah terhubung pada speaker di dalam mobil. Gadis itu melirik sejenak layar ponselnya yang tergeletak, menampilkan wajah El beserta durasi telepon mereka berlangsung.
"El, kenapa Kaisar jahat banget, sih, sama gue?" pertanyaan itu mencelus begitu saja dari mulut Shana, bersamaan dengan bibirnya mengerucut dan matanya mulai berkaca. Laju mobilnya melambat beberapa meter sebelum menyapa lampu lalu lintas. "El, dia jahat. Gue harusnya nggak sedih, nggak, sih, cuma karena putus sama dia?"