"Apa kabar Zi..?" Tanya lelaki itu Canggung. Bagaimana tidak canggung sudah hampir 5 tahun dia tidak bertemu dengan teman gilanya di kampus dulu ini. Apa lagi melihat Zyana yang sekarang. Sepertinya wanita di depannya ini semakin dewasa semakin cantik saja.
"Baik Fan.. Kamu sendiri gimana,? Kok kamu bisa ada di sini.? Bukannya dulu kamu bilang akan menetap di sana ya.?" Berbondong pertanyaan yang Zi lontarkan, karena dia benar" tidak mengira akan bertemu lagi dengan laki" songong di depannya ini.
"Santai dong Zi.. ngasih pertanyaan kayak wawancara aja kamu ini. Makin dewasa makin cerewet aja". Tuhkan apa dia bilang.. Pria di depannya ini memang songong dari dulu.
"Kamu juga makin tua makin songong aja." Jawab Zi ketus.
"Astagfirulloh Zi.. mulutmu pedes amat jadi cewek. Nggak usah bawa" kata tua kenapa. Biar tua begini muka masih ganteng . Badan keker, banyak yang ngejer tau." Ucap Fano tak kalah ketus.
"Iya banyak yang ngejer. Tante" girang." Jawab Zi pelan tapi masih terdengar sampai di telinga Fano.
"Sabaar... Cewek memang selalu benar" ucap Fano lirih sambil mengelus dadanya. " Loh Zi mau kemana. Main nyelonong aja.?"
"Kerjalah... Kamu pikir ini tempat nongkrong, bisa gibah sepuasnya.!" Sembari melangkah kembali keruangan Zi berjalan cepat , karena dia tidak mau Bosnya yang super sempurna itu cari" kesalahan Zi, karena telat membuat kopi.
" Nanti pulang bareng ya.. kita ngobrol" lagi. aku kangen Zi. Kamu pasti kangen juga kan.?" Sedikit teriak Fano bicara di belakang Zi. Sedangkan Zi sudah tidak menghiraukan lagi, terus melanjutkan untuk pergi keruangan bos. di fikiran Zi yang penting bosnya nggak marah karena Zi sudah sedikit terlambat. Huh... Gara" Fano rese.
Tok tok..." Permisi pak. ini kopi anda, maaf sedikit terlambat." Ucap Zi sambil menunduk. Dia tidak berani menatap wajah bosnya ini. Karena takut terpesona. Eh
"Kenapa terlambat.? Jawab Eza santai. Sambil melihat Zi yang agak gugup. " Kenapa lagi wanita ini" pikirnya.
"Maaf pak.. tadi ada sedikit kecelakaan." Belum sempat menjelaskan lebih detail.
"Kecelakaan apa.. dimana, kamu tidak apa" kan.?" Bos yang langsung panik tanpa sadar sudah berdiri dari duduknya dan memeriksa badan Zi dengan seksama. Hal itu tentu saja membuat Zi mengerjap bingung.
" Saya tidak apa apa pak." Bahkan kata kata itu tidak mengurangi rasa panik bosnya. Sebenarnya kenapa bosnya bisa sepanik ini.? " Saya benar benar tidak apa apa pak. Tadi saya hanya menabrak seseorang di pantry.
Seketika Eza tersadar dan menghentikan aksi gilanya.. dengan sedikit malu, Eza mundur dan dan duduk kembali ke kursinya.
"Ehem.. syukurlah kalau tidak apa apa. Saya hanya khawatir kalau pegawaiku ada yang cacat. Bisa bisa, perusahaan yang rugi". Eza Tanpa sadar mencari alasan. membuat Zi yang awalnya sedikit ada pandangan baik pada bosnya karena Zi kira khawatir terhadapnya. Seketika runtuh. " Bosnya khawatir..?! Mungkin dunia akan runtuh." Pikir Zayna.
"Kalau gitu saya permisi pak." Ucap Zi undur diri.
Setelah Zi keluar. Eza berfikir dan merenungkan tentang apa yang baru saja terjadi. "Tidak bisa.. sudah tidak bisa buang buang waktu lagi. Sepertinya memang harus mulai bergerak dari sekarang" pikir Eza.
***
"Assalamualaikum...." Zi masuk kerumah dengan lesu.
"Anak ayah kenapa lesu begitu.?" Tanya ayah Zi.. "coba cerita sama ayah.!" Memang Zi lebih dimanja oleh ayahnya.
Dan mengalirlah cerita seharian yang telah Zi alami ini. "Makanya Zi.. cari suami, biar kamu enak ada yang nafkahin tidak perlu kerja." Serobot mamanya yang tiba tiba saja ikut bergabung. " Lihat kakakmu ini Han. mulai dari sekarang kamu sudah harus cari calon istri. Biar tidak seperti kakakmu ini, jadi perawan tua". Tambahnya lagi.. memang emak emak tak terkalahkan. Dan yang di ajak bicara, hanya diam tanpa menjawab. Yah.. adik Zayna yang lebih muda 3 tahun ini sedikit pendiam.. bahkan dulu waktu kecil hanya ada satu sahabat doang. Itupun sahabat dari lahir karena tetanggaan.
"Ayaaah.. lihat mama. Mojokin Zi teruss." Rengekan putrinya ini dan omelan sang istri membuat ayah geleng geleng kepala. Pasalnya dia tidak tau harus membela siapa di antara para wanita tercintanya ini. Alhasil ayah pasrah mendengar suara istri dan rengekan putrinya.. anggap saja lagu pengantar tidur.
Di lain tempat. Tepatnya di kediaman sebastian. Eza tengah makan malam dengan keluarga. Selesai makan, di hadapan papa, mama, dan adik kecilnya yang baru menginjak bangku sma ini. Eza memberanikan diri mengutarakan sesuatu yang sudah sangat lama dia pendam.
"Ma.. Pa..!"
"Ada apa Za..? Sepertinya ada sesuatu yang serius.? Saut papanya. Sedang mama dan adiknya ikut menyimak.
" Eza mau melamar." Tiga kata itu berhasil membuat mereka tercengang. Bagaimana tidak.. Sebastian Fahreza yang di kenal dingin tidak pernah pacaran. Tiba tiba mau melamar. Apa dia kesambet.?
"Kali ini Eza benar benar serius pa.. Eza mau melamar.!"
Tersadar dari keterkejutannya akhirnya sang mama bertanya.
" Mau melamar siapa sayang.. mama tidak tau kalau kamu sudah punya pacar. Bahkan saat mama mau menjodohkan kamu dengan anak sahabat mama. Kamu menolak.?" Dan yang lainya hanya mengangguk seolah ikut membenarkan apa yang mamanya bilang.
Sambil menunduk Eza menjawab. " Mama kenal kok orangnya.. pasti mama juga suka." Setelah hening tidak ada sautan. Eza melanjutkan bicara.
"Mama ingat tante sarah.? Anaknya tante sarah, yang bernama Zayna Maharani, yang ingin ku jadikan istri ma." Dengan muka penuh harap. Eza menatap satu persatu anggota keluarganya ini. Berharap keinginannya itu di restui.
"Apa kamu yakin.?" Ucap mama.
"Sangat yakin ma. Dia adalah satu satunya alasan Eza tidak berpacaran dan bisa seperti sekarang ini." Jawab Eza yakin.
Mereka melihat satu sama lain.. dan saling mengangguk seolah memberi isyarat bahwa mereka semua memberi izin. Tapi...
"Sudah berapa lama kalian berpacaran.?" Kali ini papa yang melontarkan pertanyaan itu.
Dengan pasti Eza menjawab. " Belum pacaran pa.. bahkan aku belum mengutarakan perasaanku." saat dengan percaya diri Eza mejawab itu, yang lain hanya bisa melongo. Bahkan Arin sang adik menepuk jidatnya sendiri. Sedangkan yang bersangkutan malah senyum senyum sendiri tidak jelas.
***
Hari minggu memang hari paling membahagiakan untuk Zayna.. kapan lagi dia bisa tidur nyenyak sampai siang tanpa ada rasa takut terlambat dan di marahin bosnya. Walaupun sampai saat ini dia belum pernah dapat semprot dari bosnya. Tapi dia pernah melihat bosnya itu marah sama salah satu staf. Beuh.. ngeri, kalau saja matanya bisa mengeluarkan leser. mungkin bisa membunuh hanya dengan tatapannya itu. Yah.. memang seseram itu. Membayangkan saja sudang bikin bulu kuduk merinding.
"Ziii.... Tolong bantu mama beli keperluan dapur. Ya ampun anak ini bener" . Pantas saja belum dapat jodoh. Anak gadis kok bangunnya siang. "Zii.... Noh gak malu apa sama matahari sudah terik gitu. Cepat bangun bantuin mama.!"
"Ahh ... Mama, ini kan hari minggu. Biarlah anakmu ini bersantai sejenak ma."
"Tidak ada santai".. bangun. Atau mama nikahkan kamu besok." Ucap mama mutlak.
" Ihh.. mama, sembarang mau nikahin anak ,kayak ada calonnya aja. Iya iya bangun nih." Dengan ogah ogah'an Zayna menuju kamar mandi. Dari pada mendengar ocehan mamanya yang tiada henti. Mending keluar . anggap saja jalan jalan.
See you next caphter...
KAMU SEDANG MEMBACA
chased by love
ContoZayna maharani, yang biasa orang memanggilnya Zi, tidak menyangka ucapan asalnya di masa lalu akan berakibat fatal untuk masa depannya. Sebastian Fahreza, orang terdekatnya biasa memanggilnya Eza, seorang CEO salah satu perusahaan ternama di kota...
