Empat hari sudah berlalu.. Zi hampir putus asa ,merasa usahanya tidak ada hasil. Walaupun ada sedikit kemajuan, namun sikap Eza masih seperti bocah.
Zi memutuskan untuk menerima semua kekurangan yang ada pada diri Eza.
Sebab selama ia menjadi bagian dari keluarga ini.. Zi merasa sangat di hargai, Zi merasakan ketulusan dari keluarga Eza ..Zi jadi merasa punya keluarga baru.
Jadi dia tidak mau menjadi egois, hanya karena kondisi Eza sedang tidak sehat, lalu dia campakkan, Zi tidak sejahat itu.
.
Di taman belakang ,Eza duduk di ayunan dengan memakan kue yang beberapa saat lalu Zi buat. Zi sangat puas saat Eza memakan kue itu dengan lahap.
Zi jadi semakin yakin untuk membuka toko kuenya sendiri.
Hemm... Zi jadi tidak sabar.
Zi mendekat dan duduk di ayunan yang satunya di samping Eza.
"Enakk.?" Tanya Zi basa basi.
"Hemm... Enak." Sahut Eza tersenyum manis.
Setelah Eza menghabiskan makanannya, Eza mulai berdiri dari duduknya.
"Loh .. mau kemana.?" Tanya Zi dengan menahan tangan Eza.
"Ke kamar.!" Ucap Eza sedikit mengernyit.
"Aku mau ngobrol sama Eza.. boleh,?"
Sejenak Eza seperti berpikir, lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Zi sebenarnya bingung dengan cara apa lagi supaya Eza bisa sembuh.. Zi rasa semua sudah dia lakukan untuk membuat Eza kembali seperti dulu, tapi nihil.
Kali ini Zi mau berpamitan.. Zi berniat akan pulang ke rumah, Zi sudah merasa sudah cukup,
Cukup dengan dia menerima Eza apa adanya.
Eza duduk diam ,dan siap untuk mendengarkan cerita dari Zi seperti biasa.
Kali ini Zi berjongkok di hadapan Eza dan menggenggam ke dua tangan Eza lembut. Dan menatap kedua mata Eza yang dulu selalu menatapnya dengan cinta.
"Za... Aku mau pamit pulang." Ucap Zi tersenyum
Sejenak Eza terkejut, namun tidak merespon apa-apa.
"Tapi aku tidak akan meninggalkan kamu. Bagaimanapun kondisi kamu,
Aku akan selalu berada di sampingmu." Mata Zi memanas mengingat perlakuan dia kepada Eza waktu dulu yang tidak terlalu care, Zi menyesal telah menyepelekan keseriusan Eza.. bahkan Zi menyesal belum pernah mengutarakan perasaannya dengan benar. Akhirnya air matanya luruh juga.
Eza yang melihat Zi menangis, dadanya menjadi sesak, namun yang Eza lakukan hanya menghapus air mata di pipi Zi.
"Kali ini, aku akan mengutarakan perasaanku yang selama ini aku pendam karena gengsi. Walaupun mungkin kamu tidak akan mengerti tapi.."
"Aku sayang kamu,
ahh.. lebih tepatnya aku cinta kamu Eza. I love you.!" Ucap Zi akhirnya perasaannya lega juga.
Eza terpaku... Bak seperti patung.
Zi perlahan mendekat ke wajah Eza.. dengan lembut Zi mencium bibir Eza. Hanya menempel ,namun Zi melakukan itu dengan keberanian yang sangat matang. Zi berpikir mungkin ini ciuman terakhirnya, karena tidak mungkin lagi dia mencium Eza dengan kondisi yang tidak sehat seperti ini.
Eza masih terpaku.. belum ada respon, membuat Zi menghela nafas lelah.. akhirnya Zi menyudahinya. Berdiri pelan berniat untuk pergi dari situ.
Namun saat Zi akan melangkah, tangan Zi tertahan.. Zi menoleh, di situ Eza sudah berdiri dari duduknya, tanpa aba-aba Eza memeluknya dengan erat.
"Jangan pergi." Bisik Eza.
"Maafkan aku Zi... Jangan pergi. Aku mohon jangan ninggalin aku.. aku mohon.!" Ucap Eza terisak.
Zi yang mendengar itu pun terkejut.. apa Eza sudah sadar.? Tapi Zi terlalu takut berharap.
Zi membalas pelukan itu dengan mengusap punggung Eza lembut.
Eza melepaskan pelukannya.. merangkup wajah Zi dengan kedua tangannya,
"i love you ..'' dan mencium Zi dalam.
Tentu saja Zi semakin terkejut mendapat ciuman mendadak seperti itu dari Eza, Sebab sejak tadi Eza minim respon. Namun akhirnya Zi terhanyut juga dengan ciuman itu.
.
Zi masuk kedalam rumah dengan tangan yang tidak lepas dari genggaman Eza.
Setelah Ciuman itu berakhir, Zi memastikan kondisi Eza, dan bersyukurnya Zi , ternyata Eza benar-benar sudah kembali.. terlihat dari sikap Eza yang terus menempel kepadanya, dan sikap manjanya yang Zi rindukan, Juga cerewetnya Eza saat bersamanya.. semua sudah kembali seperti dulu lagi.
Zi benar-benar lega.. walau masih ada sedikit ketakutan suatu saat Eza akan kambuh lagi, Semoga tidak.
Dengan hati senang, Zi mencari mama,papa, dan arin.. tidak sabar ingin menunjukkan kondisi Eza yang sudah pulih kembali.
Ternyata mereka semua ada di ruang nonton tv.
"Ma...pa ...." Mama dan papa seketika menoleh dan terkejut melihat Eza memanggilnya dengan normal.. melihat Zi yang berada di samping Eza seolah bertanya .
Dan di balas anggukan oleh Zi.
Seketika mereka berdiri dan memeluk Eza sayang.. akhirnya semua sudah kembali seperti semula.
Sedangkan Arin memeluk Zi dan mengucapkan terimakasih.. yang di balas anggukan juga pelukan dari Zi.
.
.
.
"Sayanng.. jangan pergi.!" Rengek Eza melihat pujaan hatinya itu menyusun barang-barangnya di tas.
"Aku harus pulang Za.. hanya pulang nggak kemana-mana kok.!" Ucap Zi, kali ini lebih hati-hati lagi.. saat ini dia masih sedikit trauma.
"Menginaplah semalam lagi ya Zi... Pliiisss." Ucap Eza memohon.
Zi yang mendengar Eza terus merengek akhirnya berhenti sejenak dari aktifitasnya.
Menatap Eza dengan menggenggam tangannya, Zi berkata lembut.
"Za... Aku harus pulang, oke..
Besok aku kesini lagi deh, atau kamu bisa kerumah.. ? Zi terus membujuk Eza.. Zi merasa tidak enak kalau terus berada di sini, walaupun keluarga ini sudah menganggap Zi sebagai bagian dari keluarga, tapi Zi tetap saja merasa tidak enak.
Eza mengerucut.. sepertinya kali ini Eza harus mengalah.
.
Setelah Eza pulih waktu itu keluarga langsung memanggil psikologi yang menangani Eza.. menanyakan kondisinya, dan setelah di lansir dari kejadian sebelum Eza mengidap sindrom itu dan juga cerita bagaimana Eza bisa pulih kembali, akhirnya dapat di simpulkan, bahwa Eza mengalami hal itu karena terlalu takut pada kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi, tidak bisa menjaga kepercayaan dari hubungan percintaannya.. Eza merasa tidak percaya diri bisa membangun kembali hubungannya yang hampir kandas itu.
Ini termasuk kasus langka, namun syukurlah semua terlewati dengan cepat. Karena orang yang mengidap sindrom ini , biasanya susah di sembuhkan.
**
Zi berkumpul di ruang tamu dengan keluarganya, bercerita apa saja yang telah ia lewati selama di rumah Eza.. tentu saja soal ciuman di dikecualikan, ya kali Zi cerita soal itu.
Ahh.. memikirkannya saja membuat pipi Zi merona.
"Kenapa muka kamu merah gitu Zi.?" Tanya Hanan yang sedari tadi melihat gelagat aneh kakaknya itu.
Seketika Zi menyentuh wajahnya.
"A,ah... Kenapa udara disini panas sekali, Zi ke kamar dulu ya yah, ma!" Seru Zi mencium ayah dan mamanya lalu pergi meninggalkan mereka yang melongo melihat tingkah aneh Zi.
Sedangkan di lain tempat, Eza serba salah menahan rindu yang tak tertahankan.
"Ma.. pa...besok kita siap-siap lamaran lagi ya.!" Ucap Eza mutlak.
See you next chapt...🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
chased by love
Short StoryZayna maharani, yang biasa orang memanggilnya Zi, tidak menyangka ucapan asalnya di masa lalu akan berakibat fatal untuk masa depannya. Sebastian Fahreza, orang terdekatnya biasa memanggilnya Eza, seorang CEO salah satu perusahaan ternama di kota...
