"Ehem..." Suara Eza memecah keheningan di ruang makan. Sekaligus memberi tanda para orang tua supaya melanjutkan ucapannya.. jangan sampai tujuan utama malam ini gagal total, Itu tidak boleh terjadi.
"Begini Zi... Nak Eza sudah cerita semua, soal kamu yang sudah menerima lamarannya dan siap kapan saja acara itu di laksanakan. Sekarang kami berkumpul disini dengan maksud membicarakan hari baik untuk acara pertunangan kalian." Jelas ayah Zi
Saat ayah Zi selesai bicara, saat itu juga Eza beralih menatap calon istrinya itu. Ingin tau reaksi seperti apa Zi akan menanggapi.
Sejenak Zi terpaku, tapi dengan cepat juga dia tersadar,
Sadar semua yang ada di ruangan menatapnya. Akhirnya Zi memberi tanggapan.
"Ehem, i,iya ayah.." jawab Zi pasrah, yah.. mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, dia harus mempertanggung jawabkan semua ucapannya, dan setelah Zi pikir pikir semua perkataannya dan janjinya entah kebetulan atau tidak selalu berhubungan dengan Eza. Teman adiknya yang dulu juga sudah dia anggap adik, dan sekarang sudah naik level menjadi calon suaminya, dia tidak pernah menyangka akan dapat jodoh pria yang lebih muda darinya.
Eza mendengar jawaban Zi, senyumnya merekah tidak dapat dia tahan, perasaannya sungguh lega, karena jujur saja tadi dia sempat khawatir Zi akan berubah pikiran lagi. Walau melihat Zi yang masih tampak gelisah,. Tapi itu bukan masalah bagi Eza, yang penting sekarang Zi benar benar akan menikah dengannya, bukan dengan orang lain.
***
Setelah perbincangan penentuan hari pertunangan sudah di tetapkan, akhirnya Zi dan keluarga pamit pulang,
Sebenarnya Eza tidak ingin ada pertunangan, maunya langsung nikah saja, tapi berhubung Zi bilang belum siap menikah dalam waktu dekat, akhirnya Eza harus bersabar, tidak apalah tunangan dulu yang penting Zi sudah jadi miliknya.
Dengan berat hati Eza harus berpisah dengan pujaan hatinya itu, rasanya tidak rela, tapi kali ini dia harus mengalah dari pada Zi semakin enggan kepadanya, lebih baik pelan pelan membuat Zi lengket kepadanya. Lihat saja nanti.
***
Satu bulan menuju hari H , sudah pasti Zi dan Eza di sibukkan dengan berbagai persiapan, dari catering sampai ke baju yang akan di kenakan nanti, apalagi mereka juga masih harus menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, sebab Eza berencana mengambil cuti empat hari. Satu hari untuk acara dan tiga hari untuk liburan berdua bersama Zi.
Yah.. Eza mungkin memang sedikit berlebihan sampai berencana liburan segala, tapi bukan Eza namanya kalau tidak berlebihan bila menyangkut Zi, wanita yang sudah lama dia idam"kan.
Siapa sih yang tidak bahagia saat apa yang kita impikan akhirnya tercapai,? begitu pula Eza.. impian terbesarnya adalah bisa berumah tangga dan memiliki anak" yang lucu dengan Zi. Dan sebentar lagi semua itu akan tercapai.
Ah... Eza jadi tak sabar.
Sebenarnya Zi sudah keberatan dengan semua rencana Eza, dari yang minta baju sarimbit dua keluarga sampai liburan,
demi tuhan ini hanya acara pertunangan belum pernikahan.
Tapi Eza tetaplah Eza, jika semua itu tidak terlaksana dia mengancam tidak mau bertunangan, saat Zi mendengar Eza mengucapkan itu sesaat dia terperangah, dia mengira bosnya ini sudah sadar.
Tapi sesaat kemudian Eza melanjutkan bahwa dia tidak mau bertunangan tapi langsung menikah saja. Zi seketika menganga mendengar penuturan dari Eza, sungguh luar biasa.
Akhirnya semua berjalan sesuai keinginan Eza.
Mau bagaimana pun, Zi sudah tidak ada alasan lagi untuk menolak.. semua yang terjadi sudah dia anggap takdir, mau seperti apapun dia menghindar, kalau Eza memang jodohnya pasti akan terjadi juga, Tidak ada gunanya menyesal.
Toh Zi rasa dia juga sudah bisa menerima kehadiran Eza, walau jujur saja dia masih agak bingung dengan perasaannya.
Ada kalanya Zi marah dengan kelakuan Eza, tapi dia juga tidak tega menolak, saat Eza merengek kepadanya, wajahnya itu loh, hem. Zi yakin Siapapun pasti tidak bisa menolaknya.
**
Akhirnya pekerjaan hari ini selesai, seperti biasa Zi menunggu bos besar keluar dari ruangannya. Memang setelah Eza pulih dan kembali bekerja, saat itu juga Zi pulang pergi kekantor bersamanya seperti dulu lagi,. bosnya itu bilang dia tidak mau Zi kenapa napa.. padahal selama Zi bekerja di sini, tidak pernah terjadi apa apa, memang Ezanya saja yang lebay.
Setelah dipikir pikir selama Zi kerja disini , ia tidak terlalu banyak teman, ada beberapa pun tidak terlalu dekat, hanya terkadang makan siang bersama saja dan sesekali saling bertukar pesan. Hanya Fano teman yang belakangan ini dekat dengannya.
Ngomong ngomong soal Fano, entah kenapa beberapa hari ini juga dia tidak melihatnya, bahkan kirim pesan pun sudah tidak. Kenapa ya? Fikiran Zi mulai mengingat ingat kesalahan apa yang dia perbuat sampai teman gilanya itu menghilang begitu saja.
"Sayaaang...!!
"Astagfirullah..." Ucap Zi kaget, sejak kapan bosnya ini sudah ada di depannya begitu dekat?
"Loh pak, kapan keluarnya.. kok tiba tiba sudah di depan saya? Tanya Zi mengernyit bingung.
Eza yang mendengar itu seketika cemberut, wanitanya ini benar benar ya.
"Sudah sejak tadi" jawab Eza dingin
Zi menganga melihat Eza yang melengos begitu saja meninggalkannya.. sejak tadi loh, dia sudah sabar menunggu,!
Dengan berlari kecil Zi mengikuti langkah Eza di belakang, sampai di dalam lift Eza masih saja tak bergeming.. Eza marah kah?
Sambil sedikit mendongak Zi melirik Eza yang lebih tinggi darinya itu.
Di mobil sampai depan rumah pun Eza masih mendiamkannya .. Zi berpikir keras gimana cara supaya Eza tidak mendiamkannya lagi.
Seperti ada lampu menyala di atas kepala, aha.. Zi punya ide.
Tanpa mengatakan sesuatu Zi mulai membuka sabuk pengaman bersiap membuka pintu mobil,
tapi tunggu dulu, dengan secepat kilat Zi berbalik dan mengecup pipi Eza, lalu keluar berlari masuk ke dalam rumah tanpa melihat kebelakang lagi, Zi malu.
Eza yang mendapat kecupan mendadak pun terkejut bukan main, dengan reflek tangannya menyentuh bagian pipi yang baru saja di cium pujaan hatinya, walau hanya kecupan tapi efeknya luar biasa. Lihat saja Eza yang tadinya marah, kini senyumnya mengembang, bahkan sampai di rumah pun, senyum itu masih betah terpatri di wajahnya. Membuat orang rumah bingung melihat Eza yang sedari tadi senyum, tanpa tau sebabnya karena apa.
**
Zi yang sudah selesai bersih" badan, berbaring di kamarnya, mengingat ingat kembali apa yang sudah dia lakukan tadi,
"Haaahhh... Kenapa tadi aku melakukan hal memalukan itu sih?" Gerutu Zi sambil memukul kepalanya pelan, dia masih tidak habis pikir dengan kelakuan konyolnya itu, pasti sekarang Eza sudah besar kepala.!
Di lain tempat di waktu yang sama, Eza yang baru selesai mandi tiba" saja bersin, dengan cermat melihat sekeliling, apa tempat ini tidak di bersihkan?
.
See you next chapt....☺️
KAMU SEDANG MEMBACA
chased by love
Short StoryZayna maharani, yang biasa orang memanggilnya Zi, tidak menyangka ucapan asalnya di masa lalu akan berakibat fatal untuk masa depannya. Sebastian Fahreza, orang terdekatnya biasa memanggilnya Eza, seorang CEO salah satu perusahaan ternama di kota...
