Berhubung besok sudah harus kembali pulang, Pagi ini Zi dan Eza berencana ketempat pusat oleh-oleh di sekitaran tempat mereka menginap saja. Dan setelah itu Eza berencana mengajak Zi dinner di suatu tempat yang mana Zi sendiri belum tau itu di mana.
Mereka berjalan bergandengan tangan, dengan teliti mereka memasuki toko oleh-oleh satu persatu, mencari-cari apa saja yang cocok mereka beli untuk di bawa pulang.
Tak kelewatan mereka mampir di salah satu toko kue yang cukup ramai.
Zi duduk di salah satu meja yang dekat dengan dinding kaca, sedangkan Eza memesan kue dan juga minuman yang di inginkan Zi.
Setelah memesan, Eza ikut bergabung di meja Zi.
"Kenapa sih Za.. ngeliatin mulu, risih tau.!" Seru Zi yang sedari tadi risih di tatap Eza.
"Abis kamu cantik." Sahut Eza tanpa mengalihkan pandangannya,
"Ini aku lagi mau makan kue loh Za,
Gak lagi mau makan gombalan kamu..!"
"Padahal gak lagi gombal." Ucap Eza lirih.
Pesanan datang, mereka kini tengah menikmati lembut dan manisnya kue yang terhidang di hadapannya.
Kebetulan pagi tadi mereka memang hanya sarapan segelas susu saja, karena hari baru menjelang siang , jadi mereka mengganjal perut dengan makanan ringan terlebih dahulu
Bicara soal sarapan, Zi jadi teringat kejadian tadi pagi saat dia bangun dari tidurnya ,yang sudah tidak etis lagi.. bagaimana tidak saat dia bangun hal yang pertama dia lihat ialah kaki yang berada di pelukannya. sedangkan seingatnya, semalam dia tidur dalam dekapan Eza, dan melihat ranjang punya Eza yang juga sudah berdempetan dengan ranjangnya, maka Zi sudah tau pasti siapa biang keladinya.?
Memikirkan kala itu, tidak sadar dia menatap Eza begitu lamanya,
Eza yang di tatap seperti itu bukannya malu justru malah bersikap sok ganteng, walau memang sudah ganteng sih.
"Apa aku begitu tampannya. Sampai kamu tidak bisa berpaling dariku Zi?" Ucap Eza menaik turunkan alisnya songong.
Zi yang mendengar seruan Eza seketika mengerjab, menyadarkan diri.
Tapi bukannya malu karena ketahuan, Zi malah lebih memicingkan matanya.
"Kamu kan Za, yang semalam berulah,?
Dari aku yang tertidur berputar 180 derajat, sampai ranjang yang berdempetan,?" Tuduh Zi
"Hehe... " Eza menggaruk kepalanya yang tidak gatal,
"Ranjang sih iya, tapi kalau kamu yang berubah posisi seperti itu, aku benar-benar tidak tau Zi, lagi pula dari pada aku mencium kakimu, aku lebih senang mencium bibir kamu?"Jawab Eza
Zi melotot mendengar perkataan vulgar dari Eza... Benar-benar ya calon suaminya ini kalau ngomong gak di filter dulu, tidak tau tempat sama sekali.
Zi menghembuskan nafas berat.. lebih baik dia mengalah sajalah, toh semua sudah terjadi.
**
Matahari hampir terbenam menandakan hari sudah mulai malam, Eza dan Zi kini berada di salah satu butik ternama... Bukan untuk belanja , namun untuk memilih pakaian yang akan mereka kenakan di acara dinner malam ini.
Sejujurnya Zi merasa keberatan, hanya makan malam saja ,sampai baju dan riasan, Eza yang pilihkan. Padahal kan tidak perlu seperti itu, jadi pemborosan. Tetapi Eza tetaplah Eza, tidak mudah di bantah.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mereka menemukan gaun yang sekiranya cocok dengan Zi.. sebenarnya menurut Eza, Zi cocok mengenakan gaun apa saja, yang jadi permasalahan adalah, ketidak relaan Eza melihat Zi memakai gaun yang terlalu terbuka di tempat umum.
"Sepertinya ada yang kurang." Seru Eza
Zi bersiap akan protes, tapi sebelum dia melakukan itu, tiba-tiba Eza berdiri menghampirinya.
Eza mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua, dan mengambil sesuatu yang ada di dalamnya.
Tanpa berkata, Eza memasangkan sebuah kalung dengan liontin permata biru di leher Zi.
"Sangat cantik" ucap Eza puas.
"Za... Apa nggak berlebihan, sepertinya aku tidak bisa menerima ini." Ucap Zi melihat kalung yang kini ada di lehernya.
"Tidak ada yang berlebihan sayaang.. ingat. Kamu adalah calon istriku yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anak ku.. dan setelah nanti kita sudah Sah, maka semua yang aku miliki akan menjadi milikmu juga. Ucap Eza dengan memegang kedua lengan Zi lembut.
Zi yang mendengar kata-kata itu langsung dari mulut Eza pun speechless, dia tidak pernah membayangkan akan dicintai seseorang sebesar ini. Tanpa sadar Zi meneteskan air mata haru,
"Loh kok nangis Zi, nanti luntur loh cantiknya!" Ucap Eza
Zi yang mendapat godaan dari Eza hanya memukul dada Eza lembut.
Sedangkan Eza pura-pura kesakitan dapat pukulan Zi yang sebenarnya tidak terasa itu.
.
Kini mereka sedang dalam perjalanan ke tempat yang sudah di siapkan Eza.
Zi mengenakan gaun berwarna biru laut membuatnya semakin cantik saja, sedangkan Eza mengenakan tuxedo, membuat ketampanannya semakin bertambah.
"Kita mau kemana sih Za? Sampai seribet ini?" Tanya Zi penasaran.
"Rahasia." Jawab Eza singkat.
Akhirnya Zi pasrah saja, lihat saja kalau sampai tidak sebanding dengan persiapan yang sudah dia lakukan.
.
Sampai di tempat tujuan,. Zi melihat sekeliling... 'Restoran'.
Mereka masuk dengan Zi menggandeng tangan Eza, sampai di meja yang sudah di pesan khusus untuknya, Zi terperangah melihat indahnya suasana dan dekorasi yang begitu cantik terpampang di depan matanya. Ternyata lebih dari yang ia perkirakan.
Di sana hanya ada satu meja dan dua kursi.. jauh dari meja-meja pelanggan yang lain, sehingga dia tidak akan khawatir akan jadi pusat perhatian. Eza benar-benar tidak bisa di tebak.
Setelah sadar dari ke kekagumannya, Zi melihat Eza yang sudah memundurkan salah satu kursi untuk ia duduki.. dengan senyum mengembang Zi menuju kursi yang sudah di siapkan untuknya.
Acara berjalan romantis . Makan malam berdua dengan pasangan dan di iringi suara piano dari pemain profesional yang memang sudah Eza siapkan.
Setelah makan malam selesai,. Eza berdiri dan menghampiri Zi , dia berlutut di hadapan Zi dan memegang salah satu tangan dari pujaan hatinya itu.
Zi yang terkejut dengan perlakuan Eza pun hanya bisa menutup mulutnya dengan satu tangannya.
"Zi.... Maukah kamu menikah denganku, hidup berdua denganku, menjadi ibu dari anak-anak ku, seumur hidupku.?" Ucap Eza penuh harap.
Zi semakin terkejut lagi, mengingat baru kemarin mereka bertunangan, kini Eza sudah mengajaknya menikah,? Zi benar-benar tidak percaya.
"Bisakah kamu menjawabnya Zi, sepertinya kakiku sudah tidak berasa lagi." Seru Eza tidak sabar.
Zi yang tadinya terhanyut dengan pikirannya pun tersentak kaget, melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa.
"Iya... Aku mau." Jawab Zi yakin, bagaimana bisa dia menolak pria yang begitu tulus mencintainya.
Senyum Eza merekah ,dengan cepat dia memeluk Zi dengan berkali-kali mengucapkan terimakasih.
Eza bahagia sungguh, akhirnya dia benar-benar akan menikah dengan wanita pujaannya.
Zi pun turut bahagia, entah kenapa yang awalnya dia ragu, kini justru hatinya merasa lega setelah menerima Eza dalam hidupnya. Mereka berpelukan dengan erat meluapkan rasa bahagia yang di rasakannya.
**
Setelah acara peluk-pelukan usai.. kini mereka keluar dari restoran berniat untuk pulang, setelah sampai di parkiran Zi menunggu Eza yang sedang mengambil mobil.. setelah Eza datang, ia turun membukakan pintu untuk Zi.
"Ezaaa.....! Ini beneran kamu." Seru seorang wanita dari belakang dengan sedikit berlari menghambur ke pelukan Eza,. Tidak sampai di situ, bahkan wanita itu mencium kedua pipi Eza.
Eza yang syok tidak berkutik sedikitpun,. Sedangkan Zi, jangan ditanya lagi seperti apa raut mukanya.
See you next chapter..😊
KAMU SEDANG MEMBACA
chased by love
Krótkie OpowiadaniaZayna maharani, yang biasa orang memanggilnya Zi, tidak menyangka ucapan asalnya di masa lalu akan berakibat fatal untuk masa depannya. Sebastian Fahreza, orang terdekatnya biasa memanggilnya Eza, seorang CEO salah satu perusahaan ternama di kota...
