Bab-22

138 7 0
                                        

Dua minggu Eza dan Zi terpaksa harus LDR... Dan hanya saat malam saja mereka bisa video call, sedangkan siang hari mereka hanya bisa bertukar pesan pun hanya jika ada waktu senggang.. sebab mereka di sibukkan dengan urusan masing-masing... Eza dengan pekerjaannya dan Zi yang sibuk dengan persiapan pernikahannya yang sudah semakin dekat.

Seperti saat ini, Zi yang sedang tidur tengkurap dengan memandang wajah Eza yang sepertinya baru saja selesai mandi di depan layar ponselnya.
Saling bercerita keseharian mereka dengan di selingi candaan serta godaan satu sama lain.

Dan seperti itulah cara mereka berhubungan LDR setiap harinya..

***

Hari ini Zi sudah berada di bandara, menunggu kepulangan seseorang yang tak kunjung datang.. Zi menyusuri satu persatu orang yang keluar dari dalam bandara, namun sosok itu tidak juga muncul, hingga suara telepon mengalihkan pikirannya.

"Halo.. .!" Tanpa melihat siapa yang menelepon Zi mengangkatnya ,dengan mata yang masih sibuk mencari seseorang.

Ternyata mamanya yang menanyakan keberadaannya.. karena dari jadwal terbang yang tertera, seharusnya orang itu sudah sampai sejak setengah jam yang lalu.. tapi sampai sekarang belum juga terlihat.

Segala pikiran negatif sudah bersarang di otak Zi, namun Zi mencoba tenang. Menghilangkan pikiran-pikiran jelek yang sebenarnya susah untuk dia hilangkan.

Hingga tiba-tiba kedua mata Zi tertutup tangan seseorang dari belakang.. Zi semakin panik jangan-jangan penculik? Saking paniknya Zi tidak berpikir ,mana ada penculik di tempat ramai seperti itu.

Ketika Zi akan berteriak, tangan yang tadinya menutup matanya, kini berpindah membekap mulutnya.

"Ssstttt... Ini aku.!" Bisik orang itu dari belakang.

Zi yang sudah berkaca-kaca seketika melihat kebelakang dan saat melihat orang di belakangnya, ternyata orang yang di tunggunya, luruh lah air mata Zi yang sempat ia tahan tadi,

"Eza....!" dan dengan cepat Zi memeluknya dengan erat.

Syukurlah ,segala pikiran negatif yang sempat dia pikirkan tidak terjadi.

"Hei... Kenapa nangis.?" Ucap Eza lembut sambil membalas pelukan Zi tak kalah erat.

"Maaf terlambat..tadi pesawat delay," lanjut Eza menjelaskan. Yang di balas anggukan dari Zi..
Sungguh Zi tidak perlu alasan apapun.. yang penting baginya adalah Eza yang masih sehat kini berada di hadapannya, itu saja sudah cukup.

.

Setelah acara peluk-pelukan itu usai.. akhirnya mereka pulang dengan mobil beserta sopir yang memang Zi bawa tadi.. di sepanjang perjalanan ke rumah, Zi memeluk lengan Eza dengan menyenderkan kepalanya di pundak Eza.. rasanya dia begitu lelah dengan pikirannya yang sempat tidak karuan tadi.. Zi kini mengerti jika separuh hidupnya sudah bergantung pada Eza, dan tidak bisa lagi membayangkan jika Eza pergi dari hidupnya. Bagaimanapun Zi tidak mau itu terjadi.

Memikirkan itu membuat Zi tanpa sadar semakin mempererat rangkulannya.

Eza yang merasa Zi tidak seperti biasanya, hanya mengelus puncak kepala Zi menenangkan. Hingga tanpa sadar Zi tertidur.

.

Di depan rumah Eza .. Zi masih terlelap di pundaknya, Eza coba membangunkannya namun nihil..
Bukan kesal justru Eza tersenyum melihat Zi yang tertidur di pundaknya begitu nyenyak.. itu bertanda Zi nyaman bukan?

Akhirnya Eza berinisiatif menggendong Zi ke kamarnya.. di bantu oleh sopir, Eza mengetok pintu.. begitu pintu terbuka Eza masuk setelah mengucapkan salam.

chased by loveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang