15. Mental Yang Lemah

4.4K 585 217
                                        

"Udah, lo langsung ke meja makan aja. Biar gue yang bawain ini."

Hyunjin yang awalnya hendak membawakan piring besar berisi ayam itu akhirnya mengurungkan niatnya begitu suara Minho terdengar.

Hyunjin hanya mengangguk saja, kebaikan Minho semakin menjadi-jadi. Kalau begini terus, Hyunjin akan benar-benar menghormati Minho sebagai kakaknya, dan dirinya akan menjadi adik yang baik juga. Semoga seperti ini terus.

Hyunjin berjalan bersebelahan dengan Minho. Hyunjin sudah tersenyum seperti orang gila dan sangat kontras dengan Minho yang wajahnya datar.

Saat sampai di meja makan, Hyunjin langsung duduk di salah satu kursi. Senyumnya masih belum luntur, ia memainkan perban yang menutupi telunjuk dan jempol tangan kanannya.

Enak sekali rasanya memiliki saudara, Hyunjin tidak kesepian lagi. Hyunjin tidak akan iri lagi jika ada temannya yang membicarakan saudara mereka karena kini Hyunjin juga memiliki saudara untuk diceritakan.

"Sinting ni anak.."

Minho menggelengkan kepalanya pelan melihat wajah Hyunjin yang berseri-seri. Minho pikir tingkat kegilaan Hyunjin sudah melebihi Jisung.

Semuanya sudah siap di meja makan, bertepatan dengan Jisung dan Felix yang datang.

"Wahh kak, lo jadi bikinin gue ayam tepung?!"

Tanya Felix dengan antusias dan langsung duduk di kursi di seberang Hyunjin.

Minho hanya berdeham sebagai jawaban dan menyendokkan nasi ke piring Hyunjin.

"Wahhh, untung Felix yang minta, jadi pagi ini bisa makan enak!" Jisung duduk di sebelah Felix dan menyenggol lengan kembarannya itu.

Felix tersenyum bangga lalu menatap Hyunjin dengan angkuh.

"Segitu cukup?" tanya Minho pada Hyunjin.

"Tambah lagi lah, apaan tuh, lo kira gue anak kecil?"

Minho terkekeh gemas karena Hyunjin yang berucap hingga bibirnya maju-maju.

"Lo kan emang masih kecil! Nih gue tambah lagi, udah kaya porsi kuli aja lo. Awas ga habis ya!"

"Dih masih kecil apa? gue udah 15! bentar lagi masuk SMA!"

"Ya itu masih bocil namanya!" Ucap Minho sambil menyendokkan nasi ke piringnya sendiri.

"Gue? kok cuma Hyunjin yang diambilin?"

Minho menoleh sekilas pada Felix. "Ambil sendiri bisa kan? gue ngambilin Hyunjin karena tangannya luka."

Hyunjin menatap Felix dengan raut bersalahnya. Kenapa Minho harus perhatian padanya di saat seperti ini sih? Hyunjin kan jadi merasa bersalah dengan Felix.

Kepala Felix menunduk, ia menggigit pipi dalamnya. Berpikir bahwa Hyunjin benar-benar akan merebut kakaknya.

"Udah, biar gue aja yang ngambilin!" Jisung menyendokkan nasi ke piring kembarannya lalu ke piringnya sendiri.

Hyunjin menundukkan kepalanya, dirinya memang ingin mendapatkan perhatian Minho, tapi bukan berarti dirinya akan merebut Minho. Hyunjin hanya ingin menjadi salah satu adik dari Minho, bukannya memiliki Minho seutuhnya.

Hyunjin tidak ingin menjadi orang jahat dengan merebut kakak orang. Hyunjin tidak ingin menjadi orang jahat karena sudah membuat Felix sedih.

Lamunannya buyar ketika Minho meletakkan satu paha ayam ke piringnya.

"Mau gue bantu suir-suirin ayamnya?" tanya Minho.

Hyunjin menoleh ke Felix, melihat tatapan kosong anak itu. "E-engga, ngga perlu, gue bisa sendiri," jawab Hyunjin.

Oh No!  || HyunjinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang