12. Katanya tidak peduli

5.4K 673 324
                                        

Kangen...
.
.

Changbin tidak bisa fokus dengan ban motor di depannya karena sekarang pikirannya dihantui rasa bersalah pada Hwang aneh Hyunjin itu. Sepertinya ia terlalu berlebihan menghadapi Hyunjin tadi, anak juga tampak terkejut dan sepertinya ketakutan meski ia selalu berusaha menunjukkan cengiran bodohnya.

Melirik sekilas pada kursi yang di atasnya terdapat kresek putih pemberian Hyunjin. Dia bahkan belum melihat isinya sama sekali. Mengingat wajah polos Hyunjin sambil menyodorkan kresek itu padanya. Argh! Changbin tidak bisa.

"Ben! gue cabut duluan, besok gue ambil kerjaan lebih!" Changbin meninggalkan alat-alat itu tergeletak begitu saja.

"Kemana?" tanya teman kerjanya yang 3 tahun lebih tua darinya.

"Penting!" Changbin meraih kresek putih itu dan pergi ke motornya yang terparkir di depan bengkel.

Changbin mengendarai motor matic itu ke arah perginya Hyunjin. Ia tidak tenang jika tidak memastikan keadaan anak itu. Lagi pula kenapa anak itu menemuinya malam-malam begini? astaga apakah ia jahat? dirinya bahkan tidak menanyai untuk apa Hyunjin menemuinya.

Matanya bergerak gelisah menelisik pinggir jalan untuk menemukan keberadaan Hyunjin. Hah... Changbin bahkan tidak bisa membayangkan jika Hyunjin dibiarkan berjalan di pinggir jalan malam-malam begini. Anak itu sangat rusuh dan ceroboh. Bagaimana jika ia tersandung trotoar? bagaimana jika tidak sengaja masuk ke dalam got? astaga siapa yang membiarkan bocah 15 tahun itu berjalan sendirian? ya, jawabannya Changbin. Dan ia menyesalinya.

"Ck. bocah... lo kemana sih?" Changbin berusaha lebih fokus pada pinggir jalan.

Kadang ia bingung. Kenapa bisa dipertemukan dengan Hyunjin yang tingkahnya jauh berbeda dengan dirinya. Kenapa ia bisa berteman dengan orang seaneh Hyunjin?

Changbin ingat, Hyunjin itu salah satu adik kelasnya yang terkenal karena tingkah absurd juga kesombongannya. Entah bagaimana Hyunjin bisa mengenalnya, pada saat Hyunjin menemuinya dan mengajaknya berteman. Katanya ia kagum dengan Changbin yang keren sekali.

Dan sekarang anak itu seenaknya membuat dirinya khawatir dan merasa bersalah. Hebat sekali.

Hingga matanya menangkap sosok Hyunjin yang sedang berjongkok dipinggir jalan dan beberapa orang di sebelahnya.

Changbin segera memarkirkan motornya dan menghampiri Hyunjin.

"Njin?"

Changbin berjongkok di depan Hyunjin dan memegang kedua bahu anak itu.

"Mas, kenal adeknya ini?" tanya seorang ibu-ibu.

"Iya bu, temen saya," jawab Changbin. Ia masih bingung dengan Hyunjin yang menenggelamkan wajah di lututnya.

"Kayanya sakit itu, diantar pulang gih," ucap Ibu itu lagi.

"Njin.. ini gue, bisa denger?" panggil Changbin pelan.

Hyunjin mendongakkan kepalanya hingga Changbin bisa melihat wajah pusatnya  dengan jelas. Ck, anak ini kenapa lagi sih? kenapa selalu membuat Changbin khawatir?

"Yaudah mas, itu anter temennya pulang ya, ibu mau lanjut lagi."

Changbin mengangguk sopan, "makasih udah ditemenin ya, bu."

Setelah ibu-ibu itu pergi. Hyunjin masih diam sambil menatap wajah Changbin.

"Kenapa hei? ada yang sakit? asma lo kambuh? kasih tau gue, Njin."

"P-perut gue sakit, bang.." Hyunjin meringis sambil meremat perutnya.

"Yaudah, kita cari tempat dulu, jangan dipinggir jalan gini."

Oh No!  || HyunjinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang