Matahari pagi menyapa ku dari jendela kamar, menunjukan betapa akan menjadi bahagianya hari ini. Hari pertama saat benar - benar menjadi seorang siswi SMA Nusantara, tentu saja dengan tanggung jawab baru yang akan ku pikul.
"Araaaaaa, buruan berangkat nanti telat!!" Teriak sherly dari depan gerbang rumahku, Sherly adalah teman bertama ku saat pertama masa orientasi dan kebetulan sekalu rumah kuta berdekatan sehingga kita menjadi akrab dalam kurun waktu yang singkat.
" bentar woy, masih jam 06.00 ini ah lu mah!!" Ucap ku sambil melirik jam yang tergantung di dinding kamar ku
" wuahahah, iyaiya gue tungguin kok" ucapnya sesekali tertawa
Tak butuh waktu lama untuk bersiap - siap, jarak rumah ku dengan sekolah juga tak terlalu jauh. Dan disinilah aku dan Sherly, didepan gapura selamat datang sekolah impian.
"Sher?gue masuk kelas mana ya?" Tanya ku setelah diberitahu bahwa pengumuman kelas akan ditempel dimading
"Hah? Gak tau deh coba yuk kita liat di mading nya!" Setelah berkata seperti itu Sherly menarik ku ke arah mading yang sudah diberitahu saat pengumuman tadi.
Mengapa perasaan ku menjadi tidak enak, aku belum melihat dimana kelas ku karena masih terhalang oleh siswa - siswi yang lain yang juga ingin melihat kelasnya. Sherly sudah menemukan kelasnya dan langsung berpamitan dengan ku untuk langsung kekelasnya.
Siswa - siswi yang sedari tadi menghalangiku kini sudah pergi, aku mulai menelusuri satu persatu nama dikertas yang sudah terpampang jelas dimading ini.
"Nah, ini nama gue. Berarti gue kelas..." belum selesai aku melanjutkan ucapanku seseorang memotong begitu saja
"Lu kelas X - 2" ucapnya dengan suara berat yang khas
Mendengar suara tersebut, aku membalikan badan. Mata ku beradu dengannya, mata dengan warna coklat bening begitu tajam namun meneduhkan itu menatapku. Aku dan dia hanya berjarak 30 cm, itu adalah jarak terdekat pertama ku dengannya. Aroma rokok jelas sekali tercium darinya, membuatku sesekali mengusap hidung. Pakaiannya seperti pertama kali aku bertemu dengannya, tak rapin. Berantakan, tentu saja sikap dan sifatnya tak akan membuat orang betah berteman dengannya. Jika pun ada yang ingin berteman pasti karena ada sesuatu yang tak ada pada diri yang lain.
"Gak usah ngeliatin gue kayak gitu, gue bukan pisang" ucapnya membuyarkan lamunan ku.
Aku berusaha mengontrol diriku agar tidak tertawa, bagaimana bisa dia berbicara seperti itu. Dengan berusaha berwajah datar aku meninggalkannya.
"Heh, tunggu!" Katanya sambil menarik tanganku
Aku hanya memasang wajah datar, dan berusaha melepaskan tanganku darinya. Setelah tanganku terlepas, aku berlari meninggalkannya. Aku berusaha melihat - lihat kelas sambil mencari kelasku.
Brukkkkkkk
Aku menabrak seseorang karena terlalu asik melihat kelas - kelas yang sudah diisi oleh siswa - siswi baru.
"Aduh, maaf - maaf" ucapku sambil mengusap - ngusap jidat ku yang menyentuh dada bidangnya.
Tentu saja dia laki - laki, tubuhnya yang atletis tentu saja itu yang membuat ku kesakitan.
"Eh iya gapapa, gue juga kok yang salah" katanya dengan nada bersalah
"Kalau gitu, gue duluan yak. Sekali maaf." Ucapku lalu meninggalkannya, entahlah sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu lagi namun aku sudah meninggalkannya.
Aku melirik jam dipergelangan tanganku, beberapa menit lagi bel akan berbunyi. Aku mempercepat langkah ku, dan akhirnya aku menemukan kelas yang setahun kedepan akan aku tempati.
Aku masuk dengan senyum yang masih terpampang diwajahku, bagaimanapun aku harus memberikan kesan yang baik untuk mereka. Aku memilih bangku yang paling depan, tentu saja yang masih kosong.
"Permisi, ini kosong gak? Gue boleh duduk disini?" Panggil seseorang yang menyadarkan ku dari lamunan.
" Oh boleh boleh kok, duduk aja gak apa-apa, eh lu Echa kan?" Tanyaku memastikan.
"Oh iya, lu Ara kan? Akhirnya ada juga orang yang gue kenal" katanya dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
Aku hanya tertawa mendengar ucapannya, namun aku kembali kedalam lamunanku. Echa kembali mengajakku mengobrol, namun saat aku dan Echa sedang asik mengobrol tentang masa - masa smp. Aku mencium bau rokok yang sepertinya sudah pernah ku temui.
Aku melihat kearah pintu masuk, tentu saja aku menyiumnya. Jarak mejaku dengan pintu masuk sangat dekat.
Seseorang dengam langkah gontai memasuki kelas, aroma rokok yang khas, bola mata coklat bening dengan tatapan tajam namun meneduhkan. Penampilan yang tak rapih, berantakan. Aku mengenalnya,tentu saja aku mengenalnya.
Namanya Ricky, salah satu siswa yang satu kelompok denganku saat masa orientasi siswa yang lalu. Jadi, aku sekelas dengannya? Mengapa perasaan ku menjadi tidak enak.
Mataku dan matanya kembali beradu, dia menatapku lama namun aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari nya. Mantra apa yang dia pakai, mengapa baru saja kenal dia seperti sudah lama mengenal ku?.
"Ra, lu dengerin gue kan dari tadi?" Ucap Echa merasa aku mengganggurkannya.
"Eh maaf Cha, gue tadi ngelamun"
"Lu ngelamun apa lagi ngeliatin cowok itu" ucap Echa sambil menunjuk Ricky yang masih menatapku.
"Echa, gak asik lu" ucapku dengan nada kesal, tentu saja itu bisa membuatku malu.
Dia tersenyum mendengar ucapan Echa, senyumnya berbeda dengan senyum yang pernah kulihat. Dia tersenyum seperti sedang menantangku, untuk apa dia tersenyum menantangku. Apa dengan senyumnya aku akan mengikuti semua keningannya? Aku tak peduli dan tak akan pernah terlibat masalah apapun dengannya, namun hatiku berkata lain.
Dia berlalu setelah memperlihatkan senyuman menantangnya, memilih bangku yang masih kosong dibelakang. Beberapa siswi terlihat mengagumi dirinya, namun itu semakin membuatku kesal. Apa yang pantas dikagumi dari dirinya, ya memang ku akui mata dengan bola coklat bening itu akan dapat mengikat siswi - siswi disini namun itu bukan berarti aku akan terpikat olehnya. Dan tak ada lagi nilai plus selain itu yang pantas dibanggakan dari dia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ara.
JugendliteraturNamaku Ara, aku tak percaya cinta. Seseorang yang seharusnya mengajarkan betapa cinta itu menyenangkan, tetapi malah memperlihatkan betapa sakitnya jatuh cinta. Aku tak percaya cinta
