(SEMI ADULT 18+)
"Sayang, bilang sama aku kalo kamu gak tau soal pernikahan aku dan Aneta. Bilang sama aku kalo kamu masih ada rasa dan hubungan kita masih bisa diteruskan," Kenneth menatap Sara nanar, ia berharap Sara menggelengkan kepalanya dan be...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan nyampe ada yg ketinggalan, vote dulu sebelum baca, ga susah ko guys wkwk Hope u enjoy reading Kenneta🖤
● ● ● ● ●
~¤~
"Halo."
Aneta menaikkan sebelah alisnya. "Lo? Ngapain ada di sini?"
"Ngajak lo ke kantin."
Gil, Gavin, Ethan dan Levin yang berada di belakang Aneta menatap kaget saat Simon datang ke depan pintu kelas mereka.
"Oalah. Ya udah yuk bareng," ajaknya enteng.
Simon tersenyum tipis, lalu mereka berjalan memimpin langkah keempat teman Aneta yang berada di belakang gadis tersebut.
Di area kantin yang dipenuhi oleh para siswa itu, Aneta menjadi pusat perhatian mereka semua. Karena pasalnya, baju yang Aneta kenakan sangat melanggar aturan yang berlaku sangat ketat di sekolahnya.
Baju Aneta seketat peraturan yang sering ditindak anggota OSIS. Tapi Aneta? Ia sama sekali tidak memedulikan tatapan orang-orang terhadapnya meskipun dirinya tahu sekarang ia sedang menjadi bahan obrolan orang-orang di kantin. Toh, siapa peduli? Aneta memiliki tangan yang bisa ia gunakan hanya untuk menutup kedua telinganya saja.
"Lo suka pesen menu apaan?" tanya Simon, rupanya ia siap untuk pergi memesankan makanan yang Aneta mau.
"Gue? Batagor sama jus alpukat aja."
"Oke, lo tunggu di sini ya."
"Simon, kita-kita bisa nitip juga gak?" tanya Gil sambil cengengesan.
"Bisa, kalo gue beres patahin kaki kalian dulu," jawab Simon dingin, respon lelaki itu membuat Gil enggan mengajaknya bercanda lagi.
Akhirnya Levin seperti biasa menjadi perwakilan untuk memesankan makanan bagi ketiga temannya yang lain juga.
"Net, lo pacarnya siapa sih? Si Kenneth atau si Simon? Kok keliatannya lo deket juga sama si Simonyet?" tanya Gavin penasaran.
Aneta tergelak tawa, bahkan tawa gadis itu sanggup membuat orang-orang di sekitar meja mereka menatap heran.
"Gak tau deh. Kalo bisa dua-duanya kenapa harus pilih salah satu?"
"Lo gak mikir nantinya pilihan lo itu memberatkan?" Ethan kini ikut nimbrung pada obrolan kedua temannya.
"Seorang Aneta itu gak pernah mikir panjang, ya gak Net?" kekeh Gil.
Aneta mengangguk cepat. "Kalo Simon memberatkan gue, ya gue sih tinggal suruh si Kenneth aja yang nanganin."