Agar bisa selamat dari kebosanan hidup. Kita semua membiarkan segala jenis perang terjadi. Sebagai hiburan bersama. Menikmati kematian yang begitu ceria dan mayat-mayat yang berserak.
Sampai saat ini, dengan buku-buku yang menumpuk, pengetahuan yang tak berujung, segala jenis penemuan-penemuan, dan para filsuf yang telah lebih dulu mati. Kita, umat manusia, tak pernah bisa benar-benar menjadi bijak, lebih lembut, dan berani mengakui diri sendiri.
Kita mencintai kehidupan-kehidupan. Ketakutan-ketakutan. Dan kelahiran-kelahiran yang datang dari perasaan tak berarti.
Kita semua tertawa di atas kebodohan kita sendiri. Terbahak-bahak. Merendahkan orang lain nyaris setiap hari. Agar segala kenyataan sedikit mereda. Agar kita tidak mengutuki orangtua kita sendiri; mengapa mereka melahirkan kita dan untuk alasan apa.
Dalam dunia yang membosankan seperti sekarang ini. Kekayaan tak mampu menghibur semua orang. Kemiskinan menjadi jauh lebih menyakitkan. Berpura-pura hidup ternyata lebih melelahkan dari biasanya.
Lalu, bagaimana semua ini akan berakhir? Dalam ulangan abadi. Dalam kehidupan yang tanpa titik.
Pada akhirnya, kita semua terlalu memuja kehidupan. Menjadikannya Tuhan. Walau kegilaan dan kebosanan menjadi bagian dari kita. Kita berharap agar terus hidup. Mewariskan kehidupan lagi dan lagi. Berulang-ulang. Sampai kebosanan itu sendiri, begitu ngeri melihat kita, umat manusia.
Pernah kita, merasa ngeri melihat diri sendiri?
