Malem, temans. Ciee yang malming-nya diapelin kang bangunan🤭🤭
Kalahari mengatakan bisa mendirikan tenda di bumi perkemahan yang letaknya tak jauh dari sungai. Ketika hari mulai terang, mereka bisa berjalan-jalan di alam bebas yang memang sudah dikondisikan untuk kegiatan-kegiatan menyenangkan.
Di sana juga bisa membuat api unggun seperti biasa dilakukan oleh pramuka. Sayangnya, dia tidak pernah melakukan semua kegiatan itu karena hanya tertarik pada buku dan hangout dengan Karina. Kalimat Kalahari yang mengatakan betapa menyenangkannya kegiatan itu membuat Sahara setuju pergi meski ragu-ragu.
Seperti biasa, setelah dua malam berjaga di shift malam, Sahara pasti akan mendapatkan jatah liburnya selama dua hari. Pada pukul tujuh lewat lima, dia keluar melalui pintu samping dan melihat Kalahari sudah menunggu. Pria itu sendiri yang mengantarkan Sahara pulang dan mengatakan supaya tidur dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum berangkat untuk memenuhi janjinya.
Menjelang pukul dua belas, Sahara sudah rapi dengan celana panjang hitam dan kaus longgar warna putih. Dia tidak bertanya ke mana Kalahari akan mengajaknya karena selama dalam perjalanan, mereka terlibat pembicaraan seru. Bukan hal yang penting, tetapi hanya seputar pekerjaan Sahara yang menurut Kalahari seperti raja tega.
Sahara hanya menanggapinya dengan tawa. Dia menganggap kalau itu hanya ketakutan Kalahari pada jarum suntik. Sebenarnya itu hanya perkara mindset yang telanjur menakutkan meski kenyataannya tidak demikian.
"Ke mana, sih, Mas?" tanya Sahara ketika merasa perjalanan mereka tak juga sampai.
"Jelas-jelas ke Malang. Masih nanya lagi. Kamu, 'kan, jelas hafal rute Surabaya-Malang, Sa?"
"Ya hafal. Di luar kepala malah. Yang aku nggak tahu itu kita mau ke mana. Ini bukan rute yang biasa kuambil."
"Nanti juga tahu."
Memang bukan Kalahari kalau langsung menjawab dengan serius. Kebiasaannya yang selalu santai menghadapi apa saja jelas terbawa dalam suasana apa pun. Termasuk sekarang walaupun tahu kalau Sahara adalah tipe serius yang disiplin dan benar-benar bertolak belakang dengannya, tetap saja sikap santainya tak bisa hilang.
Sahara memang benar-benar tahu tempat itu setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam. Ini Malang, kotanya tercinta yang telah dia tinggalkan dalam kemarahan besar akibat ketidakadilan yang terjadi secara terus-menerus. Tidak, kali ini Sahara berpikir bahwa hal itu tak akan terjadi lagi. Dia datang dengan orang berbeda dan itu tanpa sangkut paut dengan bagian dari masa lalu.
Bumi perkemahan yang belum pernah dilihatnya selama dua puluh enam tahun hidupnya. Tidak pernah dia pergi berkemah karena papanya tak mengizinkan. Tidak ada rasa kecewa atau penyesalan, tetapi saat ini dia akan mengalami yang namanya kegiatan di alam terbuka maka itu terasa seperti ketika usianya masih remaja.
"Apa kamu senang, Suster?" Kalahari jelas terdengar bangga menanyakan hal itu pada Sahara setelah memarkir mobilnya.
Sahara tidak mendengar pertanyaan Kalahari. Dia sedang menatap ke segala arah, mengamati sesuatu yang belum pernah dia lihat secara langsung seumur hidupnya. Sebuah tempat yang baru pertama kali didatanginya.
Lokasinya berada di tepi sungai berbatu dengan gemericik air yang akan terdengar selama selama berada di sana. Ada tenda-tenda yang didirikan menyebar, tetapi semuanya masih dalam naungan pohon pinus. Beberapa orang bahkan terlihat di luar tenda. Meski jaraknya jauh, Sahara tetap bisa melihat bahwa ada senyum-senyum yang terus disunggingkan menyertai obrolan yang mungkin sedang terjadi.
"Sahara?"
"Ya." Tatapan Sahara beralih pada Kalahari. Pria itu sudah membuka bagasi mobil dan mengeluarkan peralatan yang baru kali ini dilihatnya.
"Apa kamu senang?"
"Senang? Yang benar saja. Apa enaknya punya kegiatan di alam begini?" cibir Sahara.
Kalahari tak menanggapi cibiran Sahara. Pria itu melangkah lebih dekat ke tepi sungai dan menenteng beberapa peralatan. Setelah mendapatkan tempat yang mungkin bagus, ia meletakkan bawaannya di sana lalu kembali ke mobil.
"Mau ikut apa di sini saja, Sa?"
Sahara tidak menjawab pertanyaan Kalahari. Pilihannya jelas mengekori ke mana pun pria itu pergi. Tidak lucu kalau dia terus berada di mobil sendirian. Langkahnya terlihat ragu, sementara matanya sibuk mengamati sekelilingnya dengan saksama.
Matanya menatap sana-sini seolah mencari sesuatu. Hatinya menanyakan, apa yang bisa disukai dari tempat seperti ini? Seperti orang tidak punya rumah. Terlantar yang sedikit elit karena ada tenda yang bisa digunakan untuk berteduh. Bagaimana kalau ada ular atau binatang-binatang berbahaya lainnya?
"Mau sampai kapan kamu berdiri terus, Sa?" Suara Kalahari menembus lamunan Sahara. Menariknya kembali dan melihat sekitar.
Rupanya Kalahari sudah mulai merangkai sesuatu. Entahlah, Sahara tidak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan oleh pria yang mengajaknya pergi jauh dari peradaban. Terpencil dan hanya bisa mendengar suara binatang-binatang yang tak ia ketahui bentuknya.
"Nggak ada kursi buat duduk. Sahara capek jongkok lama."
"Ya ampun, Suster!" Kalahari menarik tangan Sahara mendekati tepi sungai. "Duduk di batu itu. Capek lihat kamu berdiri terus."
Sahara menurut. Dia duduk di atas sebuah batu setelah mengamati batu itu dengan saksama. Meyakinkan diri kalau tidak ada apa-apa yang akan mengotori pakaiannya. Di bawahnya, air sungai mengalir melalui celah antar batu. Dari situlah, matanya mengamati kegiatan Kalahari.
Tangan itu begitu cekatan merangkai. Menyambungkan ini dan itu hingga berakhir dengan berdirinya sebuah tenda berwarna yellow fluorescent ... begitu Sahara mengenali warna itu, entah orang lain. Sebuah pilihan warna yang membuatnya tersenyum sendiri.
Kebanyakan pria akan memilih warna gelap untuk barang-barang yang mereka miliki. Kalahari juga, tetapi entah apa yang terjadi dengan yang satu ini. Terlalu ceria, walau sebenarnya cocok juga mengingat pribadinya yang ramah.
"Sini, Sa!" seru Kalahari. "Tendanya sudah jadi dan kamu bisa istirahat di dalam. Melengkapi jam tidurmu yang kurang."
"Iya." Sahara melompat berdiri. Tangannya menepuk pantat seolah menyingkirkan kotoran yang menempel di celana panjangnya.
"Lama banget, sih, Sa. Tinggal jalan ke sini."
"Bawel banget Mas Kala ini! Masih bersihin celana ini." Sahara masih terus menepuk celana bagian belakang"
"Mau kubantu menepuk pantatnya biar kotoran yang nempel cepet ilang?"
"Modus!" Sahara berjalan ke arah tenda, sesekali masih membuat gerakan membersihkan celana.
Kalahari tertawa. "Jangan cemberut, jelek. Masuk tenda sana! Aku mau keluar sebentar." Tubuh tegap itu membungkuk, mengambil jaring dan entahlah, peralatan-peralatan aneh.
Sahara tak menanggapi ucapan Kalahari. Dia memilih untuk masuk tenda dan mengistirahatkan dirinya. Namun, kenyataan yang terjadi tak seperti ucapan Kalahari. Di dalam tenda, matanya berputar memindai apa yang sudah pria itu siapkan untuknya. Peralatan tidur berupa matras dan sesuatu yang mirip selimut atau seprai. Masalahnya, jika itu digunakan untuk selimut maka bagaimana dia tidur tanpa sprei? Jika itu digunakan sebagai seprai, bagaimana ia bisa tidur tanpa selimut?
Sahara kesal. Dia keluar dari tenda. Jangankan tidur, membayangkan saja sudah tidak bisa. Bagaimana kalau ada serangga yang tiba-tiba datang ketika sedang tidur? Atau semut yang tiba-tiba menggigit. Belum lagi kalau hujan turun. Lagi pula, apakah tendanya bersih?
Kan, kaan. Suster cantik kita bener² ngerepoti kan yo. Marai mumet🤣🤣
Love, Rain❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih Ada Edelweis yang Lain
RomanceCover by @DedyMR Ketika Dirga menikahi Lucia, kebahagiaan Sahara sirna. Namun, kenyataan bahwa Lucia tak bisa memiliki anak, membuat perempuan itu meminta Sahara menjadi istri kedua suaminya. Akankah Sahara memenuhi permintaan sepupunya, atau menca...
