Malam, temans. Yang menanyakan kabar Dirga, hayuk merafaat🤐🤐
"Maaf, mengganggu waktu istirahatmu."
Dalam kantuknya, Sahara menatap wajah Dirga yang selalu terlihat segar. Meski tahu kalau pria itu mengemudi dari Malang hingga tempat ini, tak ada niat untuk menyuguhkan minuman. Sekadar mempersilakan duduk pun, tidak.
"Kalau sudah tahu mengganggu, kenapa nekat?" Suara Sahara memang pelan, tetapi nada tidak suka dalam suaranya, jelas terdengar.
"Kukira kamu masuk pagi. Makanya memilih siang ketika mengemudi kemari. Kamu tak pernah memberitahu jadwal kerja barumu."
Kalimat apa itu? Mengapa harus memberitahu sedangkan lelaki ini bukan siapa-siapa bagi Sahara. Sudah pasti itu adalah pernyataan yang membuat senyum sinis si tuan rumah muncul.
Sahara duduk di salah satu kursi. Tanpa dipersilakan, Dirga menyusul. Ada tatapan tak menyenangkan yang tertangkap dari sorot mata tamunya. Mereka pernah berada dalam situasi yang kurang lebih sama. Duduk berdua di teras rumah Restu, saat malam Minggu.
Beberapa kali Sahara menolak ajakan Dirga untuk pergi nonton. Bukan ... bukan beberapa kali, tetapi ia memang selalu menolak kalau pergi nonton. Dia pikir nonton itu kegiatan tidak menyenangkan dan tempatnya belum tentu bersih. Terlalu pemilih, membuat acara berdua mereka sering dilakukan di rumah saja jika sedang tidak ke kafe atau tempat tempat menyenangkan lainnya.
"Apa kabar, Sa?"
Rasanya ingin tertawa mendengar pertanyaan Dirga. Mestinya, tanpa bertanya pun jawabannya sudah terlihat jelas. Namun, diam selalu menjadi pilihan Sahara. Dia merasa tidak perlu menjawab sesuatu yang sudah terlihat.
"Sa ...."
Sahara tahu kalau tatapan Dirga mulai memindainya. Tidak semua pertanyaan harus dijawab, bukan? Dia juga merasa tidak canggung meski jantungnya tetap berdebar. Debar kurang ajar yang tidak tahu kepada siapa mesti tertuju.
"Apa tujuanmu kemari, Dokter?"
"Sahara." Ada kepahitan teramat sangat yang kini terpancar di mata Dirga. "Rumah sepi tanpamu. Kami merindukanmu."
Sahara tertawa mendengar kenyataan yang hampir tak mungkin terjadi. Mulai kapan keluarga bisa merindukannya. Bukankah kepergiannya disertai oleh puluhan kalimat tak menyenangkan?
Kepalanya memutar kembali kejadian hari kepergiannya. Berjalan keluar rumah setelah menyerahkan kartu ajaib milik papanya serta kunci mobil. Air matanya keluar sesampainya di luar rumah. Dari sekian banyak orang di rumah itu, adakah yang peduli untuk memanggilnya kembali mengingat hari yang sudah beranjak malam?
Sahara bahkan tidak bisa melakukan apa-apa saat itu selain menghubungi Singgih. Dia bertanya apakah bisa datang ke rumah Surabaya saat itu juga? Pertanyaan yang langsung diserang tentang keberadaan dirinya.
Singgih menjemput dalam lima belas menit dan membawa Sahara menuju kediamannya. Pria bijak itu mengatakan masih punya pekerjaan yang tidak bisa menunggu dan mempersilakannya untuk beristirahat. Saat semuanya selesai, dia membangunkan Sahara dan mengajak pergi ke Surabaya pada pukul dua dinihari.
Terkesan seperti sebuah pelarian, tetapi Sahara tidak membantah. Keinginan untuk pergi pada pagi hari ditepis Singgih dengan alasan transportasi susah di jam-jam sibuk. Dalam keharuannya, yang bisa dilakukan hanya menurut.
"Sahara jangan diam saja, tolong. Kamu tak pernah sediam ini padaku sebelumnya."
"Kau masih berharap aku ramah?"
"Kau? Kamu menyebutku seperti itu?"
"Iya, kau. Berharap yang lainnya?"
Sahara tahu kalau Dirga merasa kecewa. Biarkan saja, itu bukan urusannya. Lagi pula, kehadiran pria itu tidak pernah diharapkannya. Itu juga tidak sopan karena statusnya yang sudah menikah. Dengan alasan apa pun, Sahara tetap menilai bahwa tak seharusnya laki-laki yang sudah menikah mengunjungi perempuan lain meskipun hanya adik ipar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih Ada Edelweis yang Lain
रोमांसCover by @DedyMR Ketika Dirga menikahi Lucia, kebahagiaan Sahara sirna. Namun, kenyataan bahwa Lucia tak bisa memiliki anak, membuat perempuan itu meminta Sahara menjadi istri kedua suaminya. Akankah Sahara memenuhi permintaan sepupunya, atau menca...
