🍁 22. Sedikit Pengakuan 🍁

4.9K 1K 102
                                        

Malam, temans. Yang rindu kang bangunan wajib merapat🤭

Malam sedang berangin, Sahara duduk di teras dengan ponsel di tangan. Rambut panjangnya tergerai hingga pinggang. Sesekali melambai terembus angin yang baginya terasa segar. Suasana hatinya sedang tak menentu.

Tadi sore, Mbok Jah menariknya masuk. Menyuruh mandi, lalu menyediakan risol mayo yang wajib Sahara habiskan. Lebihan pesanan tetangga kost, begitu katanya. Dalam keadaan begitu, menurut adalah hal terbaik.

"Yang suka melamun itu bisa digondol kucing, Suster. Susah saya nanti."

Sahara menoleh, mendapati Kalahari duduk di tepi teras. Dia duduk santai bertopang bokong dan paha kanannya yang ditekuk di lantai sementara kaki kirinya menapak di luar teras. Masih dengan celana sobek di bagian lutut yang rasa-rasanya memang jadi ciri khas. Sebatang rokok terselip di tangan kirinya.

"Duduk sini, Mas. Jangan di lantai begitu." Sahara menunjuk salah satu kursi, tetapi tamunya tetap bergeming. Alih-alih menuruti ucapannya, Kalahari justru melepas sepatu dan duduk bersila.

"Di sini saja. Lebih dingin," ujar Kalahari sambil mengisap rokok. Diterimanya segelas air mineral yang diulurkan Sahara.

"Lembur?"

"Tidak. Dari kontrakan teman-teman."

Mendengar kata kontrakan, ingatan Sahara melayang pada kejadian ketika menegur Kalahari yang dianggapnya sebagai penguntit. Malu sekali rasanya saat tahu bahwa dia terlalu mudah menarik kesimpulan. Kecewa yang bertubi-tubi membuat keramahannya menguap. Berganti dengan berbagai pikiran buruk, buah dari rasa percaya yang tak lagi ia genggam.

"Bengong lagi. Mikirin apa sih, Sus?"

"Nggak mikir apa-apa."

"Ngomong-ngomong, seleramu bagus."

Alis Sahara bertaut. "Bagus?" Matanya tertuju pada Kalahari, terlihat serius kali ini.

"Pilihanmu."

"Pilihan apa?" Sahara jelas tak mengerti ke mana arah pembicaraan Kalahari.

"Pria. Pacarmu, 'kan, yang tadi sore bertamu kemari?"

"Mas Kalahari mengintip?"

Kalahari tergelak. Tangannya tetap membuka tutup koreknya seolah itu adalah kegiatan yang menyenangkan. "Tak perlu mengintip karena kalian berdiri di pagar rumah. Dunia milik berdua, ya, sampai aku lewat saja tidak tahu."

Seperti luka yang kembali digarami, Sahara terdiam dan mencengkeram pegangan kursi. Dirga adalah tamu tak diundang dan tidak seharusnya ada orang yang bertanya begitu. Kebenciannya meninggi, meski hidupnya tak kacau, tetapi jauh dari keluarga jelas merupakan sesuatu yang berat.

"Tarik napas, Suster." Tepukan halus di lengannya membuat Sahara menarik napas.

Dia mengusap wajah. "Kalau gak tarik napas ya mati," sahutnya ketus.

Kalahari tertawa kecil. "Bertengkar itu biasa, tapi jangan di luar, lah, Suster."

"Bertengkar?" Sahara tidak mengerti jalan pikiran Kalahari. Sepertinya tidak mungkin pria itu tahu apa yang sudah terjadi.

"Saya tahu itu hal biasa, tapi jangan lakukan di luar. Untung cuma saya yang lihat, kalau orang lain, bagaimana?"

"Aku nggak bertengkar," kelit Sahara.

"Seperti ngomong sama Balita. Jelas-jelas sampai buang bunga di pembakaran sampah." Kalahari bersiul, lalu mengisap rokoknya. "Bukan masalah biasa kalau sampai membuang pemberian begitu."

Sahara memang sempat sedih tadi sore, tetapi tidak marah saat Kalahari menyampaikan sesuatu yang bisa dibilang sebagai nasihat. Pria itu benar. Tak seharusnya dia marah di pagar rumah. Bagaimanapun, kamar kosnya penuh dan tentu bisa menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak baik.

"Pria yang tadi sore bukan pacarku, tapi ipar. Suami sepupuku."

Suara Sahara terdengar lembut. Dia tahu kalau sudah mendapatkan perhatian penuh dari Kalahari. Meski belum kenal lama, tetapi hatinya merasa nyaman. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dan itu mendorongnya untuk berbagi. Tidak banyak ... mungkin hanya sedikit dan cukup untuk membuat lelaki ini berhenti untuk berpikir yang salah.

"Suami sepupu kok membawa edelweis? Itu jelas melambangkan sesuatu, dong, Suster."

"Aku nggak akan bercerita dengan detail, Mas. Dulu dekat denganku, tapi melamar sepupuku dan mereka menikah. Itu saja kalau Mas Kalahari mau tahu."

"Suster melarikan diri kemari?"

Untunglah Kalahari peka dan menangkap sinyal keengganan Sahara untuk terus membahas topik yang sama. Sahara juga tidak menyalahkan Kalahari atas pertanyaannya yang baginya cukup sensitif. Pria itu sudah begitu sabar menghadapi ketidakramahannya selama ini dan semua berujung memalukan karena sikap curiganya yang terlalu besar. Beruntung lelaki itu tak mempermasalahkan sikapnya yang tidak baik dan cenderung santai seolah tak terjadi apa-apa.

"Tidak." Memang tidak karena semua sudah ada jalannya. Kalaupun memang lari, Sahara tentu tak akan memberitahukan hal itu pada siapa pun, bukan? "Aku diterima CPNS di sini."

"Wow! Selamat, Suster. Itu sebuah prestasi keren."

Senyum Sahara mengembang. Kalahari adalah orang ketiga yang mengucapkan selamat setelah Singgih dan Yunita. Hidup terasa campur aduk untuknya. Orang yang seharusnya bahagia atas pencapaiannya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Keluarganya acuh dan kebahagiaannya justru terjadi dengan orang lain.

"Biasa aja."

"Itu keren, Suster. Mau saya traktir? Anggap saja merayakan keberhasilanmu."

Sahara mengernyit. Ini hal yang benar-benar baru. Ditraktir? Oleh seorang pekerja bangunan? Sahara tidak meremehkan pekerjaan Kalahari. Dia hanya merasa tidak tega kalau harus menerima ajakan itu. Menggunakan uang yang menurutnya sudah digunakan secara besar-besaran oleh pemiliknya. Kemudian, berapa yang tersisa untuk mentraktirnya? Belum lagi biaya hidup di Surabaya yang meskipun tidak mahal, tetapi tetap harus dipikirkan.

"Nggak usah, makasih. Sudah kerja ini."

"Ayolah, Suster. Jangan menolak rezeki hanya karena dirimu sedang tidak bahagia."

Sahara mencebik. "Siapa yang membuatmu boleh mengatakan hal seperti itu padaku, Mas?"

"Saya mengatakan hal yang sejujurnya, Suster. Kalau hatimu pedih, ya, jangan diratapi. Senang-senanglah ... siapa tahu dia menyesal."

Sahara menertawakan ucapan Kalahari yang menurutnya sok tua. Namun, hatinya membenarkan ucapan itu. Keluarganya menyebalkan, setidaknya di sini dia punya punya teman. Biarkan saja masa depan mengurus sendiri segala sesuatunya. Daripada berdiam diri meratapi masa lalu, lebih baik membuka lembaran baru.

"Baiklah. Jangan menyesal kalau mentraktirku, ya."

Senyum yang berhasil terbit di bibir Sahara menular pada Kalahari. "Pakai jaket, Suster. Malam ini agak dingin. Saya tidak mau ya, kalau besok mengeluh masuk angin."

"Belum-belum sudah jadi kompeni," gelak Sahara dan masuk ke rumah. Tak lama kemudian, dia muncul dengan celana panjang aladin dipadu dengan hoody yang dia pakai topinya.

Sahara menunggu Kalahari memakai sepatu. Sebenarnya ada rasa ingin tahu yang tiba-tiba saja menyeruak. Mengapa pria itu selalu memakai sepatu setiap mereka bertemu. Ini sudah malam, tidak mungkin, 'kan, kalau belum selesai bekerja? Lagi pula, Kalahari juga tidak tampak berkeringat seperti saat siang hari. Meskipun penampilannya tak jauh berbeda, dia suka melihatnya.

"Ingin makan apa?" tanya Kalahari ketika sudah berada di luar pagar. Beberapa meter meninggalkan rumah, dia berhenti sejenak dan berpindah ke sisi jalan. Dari sikap ini saja, Sahara merasa dilindungi walau sebenarnya jalanan tidak begitu ramai.

"Mas Kalahari saja yang pilih," jawab Sahara.

"Suster saja. Nanti saya dikira pelit."

Sahara tertawa. "Jelas saja aku kira pelit kalau tempatnya nggak sesuai. Secara, ya, duitmu habis untuk membayar gayamu."

Nah, lo, ternyata ketahuan. Saking asyiknya ribut yee. Cuz, ah, spam komen. Biar semangat ngetik othor-nya😁

Love, Rain❤

Masih Ada Edelweis yang LainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang