Malam, temans. Sudah gitu aja. Aku cuman nganterin Sahara🤭
Apa yang dipikirkan Sahara telah menjadi kenyataan. Restu marah karena Tita yang baru saja keluar dari kamarnya melaporkan bahwa sang putri telah berkemas. Teriakan Restu dari bawah pun sudah terdengar. Selesai menutup koper, dia keluar kamar dan menuruni tangga.
"Kenapa Papa jadi suka berteriak belakangan ini? Sahara punya telinga yang masih peka. Papa tak perlu khawatir."
Sahara tidak gentar dengan tatapan garang papanya. Bukan sekali ini dia menerima hal serupa, melainkan sudah berkali-kali sejak rencana pernikahan Lucia diurus. Merasa tidak ada yang bisa dilakukan untuk membuat papanya kembali melembut, ia duduk bersila di sofa. Tepat di hadapan Restu.
Si pengantin yang sudah tidak baru pun ada di salah satu kursi panjang, duduk rapat seperti tidak ada tempat lain di rumah besar itu. Sahara pernah membayangkan duduk berdekatan dengan Dirga, tetapi tidak semesra itu mengingat tempat yang bukanlah ruang pribadi mereka. Dia memang kecewa karena ketidakpekaan Dirga atau lebih tepatnya pria itu menutup mata pada perasaannya dan kedekatan mereka beberapa tahun terakhir. Namun, Sahara berniat meninggalkan semua itu sekarang.
"Mamamu bilang kamu sedang berkemas. Mau ke mana?" Restu merendahkan suaranya walau tatapan mengintimdasi masih tertuju pada Sahara.
"Ke Surabaya," jawab Sahara seadanya.
"Ngapain?"
"Kerja, dong, Pa. Memang apa yang biasa Sahara lakukan selain bekerja?"
"Kerja? Memangnya ada masalah apa dengan pekerjaanmu di sini? Kamu tidak kompeten? Ada masalah? Papa bisa ngomong sama Singgih supaya kamu tetap bertahan di sana.
Tidak kompeten? Rasanya Sahara ingin tertawa. Papanya ini benar-benar merasa sok berkuasa. Jelas-jelas permintaannya untuk Lucia saja ditolak. Bagaimana mungkin dia akan mengulangi permintaan yang kurang lebih sama untuknya? Lagi pula, mungkin sudah saatnya Restu membuka mata bahwa dia bukanlah anak merepotkan yang membuatnya terus-menerus melobi teman untuk memohon pekerjaan. Sahara selalu berpikir bahwa papanya bisa dan boleh saja melakukan itu untuk Lucia, tetapi Sahara selalu ingin melakukan semua dengan jalur yang seharusnya.
"Sahara bukan anak yang bisanya cuma bikin Papa repot ngemis kerjaan." Suara tegas Sahara membuat mata Dirga dan Lucia tertuju padanya. Begitu pula Tita yang awalnya serius menonton acara televisi.
"Sombong," dengkus Tita. "Kamu merasa hebat?"
Sahara terdiam. Rasanya tidak percaya pertanyaan seperti itu meluncur dari bibir mamanya. Sebenarnya, apa salahnya selama ini? Ingatannya mengatakan kalau dia tidak pernah protes dengan apa pun yang dilakukan orang tua. Bahkan kejadian ditutupnya kolam renang, ia juga tidak memprotes secara besar-besaran ketika mainannya ditutup demi kepentingan Lucia.
Lucia. Sepupu yang diberi seluruh kemudahan seperti dirinya dan tanpa sadar telah mengambil alih seluruh kesenangan yang pernah diberikan papanya. Kalau dengan itu semua Sahara dianggap hebat, dia tidak keberatan. Sudah waktunya dia sedikit merasa bebas, bukan? Melakukan apa saja yang dia suka tanpa berpikir lagi tentang apa dan bagaimana perasaan keluarganya yang luar biasa ini.
"Kapan Sahara bilang kalau hebat?"
"Memang tidak, Tapi, kepindahanmu keluar kota itu jelas merupakan salah satu wujud pemberontakan." Tita tidak bersuara keras, tetapi Sahara bisa menangkap nada tidak suka dalam suaranya.
"Pemberontakan dari mana kalau Sahara hanya melakukan sesuai dengan SK kerja?"
"SK kerja?"
Sahara merasa orang tuanya memang tidak tahu apa pun tentangnya. Semua hanya sepupunya. Di mana Lucia harus bersekolah, kuliah, dan bekerja. Sedangkan Sahara dari awal memang memilih untuk mengikuti tes panjang melelahkan dan menikmati keberhasilannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih Ada Edelweis yang Lain
RomanceCover by @DedyMR Ketika Dirga menikahi Lucia, kebahagiaan Sahara sirna. Namun, kenyataan bahwa Lucia tak bisa memiliki anak, membuat perempuan itu meminta Sahara menjadi istri kedua suaminya. Akankah Sahara memenuhi permintaan sepupunya, atau menca...
