Kehilangan tidak lagi membuat Arion merasa canggung. Semua yang dekat dengannya akan berakhir sama—mati. Mungkin dia memang hidup dengan membawa kutukan, sebab ada iblis yang terus menempel padanya. Orang bilang, iblis adalah makhluk yang akan membawa manusia pada kesesatan dan akhirnya melarat. Maka ketika kau disukai oleh iblis, itu artinya kau akan ikut menjadi seperti mereka.
Telah lama ia menumpulkan rasa peduli pada sekitar. Sekalinya mencoba, hanya rasa sakit yang tertinggal. Maka kehadiran Arbela tidak akan pernah menjadi penting. Harusnya! Akan tetapi, ada rasa aneh yang bergelayut di dadanya kala melihat tatapan sendu dari gadis itu.
Apakah ini salahnya karena membiarkan Arabela mendekat? Tidak, dia sudah mengusirnya berkali-kali, tapi tetap saja mengekori seolah tak mengerti. Sekarang gadis itu tengah menuai akibat dari apa yang dilakukannya, mendekati Arion—orang yang disukai iblis.
"Sepertinya ini akan menjadi hari terakhir kita di sini," gumam Arion.
Samael melirik, sebelah alisnya terangkat, seakan tidak yakin dengan pendengarannya. "Maksudnya kau benar-benar ingin menyelamatkannya? Gadis yang baru kau kenal itu?"
"Bukankah kau yang lebih dulu menawarkan pilihan itu?" tudingnya, "sebaiknya mulai bekerja dan kita pergi dari sini!"
Samael berdecak jengkel tapi tetap melangkah, menuruti perintah Arion. Menyelamatkan Arbela hal yang mudah baginya.
Akan tetapi, Samael terhenti kala seorang laki-laki berbadan tegap maju ke tengah kerumunan—di bawah tiang pembakaran. Ia berucap lantang, "Apa kalian sudah gila? Kalian tidak punya bukti yang cukup tapi berani menghukum mati seseorang."
Seseorang di antara kerumunan berseru, "Siapa kau?"
"Dia pasti juga penyihir!" teriak seorang lainnya.
"Desa ini sudah tidak aman. Penyihir menyelinap di antara kita!" tanggap yang lain, memperkeruh suasana.
"Bakar dia juga!" sambut suara lain, bersahut-sahutan. Orang-orang hilang kendali, mereka menuduh siapa pun yang mencoba membela Arbela.
Akan tetapi laki-laki yang berlagak seperti pahlawan di depan sana tetap berdiri teguh, menjadi pusat perhatian. "Aku bukan penyihir. Aku hanya ingin kalian bersikap layaknya manusia!" laki-laki asing itu semakin marah, "jangan asal tuduh dan menghukum mati seseorang!"
"Boleh juga dia," tanggap Samael. "Memiliki rasa keadilan yang tinggi walau hanya manusia biasa."
"Jika ingin menghukumnya, berikan bukti nyata kalau dia adalah penyihir!" ujar laki-laki itu lantang, "bagaimana jika kalian yang berada di posisinya lalu dituduh dan dihukum begitu saja tanpa ada bukti?"
Warga desa terdiam dan berpikir. Sejenak suasana menjadi lebih tenang, tapi ketika ia hendak melanjutkan, anak panah menancap di dadanya. Ia tumbang seketika tanpa sempat mengatakan apa pun.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tepat." Seorang pria berpakaian rapi datang, sebuah busur di tangannya tergenggam erat. Semua orang terkejut, mencoba mencerna apa yang telah terjadi.
"Begitu rupanya. Pada akhirnya semua manusia sama saja. Mereka akan terus menginjak dan menjatuhkan yang lemah darinya," ujar Arion pelan. "Cepat selamatkan gadis itu dan kita pergi dari sini!" perintahnya pada Samael, untuk kemudian pergi meninggalkan kerumunan.
Arion berbalik dengan cepat ketika mendengar teriakan lain. Sekali lagi anak panah meluncur, kali ini menancap pada dada Arbela yang masih terikat di tiang pembakaran. Suasana kembali hening. Semua mata mengarah pada orang yang saat ini sudah berdiri tidak jauh dari laki-laki yang ia bunuh sebelumnya.
Warga yang lepas dari keterkejutan segera mendekat, menyapanya hormat. Dia adalah utusan dari Anglo-Saxon yang memang bertugas menjadi kepala pengawas di Argantha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Story of Evil
Fantasy✨ Daftar Pendek Wattys 2023✨ Arion, seorang anak bermata emas, melarikan diri dari kekejaman dunia hanya untuk menemukan kegelapan yang lebih dalam. Dalam dunia yang penuh sihir, pengkhianatan, dan darah, ia harus memilih; menjadi alat kehancuran at...
