Jauh di dalam Hutan Sethna yang tidak terjamah manusia, di negeri para peri, Aydril. Grey dan Arlan duduk bertopang dagu di tepi Danau Jiwa. Tubuh Freya masih mengapung di tengah-tengah danau yang dipenuhi energi terang di sekeliling tubuhnya.
Mereka sudah terbangun sehari setelah berada di sana dan hampir dua minggu menanti Freya pulih. Arlan bahkan berkali-kali mencebur ke dalam danau hanya untuk memeriksa keadaannya—berharap gadis itu segera membuka mata.
Kedua kesatria itu masih dipenuhi rasa bersalah karena tidak bisa melindungi Freya, apalagi Arlan yang marah karena keluarganya terlibat dalam pemberontakan. Entah apa yang bisa ia katakan nanti ketika gadis itu bangun.
Cahaya kecil yang berkerumun dan mengelilingi Freya berhamburan, kembali masuk ke dasar danau. Arlan sontak berdiri, langsung masuk ke dalam air, berenang mendekat. Freya terbangun dan hampir tenggelam karena belum siap dengan keadaannya kala itu. Untung saja Arlan sampai tepat waktu dan menahan tubuhnya.
"Freya!" Arlan memeluk sangat erat. Tubuhnya bergetar, ia menangis dengan air mata yang menyaru bersama wajah yang basah. "Syukurlah. Syukurlah. Akhirnya kau bangun."
Gadis itu tersenyum lembut. "Apa yang telah terjadi?"
Arlan melepas pelukannya, sorot penuh kerinduan memerangkap sang gadis. "Nanti akan aku ceritakan, sebaiknya sekarang kau harus mengeringkan tubuhmu dulu!"
Freya mengangguk lemah. Arlan segera membawanya ke tepian dan menggendongnya. Mereka membawa sang gadis ke kastil satu-satunya di sana—kediaman Reighnel. Suu menyambut dan membantu Freya untuk berganti pakaian.
"Aku akan mengabari Tuan Reighnel dan Dolhaf mengenai hal ini," ujar Suu dan segera pamit keluar.
Grey duduk di samping Freya—menggenggam tangannya, memeriksa keadaan sang gadis. Ia tersenyum lega ketika merasakan energi Freya perlahan membaik walau masih sangat lemah. Sementara itu Arlan berdiri bersandar di pojokan dengan wajah tertunduk.
"Arlan, kenapa kau sejauh itu?" Freya bertanya lembut.
"Maaf ... maafkan aku," gumamnya.
"Arlan, kemarilah. Aku tidak bisa mendengarmu!"
Hening. Arlan masih bergeming. Ia bahkan tidak berani menatap Freya.
"Kalau kau tidak mau ke sini, aku yang akan ke sana!" Freya berdiri tapi Arlan segera berjalan menghampiri. Ia berlutut di samping gadis itu. Sang gadis menyambut dengan senyuman. "Kenapa kau jadi seperti ini? Seperti Arion yang sedang merajuk saja."
Arlan diam sejenak, menyandarkan keningnya ke lutut Freya yang berbalut gaun sederhana berwarna putih gading. Ia mulai bersuara dengan nada bergetar. "Maafkan aku. Bartin ... Bartin ikut terlibat dalam pemberontakan dan aku tidak bisa melindungimu dari mereka. Maafkan aku!"
"Tidak apa. Situasinya memang tidak menguntungkan. Aku senang kalian baik-baik saja!" Freya mengusap rambut hitam Arlan yang telah panjang dan berantakan. Tidak seperti biasanya yang pendek dan rapi. "Ini di mana?" lanjutnya.
"Aydril," jawab Grey cepat. "Dolhaf yang membawa kita ke sini."
"Aydril? Kita di Aydril?" Freya terperangah. Bagi penyihir maupun non-penyihir, Aydril adalah tempat yang dianggap mitos. "Di mana Arion? Dia pasti sangat senang jika tahu kalau tempat ini benar-benar ada!"
"Kami tidak tahu di mana Arion sekarang. Sudah hampir dua minggu kau tidak sadarkan diri dan selama itu pula kami tidak pernah keluar dari tempat ini atau mendapat kabar tentang dunia luar."
"Ah, benar. Arion ...." Freya menatap lantai di depannya dengan pandangan sendu. "Kita ... harus menemukan dan mengajaknya ke sini."
Dolhaf datang dan langsung memberi hormat pada Freya. "Tuan Putri, saya senang Anda sudah membaik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Story of Evil
Fantasy✨ Daftar Pendek Wattys 2023✨ Arion, seorang anak bermata emas, melarikan diri dari kekejaman dunia hanya untuk menemukan kegelapan yang lebih dalam. Dalam dunia yang penuh sihir, pengkhianatan, dan darah, ia harus memilih; menjadi alat kehancuran at...
