Bab 3.4 Putri Mahkota

239 44 25
                                        

Beberapa hari setelah kasus penculikan, Freya tidak dibiarkan keluar istana. Sementara Grey dan Arlan dipanggil oleh kepala keluarga masing-masing untuk pulang. Arlan berani bersumpah kalau pasti ia akan mendapat hukuman dari ayahnya setelah sampai di kediaman Bartin. Sedangkan Arion, dikurung di menara hukuman.

Sebelum pergi, mereka mengunjungi Arion dan sepakat untuk tidak menceritakan kejadian hari itu pada siapa pun, apalagi Arion sendiri tidak ingat apa yang sudah dilakukannya.

"Arion. Jadilah kesatria ketigaku!" pinta Freya.

Arlan dan Grey hanya terdiam, pasrah. Freya berbalik dan membelakangi ketiga temannya. "Grey Fredikal Grandwill, kesatria ahli strategi dan penyembuhan. Arlan Raziel Bartin, petarung sejatiku, dan Arion," Freya kembali memandang mereka. "Arion akan menjadi pelindungku, orang yang akan menjaga setiap celah dari pertahananku!"

"Aku mau Arion ada di pihakku!" Freya meraih tangannya. "Kau mau, kan?"

Sejenak Arion terpesona melihat tatapan Freya yang penuh ambisi. Perasaan saat diinginkan oleh seseorang membuat sudut hatinya menghangat. Jika dia memang pantas berada di samping gadis itu untuk waktu yang lebih lama, tentu dia akan menerimanya. "Jika aku memang berguna untukmu."

Freya tersenyum. "Bagaimana menurutmu, Grey?"

"Itu bukan keputusan yang buruk," jawab Grey lembut, menambah keindahan pada wajah bagai boneka porselen berbingkai surai perak sebahu.

"Arlan?" Freya melirik Arlan yang sedari tadi hanya diam. Padahal Freya pikir, dia akan menentang keputusannya.

"Selama kau tetap aman, aku akan mendukung semua keputusanmu," jawabnya tegas.

Hari itu juga, Arion berlutut di hadapan Freya seperti acara penobatan, ia mencium tangan sang gadis dan bersumpah setia padanya. "Aku Arion, bersumpah akan selalu di pihakmu, melindungimu, dan mewujudkan semua impianmu."

Meskipun tidak resmi, kristal di punggung tangan Freya bereaksi, keluar dan bersinar. Namun, hal lain yang membuat mereka lebih terkejut adalah ketika energi sihir pada tubuh Arion masuk ke dalam kristal dan menghantarkan sedikit sengatan pada tangannya.

"Bukankah ini seperti penobatan resmi?" celetuk Arlan. "Kristalnya bereaksi."

"Bukankah itu lebih baik?" gumam Arion. Akhirnya, ia memiliki seseorang yang menginginkan kehadirannya. Perasaan yang pernah hilang bersama kepergian Adele kini kembali menghampiri.

Freya tertawa dan disambut oleh Grey. Sementara Arlan hanya mengulas senyum, tampaknya tidak mau menunjukkan secara jelas bahwa ia mulai menerima kehadiran Arion sebagai anggota tim mereka.

Sementara mereka tertawa, Arion lebih memilih diam. Ia tidak tahu apakah  boleh tertawa juga. Jika ikut dalam kebahagiaan itu, apa yang akan dipersembahkan untuk mereka? Ia tidak punya apa-apa. Kosong dan kehilangan.

****

Dua hari kemudian Freya dan Arion menghadap raja setelah memulihkan diri selama dua hari. Luka Freya sudah sembuh sepenuhnya berkat pengobatan dari Grandwill serta pertolongan pertama yang dilakukan Grey sebelumnya.

"Mereka penyihir gelap," ujar Freya, kepalanya tertunduk, tidak berani menatap langsung pada Raja Ferdinand yang duduk di singgasana.

"Aku tahu. Mereka adalah 'para pendosa'--pengikut setia Lucifer," celetuk William yang berdiri di samping singgasana. "Lalu siapa yang membunuh mereka?" lanjutnya.

"K-kami bekerja sama untuk mengalahkan mereka."

"Kau pikir aku akan percaya pada kebohongan itu?"

Freya semakin menunduk, tangannya meremas gaun--kebiasaan setiap kali merasa gugup.

Story of EvilCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang