Setelah kejadian hari itu, Langit kini tinggal bersama Riana di kediamannya. Sebenarnya Yaksa memaksa Langit untuk tinggal dengannya, namun dengan keras Langit menolak hal tersebut. Langit juga cenderung lebih sensitif dan terkadang tiba-tiba menangis, membuat Riana khawatir akan keadaan putranya tersebut. Langit juga belum mau menemui anak-anaknya, sehingga mau tak mau Arash dan Eden tetap tinggal di apartemen Yaksa.
"Makannya sudah?" tanya Riana begitu memasuki kamar Langit. Lagi dan lagi, Langit tidak menghabiskan makanannya.
Langit yang tengah berbaring hanya diam. Tatapannya sangat kosong, seperti ia hidup namun jiwanya sudah mati. Riana bisa memakluminya karena memang sejak hari itu—saat Langit diculik, Langit seperti enggan sekali menjalani hidupnya. Pernah sekali Langit tertangkap menyayat tangannya, beruntung Riana langsung melihat hal tersebut lalu pisau yang disentuh Langit langsung diamankan, meski luka yang di lengannya tetap ada. Sejak saat itu, Riana memberitahu asisten rumahnya untuk menjauhkan Langit dari benda-benda berbahaya.
"Adhiyaksa akan berkunjung, dia juga bawa Arash dan Eden loh! Sayang, kenapa kamu nggak pernah kasih tau kalau Mama punya cucu?" ujar Riana, sengaja ia mengajak Langit untuk berbincang namun tentu saja nihil, Langit sama sekali tidak merespon.
Riana mengusap lengan Langit dengan lembut. Ia sadar bahwa selama ini ia tidak pernah memperhatikan anaknya, yang di pikirannya hanya uang, uang dan uang. Namun sejujurnya ia sangat menyayangi Langit meskipun dia adalah ibu sambungnya, Riana tetap menganggap Langit seperti anak kandungnya sendiri.
"Nyonya, Pak Adhiyaksa sudah sampai." Bu Ani datang dengan Yaksa yang di belakangnya. Mendengar nama Adhiyaksa, Langit sontak menutup tubuhnya dengan selimut tebalnya. Melihat hal tersebut, Yaksa tersenyum getir lalu mendekati Langit dengan Eden yang berada di gendongannya.
"Hallo, Papa! Eden datang nih! Papa nggak mau cium Eden?" ujar Yaksa dengan menirukan suara anak kecil.
Riana tersenyum, setidaknya Yaksa menyayangi Langit dengan tulus.
"Sayang, masa tamunya nggak disambut sih.." kata Riana.
Langit terdiam, tidak menunjukan respon apapun.
Yaksa tersenyum getir, Langit-nya sangat terluka, ia sangat tau itu. Perihal Sarah, Yaksa tidak menemukan dimana Wanita tersebut bersembunyi mengingat dia sangat apik dalam hal tersebut. Ia dan para bawahan lainnya sudah mengunjungi mansion utama, namun yang ditemukan hanyalah ruang kosong tanpa satupun penghuni di sana. Bahkan para asisten rumah tangga pun tidak ada seorang pun dalam mansion megah tersebut.
Yaksa mengambil napasnya sejenak, ia tersenyum tulus seolah-olah Langit bisa melihatnya. "Kak Yaksa bawa es krim loh, kamu nggak mau es krim?" goda Yaksa.
"Eden juga pengen dipeluk Papa, iya kan, de?" lanjutnya bersama dengan Eden yang tertawa melihat senyum Daddy-nya.
"Arash lagi sama Bi Mila di luar, dia tadi sampai sini pup." kata Yaksa lagi. Namun tetap saja, Langit tidak memberikan reaksi apapun.
Riana tersenyum tipis. "Sepertinya Langit masih nggak mau ketemu kamu. Nggak pa-pa kan beri dia waktu lagi?"
Yaksa tersenyum kepada Riana lalu mengangguk. "Tentu, selama apapun itu." jawab Yaksa dengan yakin.
・゜✭・.・✫・゜・。.
Jeff sedang memilih buku-buku, beberapa bulan lagi ujian akan diadakan, jadi dia sudah menyiapkan hal tersebut sejak beberapa hari lalu. Ia melirik buku yang sudah berada di tangannya, ahh.. Masih kurang satu mata pelajaran lagi.
Ia berjalan dari lorong ke lorong, hingga akhirnya ia sampai di lorong paling ujung, tempat dimana banyak sekali buku pelajaran matematika berada.
KAMU SEDANG MEMBACA
FALL | WinBright
Fiksi Penggemar𝐌𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍𝐓𝐈𝐒𝐈𝐏𝐀𝐒𝐈 𝐀𝐆𝐀𝐑 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐓𝐄𝐑𝐉𝐀𝐃𝐈 𝐊𝐄𝐒𝐀𝐋𝐀𝐇𝐏𝐀𝐇𝐀𝐌𝐀𝐍, 𝐒𝐈𝐋𝐀𝐇𝐊𝐀𝐍 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐋𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐀𝐂𝐀 𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐈𝐍𝐈 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐌𝐄𝐋𝐈𝐇𝐀𝐓 '𝐓𝐀𝐆' 𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐓𝐄𝐑𝐋𝐄𝐁𝐈𝐇 𝐃𝐀𝐇𝐔𝐋𝐔. 𝐓𝐄𝐑𝐈�...
