Besttai, terjebak friendzone setelah putus dari mantan yang memiliki nilai +good, apakah bisa mempermudah melewati jenjang dunia per-move-on-an?
Pertanyaannya, kamu ikhlas enggak kalo mantan yang memiliki nilai A+ dari segi keseluruhan jadian lagi s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
3. Toxic Relationship
Kenalin dulu sikapnya. Baru, taktik balas dendam ke dia. Kalo nggak kenal maka tak cantik cara mainnya.
•••
TERUNTUK hati apa kabar? Jawabannya sehat tapi, sakit.
Dan teruntuk otak baik-baik aja, ‘kan? Jawabannya, im fine tapi over thinking.
Tolong, mereka sedang kacau dan kedua organ itu perlu diobati kalo enggak mau masuk rumah sakit jiwa nanti. Nggak usah sok tidak pernah mengenalinya, cek ke rumah sakit kek, biar dikasih obat supaya agak reda. Dari tadi berasumsi sendiri mikirin hal yang memberi efek buruk untuk kesehatan sendiri. Bisa enggak seluruh organ tubuh kita satu frekuensi?
Aku muak!
Aku menarik nafas. “Hu... Ya Allah nyesek banget ini Ya Allah,” Aku sedang enggak berakting menjadi 'sok yang paling tersakiti' ini real hasrat yang telah terzolimi.
Terkadang, seseorang butuh orang lainnya untuk mengungkapkan ekspresi dirinya lewat kata-kata. Lebih gampang dikenal dengan sebutan curhat.
Terus diberi solusi atas masalah yang dihadapi supaya agak lega. Namun kata-kata itu, nggak berlaku untuk aku sama sekali hari ini! Aku dari tadi nangis pandang arah sana—pandang arah sini, tapi... you know lah ini cowok emang bener-bener nggak peka atau gimana sih? Peluk kek?
Aku nggak habis pikir. “Ya Allah... engkau yang memegang segala kondisi di dunia. Tolong, cabut aja nyawa gue sekarang, enggak pa-pa,”
“Heh?!”
Tangisan aku semakin kesini semakin menjadi-jadi. Nggak ada niatan sama sekali si Dimas ini untuk bergerak menenangkan diriku yang merasa tersakiti. Dia diem aja planga-plongo. Aku mengusap wajah kasar dan diakhiri menangkup wajah pake kedua tangan agar kedap suara.
Aku lebih baik memilih nangis daripada merespon ucapan Dimas.
Dia berdecak, “Nyampe kapan sih lo kayak gini, ha!? Pake minta Tuhan cabut nyawa segala, rotasi kehidupan lo bukan cuma tentang, Dirga!”
Emosi aku dengernya. Dengan sesenggukan aku menjawab, “Lo nggak akan, haaaa... pernah ngerti Mas!” Aku melihat Dimas, “suruh siapa lo nonton gue di sini? Gue nggak ada nyuruh buat ditemenin!”
Dimas meraup muka, “Kalo nggak ditemenin yang ada lo bunuh diri Febi. Tadi siapa yang sok berani cuekin Dirga terus bilang. Mas ayok pulang, gue nggak tahan. Eh, untung ada gue detik itu dan juga jadi tujuan lo disaat-saat butuh.”