Besttai, terjebak friendzone setelah putus dari mantan yang memiliki nilai +good, apakah bisa mempermudah melewati jenjang dunia per-move-on-an?
Pertanyaannya, kamu ikhlas enggak kalo mantan yang memiliki nilai A+ dari segi keseluruhan jadian lagi s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DELAPAN bulan sudah berlalu.
Banyak masa-masa paling bahagia menyapa diriku. Dimas memperlakukan aku layaknya seorang ratu.
Enggak boleh kecapean, masak makanan penuh protein dan vitamin dari tangan suami langsung, mood swimming aku yang kadang-kadang merepotkan dia; minta harus di mengerti tapi malah jadi serba salah sendiri, tapi ujung-ujungnya terpenuhi.
Nuansa baru dan rumah baru. Aku enggak perlu lagi kalo ingin melihat Dimas ketuk pintu kontrakan dulu. Sekarang, kami tinggal se atap, se rumah dan pasti nantinya menunggu kehadiran jagoan kami tentunya.
Yaps, anakku berkelamin lelaki. Aku enggak seperti orang-orang yang memilih menyembunyikan dan enggak mau tau jenis kelamin anak sendiri sebelum lahiran. Aku tipe orang yang enggak sabaran. Maka dari itu beberapa bulan aku meminta Dimas untuk usg kandungan dan meminta tolong dokter untuk mengetahui jenis kelamin.
Apapun yang Tuhan kasih baik cewek ataupun cowok, aku enggak peduli yang penting janin di dalam rahimku sehat selalu. Garis besarnya aku cuma penasaran aja.
Aku menatap perut buncit ku sambil goleran, enggak nyangka yah bentar lagi aku jadi seorang ibu. Enggak nyangka juga perkembangan bayi bisa membuat perutku membesar lewat ala kadarnya.
Kamu semua pasti tau dengan kondisiku yang berangsur di beri waktu. Ada Dimas Junior yang meluluh lantahkan perut langsing aku. Si bayi berkembang aktif sehingga membuat ibunya ini sedikit kewalahan atas tendang-tendangan yang di berikan.
Sedikit sakit tapi, ini membahagiakan.
Contohnya kayak sekarang.
“Mas, anak kamu nendang perut aku terus, nyeri tauuu,” aduh ku.
Melihat Dimas di sampingku yang terduduk dengan laptop menyala, seketika mengalihkan fokus utamanya. Ditutupnya laptop itu lalu berbaring menghadap perutku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Abang pasti udah nggak sabar ya, ketemu Ayah sama Bunda, yaaah?” Diciumnya perutku yang membesar, Dimas menempelkan telinganya, “Apa? Oh mau cepet-cepet keluar biar bisa main sama Ayah, ya?”