Besttai, terjebak friendzone setelah putus dari mantan yang memiliki nilai +good, apakah bisa mempermudah melewati jenjang dunia per-move-on-an?
Pertanyaannya, kamu ikhlas enggak kalo mantan yang memiliki nilai A+ dari segi keseluruhan jadian lagi s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
7. Modus?
Baik. Kata itu kadang disalah artikan sama orang yang menyimpan perasaan.
•••
SUMPAH, hari ini keknya otakku over thinking mulu, nggak tau kapan selesainya mikirin hal buruk ini-itu. Gimana kalo, nanti... aku nggak diterima di perusahaan papinya Dimas? Terus, hal fakta aku cuma lulusan sma sedangkan, orang-orang di sana tinggi semua derajatnya. Gimana kalo nanti memandangku rendah? Dan mencaci maki diriku yang ditolak kerja?
Pusing!
Yah walaupun, Dimas adalah sahabatku dan papinya yang memegang kendali atas perusahaan properti yang memiliki beberapa cabang di daerah maupun luar negara, nggak menutup kemungkinan bahwa aku yang tamatan sma bakalan di ludah? Cuma gara-gara memiliki status sebagai friendly Dimas, bukan berarti jalanku untuk berkerja di sana terlihat ‘ah pasti diterima, orang anak perusahaan temen dia’?
Besttai, nggak menutup kemungkinan kalo aku nanti bakalan dipandang sebelah mata. Bukan begitu? Aku, ‘kan cuma tamatan menengah atas yang notebanenya tenaga kerjanya udah minus banget kalo diposisikan kepada perusahaan besar.
Inget, ini perusahaan layaknya isinya orang kelas tinggi semua. Jadi, aku bener-bener nggak percaya diri banget-banget, Besttai. Toh, lebih baik aku negatif thinkingdaripada positif thingking karena aku tau, keadaan nggak mendukung banget sekarang.
Bila berpikir tinggi, aku takut tertampar reality.
Syukur-syukur dipekerjakan hanya dengan membersihkan sampah kantor, juga nggak pa-pa, daripada ditolak beneran.
Suwer!
Tok. Tok. Tok.
Aku menghela nafas, aku tau siapa orang yang mengetok pintu itu.
Ayang?
“Lo udah bangun apa belum sih!” Kan, main ngegas aja? Masih subuh lho padahal ini.
“Iya bentar,” kataku. Aku langsung berjalan ke arah pintu, membuka kuncinya, aku buka untuk Ayang yang datang ke rumah. “Sepagi ini?” tanyaku.
Dimas menyelonong masuk begitu saja. Lalu, duduk di sofa. “Nggak. Cuma mau memastikan aja lo bangun apa belum. Udah sarapan?” tanyanya langsung.
Aku menggaruk tengkuk. “Mas?” panggilku gugup. Aku berjalan mendekatinya, kemudian duduk dihadapannya.
Sesi mengadu pun di mulai.
“Pagi-pagi udah kusut aja. Bukannya lo harus bahagia yah, karena dapet kerja baru hari ini, Bi?”