ayang, ini lanjutan

411 63 169
                                        

Besttai, ini bonus;

Besttai, ini bonus;

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[16.2]° After-nya, Aku Harus Gimana?

Sensasi itu nggak tercipta prihal takdir dunia, tapi, bagaimana kamu mencari dan mempermainkan suasana yang ada. Nggak percaya? Emangnya siapa yang nyuruh kamu percaya?

•••

C-A-N-G-G-U-N-G. Besttai, kamu bisa mengeja satu persatu huruf itu? Aku yakin, kamu nggak terlalu bodoh banget untuk menjelaskan kata ‘itu’ sekarang. Jadi, tolong bantu aku untuk menyiapkan obrolan berbentuk apapun. Atau nggak, pembicaraan yang dimulai dengan tanda tanya duluan. Biar, kesannya nggak terjadi apa-apa dan suasana canggung ini kelihatan dibawa enjoy aja.

Please!

Sarannya dong?

Sumpah! Aku nggak terbiasa dengan sikap Dimas yang kaku begini. Terus terang, aku nggak suka liat tingkah konyol dia saat ngomong terlihat gagap Besttai.

“Bi? F-febi, lo... ” Anj! Mulut Dimas bergetar. Aku sih menebak, jantungnya berdetak. Eh? Iya... maksudnya berdetak cepat dan, nggak normal. “Gue... gue tinggal yah?”

Aku mengangguk dan meringis sedih. Kalo bisa putar waktu, aku nggak mau nganu Dimas segala didepan Zelina untuk buat, si dajjal percaya. Jujur Besttai, niatku sebenarnya sih ngelakuin ‘itu’ karena untuk kebaikan Dimas juga, biar nggak deket-deket Zelina. Kamu tau, ‘kan Zelina Kejora itu orangnya kek gimana? Iya, kang ghosting, terus... tingkahnya? Kek janda! Becanda.

Dan, Aku sih ngambil aman aja yah ngelakuin kissed dari bisikan setan buat kebaikan bersama, mungkin... lima puluh persennya untuk kebaikan aku juga. Pikir sendiri!

“L-lo... ck!” Dimas meraup mukanya. Aku liatnya cuma ngerjapin mata doang. “Gue ngantor dulu yah Bi? Soal... ekhem! Soal tadi, maaf, gue kelepasan,” katanya. Aku merutuki diriku sendiri. Wajar Dimas kelepasan, wong aku yang mancing duluan.

Setelah aku ganti kostum memakai seragam kerja, aku kira, Dimas udah pergi, eh... ternyata, malah nunggu di depan meja resepsionis Besttai. Untung, nggak ada Zelina di sini, mungkin dia masih siap-siap, kali. Gawat darurat kalo tuh anak ada disini, bisa-bisa dia beraksi diluar kata normal lagi. Sampe aku-nya yang harus menindaklanjuti, mana kadang-kadang otakku sesat dan nggak tahu diri! Dah, singkirkan pikiran dan lupakan! Aku harus mencairkan suasana sekarang!

Aku memberanikan diri untuk duduk di kursi tunggu samping Dimas, anehnya... jarakku jauh banget. Jauuuh kek orang yang baru ketemuan dan belum sempat kenalan.

Friendgame [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang