ayang, ini part empat puluh dua

200 3 2
                                        

42

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

42. Deeptalk

Katanya, setelah badai hujan akan ada pelangi. Mungkin, kamu nggak tau proses badai hujan itu bisa saja mengundang angin topan yang denail akan kata; kerusakan, sebelum pelangi terbit membawa kebahagiaan.

•••

TERDENGAR nggak percaya tapi, ini nyata. Terdengar mustahil tapi, ada wujudnya. Terdengar nggak yakin tapi, bidikan pembicaraan menggemparkan pertahanan yang aku buat, gugur berangsur memulihkan.

Lo hamil. Anak gue.

Duniaku mati seketika saat omongan itu menyerbu masuk tanpa ketok pintu dulu.

Apa lagi yang diinginkan saat dimana harapan ingin hidup dipandang dua mata, ingin disanjung tanpa di minta, ingin orang sekeliling tau betapa hebatnya aku sukses karena merantau ke Jakarta, ingin menjadi patokan untuk gadis desaku jangan takut mengambil langkah walaupun hanya sebatas tamatan sekolah menengah. Harapan itu seolah-olah membuatku nggak tahu malu, siapa sih sosok Febi itu? Sok-sok-an jauh dari orang tua tau-tau pulang udah badan dua.

Dimana harga diri orang tua yang membenarkan diriku? Dimana lagi aku harus mencari martabat sukses itu?

Nggak ada opsi! Detik dimana Dimas berkata, aku hamil, aku mengklaim seorang Febi Fionita anak rantau Jakarta terbawa arus betapa kejamnya kota ini sampai-sampai aku mengganggap aib untuk diri sendiri.

“Ketertekanan berlebihan tidak baik untuk ibu hamil muda, bisa menyebabkan keguguran hebat. Kita udah kasih resep vitamin sama beberapa obat harap di minum tepat waktu ya, Bu. Diperbolehkan pulang asal kondisi Ibu sudah stabil, saya sarankan untuk Bapak boleh ajak Ibu jalan-jalan sekeliling rumah sakit guna mengurangi stres biar bayi-nya tetap konduktif,”

Entah apa yang berusaha dijelaskan dokter otakku nggak bisa mencerna lebih dalam. Keadaan ini dan situasi sekarang membuat aku hanya ingin, menangis, menangis dan menangis.

“Kalo gitu, saya permisi dulu. Mohon untuk tidak terlalu memberikan banyak beban pikiran kepada Ibu, saya anjurkan untuk beberapa orang nanti dulu membesuk, biarkan Ibu Febi istirahat dulu, Pak.”

Ada kehidupan lain di rahimku. Dan, ada nafas lain di perutku.

Aku tertawa miris Besttai, se-lelucon ini-kah hidup? “Lo brengsek, Mas. Lo brengsek, sumpah!” Berangsur pintu tertutup rapat oleh dokter, aku memandangi Dimas yang terduduk menangis di kursi dekat tempatku berbaring sekarang. Aku melihat selang infus di tanganku, “Apa ini? Infus, baju biru, rumah sakit. Lo bisa jelasin lebih detail, kenapa gue harus ngalamin hal lawak kayak gini, Mas?”

Friendgame [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang