ayang, ini part tiga puluh dua

207 5 0
                                        

32

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

32. Future

Cara pandang orang itu beda-beda. So, jangan merendahkan hasil logika seseorang demi ekspektasi yang kamu harapkan.

•••

ANGIN membelai dengan sentuhan yang amat menyejukkan. Suara nyaring dari berbagai sisi menjadi sebuah saksi jikalau kota Jakarta tak akan pernah mati. Dan kamu semua pasti tau arah pembicaraan aku ini kemana Besttai?

Tebak, aku dimana sekarang?

Yang pastinya di bumi.

“Mas, lo ingat nggak sejak pertama kali kita ketemu?” Aku membuka suara terlebih dahulu. Alih-alih menjawab, Dimas hanya mengangguk pelan. Mataku memandang arah kiri, lalu kepalaku turun menurunkan rasa pada bahu lebar Ayang ini. “Mas... ”

Hening.

“Gak seru. Didiemin doang.” Aku mengeratkan peganganku di pinggang Dimas. “Ih, Dimas ah! Fokus banget sama jalanan! Gue dicuekin! Gak seru!”

Responnya? Nggak perlu aku jelasin lagi Besttai. Dimas ini sering banget nggak nyambung kalo di ajak ngomong kayak gini. Dia malah ketawa!

“Aih, nggak ada yang lucu Mas!”

“Ada,”

Aku menyatukan alis dan mengangkat kepala. Lucu dari mananya? Nggak tau apa orang lagi emosi? “Gaje ah lo Mas!”

“Lo ingat nggak, saat pertama kali lo tatap wajah ganteng gue Bi?” Aih? Dipikir lagi nggak mood, kok dia malah kepedean yah? Makin lama aku nggak merespon Dimas yang... agak laen, makin meroket pula tingkat kepercayaan dirinya. “Lo nggak kedip sama sekali Bi. Yah gue tau gue ganteng, tapi tatapan lo kek... baru pertama kali lihat wujud cowok Bi hahaha,” Ngakak dia Besttai, “yang itu baru pertama kalinya yah. Gini biar gue lanjut. Gue masih ingat, lo kesandung kaki lo sendiri di zebra cross, gue bantu, eh... lo malah nangis.”

Anj! Nggak usah diingatkan juga kali, malu aku. Kronologinya seperti ini Besttai, posisinya aku lagi pake hells dan mata yang cantik ini ketar-ketir dengan klakson kendaraan yang semakin lama udah kayak sangkakala mau kiamat aja. Aku nyebrang sambil lari pake hells yang hampir tiga centi. Bayangin? Usaha waktu itu nggak main-main untuk sampai ke tepi jalanan. Tapi naas, aku punya dua kaki namun masing-masing tidak se frekuensi, aku kesandung kakiku sendiri.

Ditengah aku yang mengingat kejadian lampau, suara heboh Dimas membuyarkannya. Dia ngakak.

Aku menepuk punggung Dimas pelan. “Nggak usah dilanjutin lagi ah. Yang berlalu biarlah berlalu Mas!”

Friendgame [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang