ayang, ini part empat-nya double [17+]

275 4 0
                                        

44

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

44. Physical Touch [17+]

Semuanya itu nggak tentang sesuai harapan, terkadang manusia lupa menyiapkan bekal perjalanan dari sebuah kekecewaan; yaitu mengikhlaskan.

•••

ADRENALIN buruk bagi kaum yang mengutamakan realita tak sesuai harapan. Sebab, dengan pikiran yang  bercabang, terkadang lebih baik memikirkan hal jahat ketimbang hal baik nanti tak sesuai apa yang di bayangkan. Menetralisir kata 'kecewa' ketika di hadapkan oleh situasi lara dan bisa menerimanya.

Mengandaikan ekspektasi akan sesuai realita, eh endingnya sangat mengecewakan rupanya. Bukannya apa Besttai, aku nggak mau lagi membuang waktu untuk bersedih akibat ulah pikiranku sendiri.

Capek banget, udah menguras emosi, energi, nangis nggak berhenti-henti, mana plusnya lagi ingin mati... tapi gak jadi.

Namun, dari semua itu kunci mengatasinya cuma satu; ada orang dibalik rasa kekhawatiran kamu. Contoh yang terjadi di kehidupanku kemarin, berbagai hal negatif yang menyerang dari segala sisi, aku nggak mau membebankan pikiran itu sendiri. Lantas, ingin berbagi. Biar pikiran kacauku nggak membunuh dikemudian hari.

Aku pikir, Dimas sama seperti aku juga karena sama-sama manusia. Bercerita keluh kesah, Dimas menanggapinya. Ketika aku mengutarakan apa yang aku rasa terlanjur iba, Dimas memberikan solusi dengan kata-kata mutiaranya. Sehingga aku sedikit termotivasi untuk memperjuangkannya juga.

Dan lihat Besttai, hasil Dimas meyakinkan aku untuk bertemu oma-nya begitu sempurna. Nggak ada satu kata yang menyingung keadaanku saat itu juga, apa kata Dimas—oma-nya itu orang baik. Dan itu terbukti. Restu dari dia aku dapatkan dengan begitu mudahnya.

Sekarang, malam-malam begini enak banget untuk berdiskusi, mengenai rencana apa besok yang harus kita planning nanti. Sama seperti aku yang di sambut ramah oleh keluarga Dimas, aku juga ingin Ayangku ini di sambut bahagia. Oleh keluarga aku tentunya.

“Kamu nggak mau nanyain sesuatu gitu tentang keluargaku, Mas?” tanyaku. Tanganku memilin cincin di jari manisku. Indah. Kayak orang yang memberinya. Aku tersenyum terkait Dimas melamar ku kemarin dan tanggapan obrolanku tak kunjung dibalas. “Culture shock orang kampung beda sama kota, Mas. Jangan samain cara tanggap mengenai sesuatu, orang kampung sama kota itu jalan pikirannya sama juga. Kamu nggak mau ngelatih mental health kamu dulu gitu sebelum ketemu keluarga aku?”

“Kamu nanya kayak gitu kayak aku nggak tau aja akhirnya gimana, Bi,” Dimas menatap pantulan diriku di meja rias. Semula dia fokus ke layar laptop kemudian berbaring di atas kasurku sempurna, “kamu seneng banget akhir-akhir ini debat,”

Friendgame [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang