ayang, ini part empat puluh lima

188 3 0
                                        

45

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

45. Menuju Restu Keluarga

Aku memilih memperjuangkan kamu mati-matian, daripada menyerah meninggalkan kamu... aku kesepian.

•••

MASA muda itu adalah waktu di mana seseorang mencoba hal-hal baru. Dari yang penasaran sampai berujung rasa bosan, dari yang enggak tahu memberanikan diri, kemudian tertarik menjelajahi, dari yang tadinya polos tiba-tiba jadi suhu pro playerdari segi manapun.

Perubahan itu akan muncul seiringan dengan bertambahnya usia kamu. Cara otak kamu bekerja merespon sesuatu, yang bahkan terkadang membawa pengaruh ke kehidupan kamu. Selanjutnya, prespektif negatif atau positif itu tergantung bagaimana kamu menindaklanjuti sesuatu.

Proses kata sahabat menjadi kekasih, contohnya. Nggak di sangka-sangka, dua instan yang dahulu kala saling menistakan, mengejek satu sama lain, kini berubah jadi sepasang raga dan jiwa?

Aku tertawa. Empu di sebelahku terlanjur kaget, lantaran sikapku yang akhir-akhir ini gampang berubah. Aku melihat jam pukul, 23.45. Beralih menatap jam di dinding aku malah menghentikan tangan Dimas yang mengepuk-epuk punggungku.

“Nggak bisa tidur, Mas,” mataku bersinar membuka kelopaknya besar-besar. Nggak ada pertanda ngantuk di sana, “pengen... ”

“Ih. Apanya?” Masa, Dimas nggak ngerti sih? Er... maksudku, ini kan juga bagus untuk perkembang janin. Aku pernah baca di situs, berhubungan intim itu akan membuat detak jantung janin akan lebih aktif. Bukannya, kalo kek gitu janin akan merasa bahagia, 'kan? “Tidur, kamu nggak boleh begadang, Sayang,”

“Tapi, 'kan, Masayang... ”

Dengan pikiran aku yang nggak karuan malam ini, Dimas malah tersenyum tanpa membuka matanya yang tertutup.

“Nggak boleh! Aku nggak mau nyentuh kamu lagi sebelum menikah. Kamu boleh peka terhadap kondisiku, tapi... boleh nggak, Bi, nggak usah mancing-mancing aku dulu?”

Ini ucapan sarkas, Besttai. “Ucapan kamu masuk kategori kata... pendirian atau, hanya sekedar peringatan, Mas?”

“Pendirian.”

“Aku pernah baca, kalo berhubungan seksual itu akan memberikan dampak positif bagi bayi dan ibu yang mengandung, Mas. Kamu nggak mau ngelakuin itu untuk aku?” Otak, kamu kenapa sih? Kesannya kok, pengen banget gitu? “yah, walaupun kita belum sah jadi suami istri sih,”

“Nah itu tau,” katanya, “jangan menormalisasi, 'kan hal yang belum sah, Bi. Aku tau kemaren itu salah, tapi akan lebih salah lagi kalo aku mengulang hal yang sama. Biarpun apa kata kamu bener, hubungan intim akan berdampak positif pada janin, bahkan di anjurkan oleh dokter, tapi... jatuhnya, kalo kita belum nikah perbuatan itu salah, Bi. Benar oleh mata medis, belum tentu di mata Tuhan. Kamu mau buat aku berdosa banget di mata Tuhan?”

Friendgame [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang