Besttai, terjebak friendzone setelah putus dari mantan yang memiliki nilai +good, apakah bisa mempermudah melewati jenjang dunia per-move-on-an?
Pertanyaannya, kamu ikhlas enggak kalo mantan yang memiliki nilai A+ dari segi keseluruhan jadian lagi s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
20. Aku Diam Ajalah!
Cari moment yang langkah sama doi itu susah. Maka dari itu, coba lo loncat dari kendaraannya pas ngebut-ngebutnya. Kek Febi contohnya:)
•••
CIE... yang nggak sabaran liat aku. Baik-baik aja apa enggak? Mati apa enggak?
Aku tersentuh banget Besttai sama sikap kamu semua yang perhatian kayak gini. Nggak perlu khawatir, aku orangnya kuat kok. Biarpun aku loncat dari rooftop Green El Hotel atau nggak loncat dari menara kurung Rapunzell, aku akan tetep baik-baik aja dan, nggak bakal mati juga. Aku heran sih sama diriku sendiri, kaki udah mati rasa dan bisa-bisanya pas malam tadi aku tertawa? Sampe Dimas yang lihat aku aja menganggap aku ini orang gila?
“Hey!Sh... ah, Febi? Heiii, jangan ketawa begooo! Kaki lo berdarah! Lagi dan lagi Febi, aish!”
Aku ingat betul, akhir ucapan Dimas sebelum dia ngambekan, kurang lebih seperti itu. Dan, kamu semua tau tanggapanku seperti apa? Aku bener-bener nggak tahu ekspresi lagi selain, ketawa. Iya, ketawa terus sampe pulang. Aku tuh semalam mau nangis, tapi tubuhku nggak merespon, otakku stuck nggak bisa lagi berpikir, makannya saran yang diberikannya ketawa aja. Hem, topeng mukaku emang udah pro banget deh keknya.
Reflek, kepalaku bergerak mengiyakan. Heh!
Dan sekarang, gara-gara insiden itu, aku nggak bisa berjalan. Alias, lumpuh. Eh? Bukan astagfirullah! Orang yang nggak bisa jalan karena kecelakan, itu apa yah namanya? Ah. Ribet! Pokoknya namanya, gitulah!
Aku tadi ngomong apaan yah, kek... unfaedahbanget hahaha. Udahlah, skip!
Ditemani bacotan Dimas semenjak pulang kerja sampe tadi pagi, dan alhamdulilah sekarang nggak lagi. Btw, dia nggak balik ke kosannya. Dimas menginap di kamarku dengan tidur di sofa. Gara-gara aku kesakitan tadi subuh, Dimas kelebihan tidur namun sebaliknya, makannya dia tertidur pas jam mau menunjukan pukul delapan, sampe sekarang—jam sepuluh. Dan dia udah bilang; nggak bakal kerja sebelum liat aku sampe sembuh-sesembuhnya. Aku sih menolak keputusannya, namun aku berpikir lagi; kalo bukan dia yang jagain aku kayak gini, terus, siapa lagi? Cuma Dimas yang rela-rela aku susahin kayak gini. Ya udahlah, toh, aku butuh dia sekarang, ngapain gengsi?
Mataku nggak beralih menatap Dimas yang tertidur pulas. Aku ada hasrat ingin membangunkannya dengan cara antimainstreamnamun, aku kasihan melihat dia terlelap begitu sampe mangap. Jadilah, semenjak aku terbangun pukul tujuh, aku cuma diam, kalo nggak main hp yah menatap seisi kamar dengan tatapan, kosong. Sama kek perutku yang kosong.