ayang, ini part dua puluh satu

260 46 191
                                        

21

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

21. Ini Pertanda Apa?

Cinta itu misterius. Dia nggak kasih tau bagaimana kamu memulai prolog. Tapi... dia kasih tau kamu, mengapa dan kapan kamu harus mengakhiri dengan sebuah epilog.

•••

C'MON... Besttai. Kapan nih punya doi? Setidaknya adalah kali... target komitmen sama si ‘dia’ yang lagi baca Friendgame juga. Masa, selama kamu semua ngikutin kisah aku sampe sini masih... aja, menjomblo. Nggak ada niatan lepas status lajang dan ganti status ke pacaran gitu? Sabilah, kalo gabut, selain nunggu Friendgame di- up, kamu-kamu semua bisa memupuk perasaan doi biar kuat menjalani hidup. Kek, jalan-jalan sambil ngebucin, contohnya.

Apa sih? Aku nggak jelas yah? Udahlah, liatin aja aku berulah!

“Ayang. Sini!” panggilku ke Dimas yang masih setia duduk di sofa dekat jendela. Aku ada rencana buat memupuk hati Dimas biar kedepannya... jujur, nggak lagi ngode-ngode pake kata-kata yang diakhiri bercanda. Kenapa, kaget yah aku bilang begitu? Udah aku bilangin, ‘kan, aku itu orangnya pekaan! Jadi, mustahil banget kalo aku nggak tahu perasaan Dimas sekarang terhadap... aku Besttai. “Ayang?”

Persahabatan ini, nggak bisa dibilang seratus persen murni.

“Hem,” Dimas cuma menatapku sebentar.

“Mas. Came here!” Aku tau sikap Dimas emang agak beda dari dulu terhadap aku, makannya... aku harus memastikan, akan apa hal itu. Ngerti nggak Besttai? “Ih Dimas ah! Cini cini!”

Dia mengalihkan pandangannya tiga detik ke arahku, lalu, sedetik kemudian dia memalingkan lagi wajahnya ke layar laptopnya. Keknya, lagi ngurusin duit perusahaan deh. Yakin aku.

“Bentar,” katanya, dia tatap aku lagi, “emangnya mau ngapain?” tanyanya.

“Lo sibuk banget yah?” Aku malah balik tanya. Nggak enak juga sebenarnya sih, ganggu Dimas kerja mana nggak masuk ngantor lagi. “Ya udah deh, selesaiin dulu. Nanti sini, deket gue yah?”

Dimas lihat aku. Cuma nggak kasih respon.

“Ada yang special nih Mas. Gue perlu ngomong, kalo... pekerjaan lo dah kelar.” Aksi harus dilaksanakan bukan? Walaupun sedikit tertunda, tapi bukan berarti nggak bisa menyampaikannya.

Dimas menaikan alis kanannya. Awas, dia begitu udah masuk tanda-tanda mencurigakan Besttai. “Lo ngomong kek... mau ngapain aja deh Bi.”

“Emang lo mikirnya mau ngapain?” Hening. Aku menggeleng menghanyutkan. “Mas... ” panggilku.

“Hm.”

Friendgame [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang