Besttai, terjebak friendzone setelah putus dari mantan yang memiliki nilai +good, apakah bisa mempermudah melewati jenjang dunia per-move-on-an?
Pertanyaannya, kamu ikhlas enggak kalo mantan yang memiliki nilai A+ dari segi keseluruhan jadian lagi s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hehe disclaimer dulu besttai! "Zionisme" di sini murni nama perusahaan fiktif di ceritaku ya. Gak ada maksud nyinggung siapapun. Yuk kita fokus ke ceritanya ajaa. Yang tau kata 'Zionisme' didunia nyata, pasti tau makna dan maksud dari kata tersebut, tapi disini ini hanya fiktif besttai jadi... enjoy my story✨
8. Sadar Diri
Hei, yang hanya tamatan sma semangat yah, buat cari biaya kuliah. Ingat, hidup sekarang nanyain derajat.
•••
“LEMES banget, kenapa hm?”
Aku nggak perlu memikirkan pertanyaan apa yang tepat untuk suasana hening yang kayak gini? Mengedarkan pandangan, menatap pencakar langit Jakarta sebagai tujuan. Berusaha untuk tidak memikirkan obrolan Dimas yang membuat puyeng berkepanjangan. Aku malah menangapi pertanyaan simpel dia dengan berdecak pelan.
Karena kentara dengan muka aku yang terlanjur enggak mood, Dimas tidak memperpanjang pembicaraan dengan mencari topik dari sebuah pertanyaan. Aku harap, Dimas mengerti untuk, nggak dulu, mengajak ngobrol diriku.
Budak over thinking kalo di ajak bicara tapi enggak sesuai sama kehendak bakal ada perang yang enggak bisa di halang.
Perlu kamu semua ketahui, sekarang dan untuk beberapa jam lagi, moment ketar-ketir ku dimulai ketika... tampang Papi Dimas menyapa mata dengan aku yang ingin melamar kerja.
Aku menghela nafas panjang, berat. Besttai, aku pergi bersama Dimas—yang kebetulan, enggak ding, yang sengaja alam paksa untuk menjadi orang dalamku ketika saatnya tiba. Mungkin, karena Dimas nggak mau aku terlihat kurang rapi, dia nggak segan-segan membawa mobil termahalnya walaupun aku sering mencicipinya. Tapi, sensasi mobil ini emang luar biasa. Aku masih kagum dan merasa beruntung menaiki Porsche 911 Turbo S dengan kisaran harga 5,6 milyar. Aku jadi menghalu malang, duit itu keknya mampu membiayai hidupku seumur hidup.
Miris.
Mataku bergerak malas. Aku tuh paling sensi banget kalo lihat yang begini. Simple sih, nggak mau lihat ya udah colok mata dan berlangsung jadi cewek buta selamanya.
Intinya gini, kota Jakarta emang mempunyai fakta lalu lintas yang lumrah, yaitu... macet yang berkepanjangan.
Kondisi matahari yang baru saja menampakkan diri menambah kadar kesangsian terhadap kekesalan orang-orang. Bunyi berbagai klakson macam-macam kendaraan membuat standar kekesalan itu naik drastis. Sehingga, beberapa orang mengumpat dengan penuh kesadaran. Aku membuka jendela mobil, begini umpatannya.
“Woi, jalan kampret!”
Tin!
“Make nih orang! Tau peraturan lalu lintas enggak sih, goblok!?”