ayang, ini part dua puluh enam

219 24 140
                                        

26

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

26. Gak Benci, Tapi Benci Kalo Ketemu Lagi!

Cinta itu dicari. Kalo nggak dicari nggak bakal datang sendiri!

•••

AKU?













Cantik dan baik hati Besttai. Aku nggak bakal minta pendapat kamu semua kalo diriku ini emang sedemikian rupa. Karena apa? Sebelum kamu semua menyadari, aku terlebih dahulu sadar diri. Udah jadi kenyataan kalo aku itu emang... good looking and good hearting.

Ehehehem, jadi malu:)

Kenapa? Nggak suka? Gue peduli emang? Cieeee, yang kesel. Siapa? Tuh yang ngerasa. Nggak kok, bercanda.

Wait... keknya, aku ketularan Dimas nggak sih?

Duh Besttai, simfoni otakku langsung mengarah pada si Ayang yang jauh dari mata. Aku mulai mengabsen kata... “yang bikin naik tensi” akhir-akhir ini yaitu: ber-can-da, mana nggak pernah alpa pula. Aku, ‘kan jadi gelisah. Hoho.

And... satu lagi. Selain kasih beban pikiran lewat kata-kata, si Dimas ini beri ekspetasi-ekspetasi bad tentang keadaannya. Sebelum aku menjalankan kewajiban di dunia pekerjaan hari ini, Dimas aku kasih makan malah di muntah Besttai. Gimana aku bisa tenang coba?

Kasih aku saran dong, aku harus ngapain Dimas lewat long distance sekarang? Jujurly, nggak fokus aku kerja kalo kek gini.

“Na?”

“Em,

“Zelina?” Kentara banget kalo aku lagi nggak baik-baik aja. Awas, Zelina nggak peka? Minimal curhat lah. “Oi!”

“Ck, apa?” Zelina menatapku. Pantas nggak, Zelina pasang raut jelek kayak orang mulung dan nggak enak dipandang kek gitu? “Gabut Bi? Jangan ajak-ajak gue, gue tebas miring pala lo.”

Anjir, sans kenapa. “Handle kerjaan gue dong,” Jangan lupakan pupy eyes yang meluluhlantahkan. “Darurat Na. Ini menyangkut hidup dan mati gue. Yah?”

“Paan sih!”

“Ih jangan pasang raut kek gitu dong. Gue butuh pertolongan dadakan nih, sumpah Na! Gue harus pulang cepat-cepat, kondisi Ayang sekarat!”

Ngadi-ngadi lo!” Zelina memutar bola mata malas, “dah dah dah. Gaje! Gue capek dan menolak tawaran membantu orang. Jelas?” Nggak pa-pa, Zelina butuh yang namanya bujukan. Masa, perjuangan pertama udah langsung nyerah?

Taktik pertama. Pijat bahunya. “Gini, Dimas sendirian di rumah dengan kondisi nggak memungkinkan bestie. Gue kasih makan, ditolak sama perut dia, alih-alih ketelen masuk pencernaan malah muntah. Kalo Ayang nggak makan, ntar... ck, ayolah Na, gue pening banget ini mikirin Dimas terus dari tadi.” Taktik ke dua, kasih asupan berbentuk duit supaya dia percaya. Aku menghadapkan tubuh Zelina, “ini, ‘kan udah jam sembilan yah, masih satu jam lagi mau balik. Kali ini aja Na, bantu gue satu jam doang. Gue kasih gopey besok. Janji!” Hipnotis matanya walaupun aku bercanda.

Friendgame [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang