Enjoy ♡
Banyak sekali orang berlalu lalang disini, aku cukup gugup, apalagi setelah berpisah dengan ketiga saudaraku di ujung lorong sana. Aku harus bisa menemukan kelas baru sendiri, karena Kak Yoshi, Kak Mashi dan Haru pun sama sibuknya denganku. Mereka sama-sama melakukan pengenalan di lingkungan sekolah karena kami adalah murid baru.
Perlahan tapi pasti, aku berjalan menyusuri lorong dengan kaku, kenapa semua orang memandangku aneh? Aku tidak mau berbohong, baru saja kudengar bisikan-bisikan beberapa siswa yang membicarakanku sambil tertawa. Lebih baik kuabaikan semua itu dan mempercepat langkah hingga sampai di tikungan pertama, dan aku berhasil melewati para siswa yang sibuk menggunjingku. Rasanya lega sekali.
Setelah menemukan informasi tertulis bahwa kelas sebelas ada di lantai tiga, akupun melanjutkan perjalanan dengan menaiki tangga, benar-benar tidak sadar kalau pojok yang aku lewati tadi adalah sebuah lift. Sambil menaiki satu-persatu anak tangga, aku terus memberi semangat kepada diri sendiri dan berharap agar anxiety ku tidak kambuh, karena ini adalah kali pertamanya Sahi berkeliaran seorang diri.
Sekitar dua puluh lima menit aku mengelilingi bangunan yang luar biasa besar ini, sampai sekarang pun aku masih belum bisa menemukan dimana letak kelas DKV 1 berada. Semua orang pasti menyarankanku untuk bertanya, tapi maaf, aku tidak mau. Pandangan orang asing terlalu menakutkan dimataku.
Netraku terus melirik ke setiap ruangan yang dilewati, dan ternyata aku tersesat ke lorong khusus laboratorium komputer. Tanpa sengaja aku melihat dua orang siswi yang membawa ember sambil tertawa di pertigaan sana, uhm ... Mungkin itu lorong kelas. Dengan langkah yang sedikit tergesa, aku berhenti dan mengintip kearah kiri, ternyata benar! Bangunan ini ternyata deretan kelas sebelas. Jumlah murid di kawasan ini pun tidak sebanyak di lantai bawah, baguslah, ini sedikit menenangkanku.
Setelah mengatur nafas, aku melanjutkan sesi berjalan-jalan ini yang sepertinya sebentar lagi akan berakhir. Setelah beberapa meter melangkah, lagi-lagi aku disuguhi tatapan yang sama seperti yang siswa di lantai bawah berikan padaku, hal ini membuat jantungku berdebar dua kali lipat, bulu kudukku meremang dan beberapa butiran keringat dingin mulai terasa, tolong jangan kambuh sekarang...
Tanpa sadar aku berjalan sambil menunduk, lalu seseorang tiba-tiba ada di hadapanku dan membuatku tak sengaja menabrak dadanya. Karena terkejut, akupun mundur dua langkah dan memberanikan diri untuk menatap orang ini. Laki-laki yang barusan aku tabrak tersenyum jahil.
"Hayoo anak baru, lo ngapain mengendap-endap? Mau maling?"
Tuduhan itu membuatku membelalak seketika. "A-ah? Enggak, Sahi gak pernah maling."
Lelaki berkacamata itu tertawa mendengar latahku, tiba-tiba ia memberikan tangannya yang kosong, mau tak mau aku harus menerima jabatan tangannya, karena kalau ditolak berarti itu tidak sopan.
"Kenalin gue Jaehyuk."
"Kanemoto Asahi."
Dengan tangan yang masih tertaut, Jaehyuk memicingkan matanya menatapku, kening mulusnya tampak mengerut seperti sedang berpikir.
"Lah, orang Jepang rupanya. Kemaren kemaren setelah lo dan tiga orang lainnya daftar, gue dapet permintaan dari salah satu abang lo, kalo dia mau nitipin lo ke gue. Kebetulan gue lagi rapat OSIS pas kalian daftar hari itu, dan kebetulan juga gue ketua kelas disini. Selamat datang, Asahi. Ini kelas kita."
Oh, wow. Sekarang giliran aku yang memicing, siapa yang menitipkanku pada orang ini? Jangan-jangan diantara Kak Yoshi atau Kak Mashi, mereka sudah tau dari awal siapa Jaehyuk ini.
"Bang Yoshi yang bilang, cepet masuk, gue harus cari anak-anak gila dulu sebelum guru dateng. Emang kampret dah, giliran bel bunyi malah ngilang." Ucapnya sambil memanggil seorang siswi di dalam kelas, lagi-lagi aku dititipkan pada siswi itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIAMOND
Fantasy♕ TREASURE JAPAN LINE ft. CHAN, MINHO, HYUNJIN, AND FELIX FROM STRAY KIDS ♕ Ikatan darah adalah takdir, dan takdir adalah kutukan. Di dunia di mana kemampuan adalah segalanya, sebuah dendam memicu konspirasi yang mengikat mereka pada pertumpahan dar...
